berani-beraninya

“Berani-beraninya kamu menantang saya,” murka Johnny ke Lucy.

Lucy memundurkan badannya sedikit demi sedikit. “Ngapain takut Lo manusia bukan tuhan,” tangkas Lucy.

Johnny semakin marah mendengar ucapan Lucy. “Dimana sopan santun kamu?” Tanyanya.

“Gue gak pernah di ajarin sopan santun, keluarga gue udah mati,” jawab Lucy dengan santai. Johnny semakin murka ia melayangkan tangannya untuk menumbuk lucy. Namun sayang Lucy sangat lihai, dengan cepat ia menghindar.

Perkelahian di mulai, mereka saling menjatuhkan pukulan, tonjokan satu sama lain.

Dugg

Dengan satu tendangan Johnny berhasil terlempar sedikit jauh oleh Lucy. Lucy tertawa terbahak-bahak seakan-akan mengejek. “Look, masa kayak gitu mau rebut vaksin dari gue?” Tutur Lucy melihat ke arah rombongan atasan Choi.

Johnny terbangun, ia mengusap bibirnya yang dialiri darah. “Jangan harap saya akan mengasihani kamu, karena kamu perempuan,” marahnya.

“Gue gak pernah minta di kasihani, terlebih lagi sama Lo,” jerit Lucy. Dengan murka Johnny menendang perut Lucy. Kesialan ada di pihak Lucy ia tak sempat menghindar, Lucy terlempar punggungnya mengenai sebuah container di belakangnya.

“Arghhhh shit,” ringisnya.

Atasan Choi yang melihat itu tertawa puas, namun tidak dengan Taeyong dan Winter. Mereka tau bahwa yang sedang berkelahi sekarang adalah Johnny dan Lucy, yang merupakan saudara kandung.

Johnny berjalan menghampiri Lucy yang terduduk lemah, ia mengeluarkan sebuah pistol dari saku jasnya.

“Serahkan sekarang,” pinta Johnny dengan tangan mempoint pistol tepat di depan kepala Lucy.