Ada Kakak

Ceklek

Kayla membuka pintu ruang kerja Januar, ia melihat sang kakak sedang membaca berkas-berkas yang ada di depannya.

Januar melihat ke arah pintu, melihat sang adik yang sedang berdiri dan menunduk ketakutan. “Come,” ucapnya.

Kayla menutup kembali pintu ruang kerja tersebut, ia berjalan ke depan sang kakak, dan duduk di bangku yang di depan meja kerja Januar.

“Am i scaring you, little girl?” Tanya Januar kepada sang adik dengan suara rendah.

Kayla sangat takut dengan sang kakak, apalagi tatapannya yang sangat tajam itu. “Iyya,” Jawab Kayla dengan pandangan yang masih kebawah.

“Apa kakak di bawah situ?” Tanya Januar.

Kayla menggeleng lalu mengangkat kepalanya dan menatap mata tajam sang kakak. “I'm sorry,” lirih Kayla dengan nada yang terdengar sangat imut.

Januar tersenyum mendengar suara imut sang adik, dia sama sekali tidak berniat untuk membuat sang adik takut. “Mana tangan adek?” Tanya Januar.

Kayla mengangkat kedua tangannya, meletakkan di meja kerja Januar. Januar meraih tangan mungil sang adik, lalu mengecupnya bergantian. “Tangan ini, tidak boleh sedikitpun berdarah, atau kena darah. Tangan ini sangat berharga bagi Kakak-kakak kamu, karena kita sayang sama kamu,” ucap Januar dengan lembut, membuat hati Kayla sedikit tenang.

Kayla mengangguk. “Bukan Kayla kakak,” Ucap Kayla seakan sedang mengakui sesuatu.

Januar mengangguk. “I know sweet heart, besok Kak Tristan yang ke sekolah oke?”

“Ottay!” Seru Kayla semangat, sekarang dia tidak takut lagi dengan Januar.

Januar merentangkan kedua tangannya. “Hug me please,” mohon nya kepada sang adik.

Kayla tersenyum lebar lalu berdiri dan menghampiri Januar. Ia masuk ke dalam pelukan sang kakak, pelukan yang sangat nyaman dan aman.

“Kamu yang paling berharga buat kakak,” ucap Januar seraya mengecup kening sang adik.

Kayla mendongakkan kepalanya menatap Januar. “I know,” jawabnya dengan sombong membuat Januar terkekeh.