Confess

Kini aku sudah berada di mobil, serepti yang Pak Johnny bilang ia benar-benar ingin mengantar aku pulang ke rumah.
Di mobil keadaan hening, aku sama sekali tidak berani menatap atau berbicara dengan pak Johnny. Tidak tau kenapa, atmosfer di dalam mobil terasa beda dari biasanya.
“Kamu mau makan di mana Raania?” Tanya Pak Johnny memecahkan keheningan.
Aku menoleh ke arah pak Johnny yang sedang mengendarai. “Uhmmm ikut bapak saja, saya gak ada alergi sama sekali pak,” Jawabku lalu kembali menatap ke luar Jendela.
Aku dapat melihat pak Johnny menghela nafasnya, lalu ia melirik ke arahku sesaat. “Jangan panggil Pak di luar kantor Raania, saya tidak setua itu, panggil saja Johnny, atau apapun yang penting kamu nyaman,” kata Pak Johnny membuat ku sedikit terkejut.
Aku memainkan jari-jari ku gugup, aku takut perasaan ku terhadap Pak Johnny semakin besar, aku takut untuk jatuh cinta sendirian.
Gimana tidak? Setiap harinya hampir sebulan aku bekerja dengan pak Johnny, aku selalu mengurusnya bahkan aku memakaikan dasinya. Wanita mana yang tidak jatuh cinta?!
Pak Johnny meraih sebelah tanganku membuat aku mati kutu di buatnya. Ia mengelus lembut tanganku dengan tangan yang satu lagi masih di gunakan untuk menyetir, gak kuat.
Aku berusaha menarik kembali tanganku, namun sia-sia genggaman tangannya sangat kuat.
“Izinin saya buat deketin kamu ya?” Ucapnya tiba-tiba.
Hah? Gimana? Maksudnya aku gak jatuh cinta sendirian?
“M-maksud bapak? Ah maksudnya Johnny,” tanyaku kebingungan.
Ia menghela nafas, lalu memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, lalu mengubah posisi duduknya dengan menghadap ke aku, tentu saja dengan tangan yang masih menggenggam sebelah tanganku.
“Kalo saya bilang saya jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu gimana?” Tanyanya tiba-tiba, dapat ku pastikan jantung ku akan lompat keluar saat ini juga.
Aku menunduk, namun pak Johnny menarik daguku membuat netra kita ketemu satu sama lain.
“Gimana?” Tagihnya.
Aku mengangguk pelan. “S-saya juga,” ucap ku dengan pelan. “Saya izinin,” sambungku tentu saja dengan suara kecil. Namun pak Johnny masih bisa mendengarnya.
Senyum di bibir pak Johnny terukir, sangat manis gimana aku gak jatuh hati?!
“Terimakasih,” ucapnya seraya mengecup punggung tangan ku. Muka ku memerah, lalu menarik paksa tangan ku dan membuang muka ke arah jendela.
“K-kan belum di izinin cium-cium,” cicitku membuat Johnny merasa gemas dengan tingkahku.
Ia kembali menjalankan mobilnya seraya terkekeh. Kini tangannya berada di kepala ku mengacak pelan rambut ku.
Aku menoleh ke arah pak Johnny seraya mengerucutkan bibirku merasa kesal karena kejahilannya.
“Iya-iya maaf hahahaha,” kekehnya.