Dapat
Lucy mencari-cari dimana keberadaan bom tersebut. Sial atasan Choi, ia sangat ingin menyayat badannya hidup-hidup. Ia sangat kesal kepadanya.
“Dapat !” Seru Lucy ketika melihat cahaya merah berkedip-kedip.
Jeno bernafas lega ketika mendengar seruan Lucy. “Bahaya?” Tanyanya.
“Coba Lo tanya ke tukang roti, ada bom yang gak bahaya?” Tanya Lucy kembali dengan nada kesal.
Jeno hanya cengengesan mendengar pertanyaan Lucy. “Kayaknya ini bom bakalan hitung mundur, kalo Lo angkat kaki Lo dari situ,” Jawab Lucy.
“Berapa detik?” Tanya Jeno.
“Anggap aja tiga detik, dalam hitungan ke tiga Lo lari ya,” seru Lucy. Jeno mengangguk.
“Tiga,” ucap Lucy mengitung langsung ke tiga dan dia segera berlari ke pintu keluar.
Dengan muka mengejek ia membalikkan badannya. “Lari lah bodoh,” cicitnya.
Jeno merasa kesal, mana ada cara menghitung seperti itu. “Lo yang bodoh,” balas Jeno dengan nada sedikit tajam.
Jeno menarik nafas perlahan, lalu membuangnya melalui mulut dengan kasar. “Tiga,” serunya, lalu ia segera berlari menghampiri Lucy.
Jeno merangkul pundak Lucy, lalu mereka berdua berlari keluar dari bangunan tersebut disusul dengan ledakan di belakangnya.