Day 2

Malam sebelum aksi

“Issss kok di matiin!” Protes Kayla ketika Januar mematikan telepon dari Kenzo.

“Tidur atau kakak gamau bantu kamu?” Kayla kesal dengan Januar, ia kembali tidur di samping sang kakak.

“Padahal bukan Kayla yang minta!” Seru Kayla dengan nada kesal.

Januar terkekeh melihat tingkah sang adik. “Jadi siapa yang minta hayo?” Tanyanya.

“Queen lah,” Jawab Kayla tegas.

Januar mengacak-acak rambut sang adik merasa gemas dengan tingkah Kayla. “Memang Queen bukan kamu hm?”

Kayla menghela nafas. “Iya sih tapi ihhhhhhhh,” jawab Kayla memprotes.

“Tidur atau kakak suruh kak jef sama kak daf balik?” Ancam Januar walaupun itu candaan, namun Kayla sedikit takut.

Detik kemudian Kayla memejamkan matanya. “Loh udah tidur?” Tanya Januar keheranan.

Kayla mengangguk. “Udah,” Jawabnya dengan polos.


Paginya

Kayla keluar dari rumahnya menuju gerbang depan di ikuti oleh Jeffery.

“Adek, jangan lari-lari nanti jatuh,” Kata Jeffery sedikit teriak.

Kayla tidak menghiraukan ucapan kakaknya ia terus berlari hingga sampai di depan rumah mereka.

Rumah keluarga Kayla memang bisa di bilang sangat besar, jarak dari gerbang utama menuju ke rumahnya aja bisa dibilang sangat jauh. Biasanya mereka akan menggunakan mobil golf, namun hari ini Kayla sangat bersemangat untuk berjalan sendiri.

“Buka gerbang,” ucap Kayla seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“Pagi non Kayla,” sapa salah satu bodyguard yang ada di sana.

“Pagi pak, ayo buka gerbangnya!” Perintah Kayla dengan semangat.

Jeffery hanya terkekeh melihat tingkah sang adik. Ia memberi kode ke para bodyguard di sana untuk membukakan gerbangnya.

Perlahan gerbang besar rumah itu terbuka. Kayla melihat Elvano yang sudah menunggu dirinya di luar. Tidak sendirian, ternyata Kenzo benar-benar ingin menjemput Kayla.

“Wah, ada 2 nih yang jemput adek, adek mau sama siapa?” Tanya Jeffery.

Kayla menghampiri Kenzo lalu menyapanya. “Morning ezo, Kayla berangkat sama kak El ya! Ezo sama kak Haris aja, kata kak Haris motor dia rusak, bye!” Kayla berjalan menuju Elvano, tidak lupa mereka berdua pamit ke Jeffery sebelum benar-benar berangkat.

“Cinta itu memang penuh pengorbanan ya bro,” canda Jeffery.

Kenzo hanya tersenyum canggung, lalu ia berpamitan ke Jeffrey.

Jeffery sedikit bingung. “Bukannya Haris mau berangkat bareng?” Monolgnya.