Help me

Lucy yang tergeletak lemas ia berusaha sekuat tenaga untuk duduk, namun nihil dia tidak mempunyai tenaga, darah tidak berhenti keluar dari segala sisi tubuhnya.

Lucy menyeret tubuhnya mendekati tas yang ia bawa, ia ingin meredakan rasa sakit dan rasa sesak akibat trauma yang kembali datang. “Eugghhhh,” lenguh Lucy sekuat tenaga ia meraih tas nya.

Usahanya tidak sia-sia, ia mengeluarkan semua isi tasnya, melihat permen yang ia beli dengan Johnny membuat hatinya tersayat lebih sakit, ia mengambil permen tersebut namun tergelincir karena tangan Lucy tidak kuat untuk menahan.

Permen tersebut jatuh ke lantai mengenai darah yang membanjiri lantai. Namun sekuat tenaga Lucy meraih satu permen tersebut dan memasukkan ke dalam mulut, walaupun aneh rasanya tapi rasa sesak di dada Lucy sedikit berkurang.

Lucy menangis tersedu-sedu, ia tidak tau untuk melakukan apa sekarang. Ia hanya harus menunggu Malaikat menjemputnya sekarang.

“Sorry Jen....” Lirihnya.

Mengingat nama Jeno, Lucy melihat sekitar mencari keberadaan handphonenya. Setelah mendapatkan handphone tersebut, ia langsung mencari nama Jeno. Walaupun beberapa kali tangannya terjatuh karena lemah, namun Lucy terus berusaha.

“Jen...” Sapa Lucy setelah Jeno mengangkat telponnya.

“Kenapa Lo telpon gue? Disuruh? Mau nangkep gue? Orang lemah kayak Lo semua berani lawan BIN?” Tanya Jeno bertubi-tubi dengan nada yang sedikit emosi.

Lucy yang mendengar hak tersebut justru terlihat kaget, ia sama sekali tidak ingin melakukan hal itu ke Jeno.

“Help me...” Mohon Lucy dengan suara tangisannya.

“Gak usah ngedrama.”

“Jen...”

“Setelah Lo jual nama gue ke Johnny, sekarang gue ketahuan, Lo mau buat gue mati hah?” Bentak Jeno.

“M—maksud Lo?” Tanya Lucy kebingungan.

“Ck..” decaknya, “gak usah sok belagu, winter bilang ke gue kalo jalan sama Johnny kan? Apa yang dia kasih? “Her dick hah?” Sarkas Jeno.


Perkataan Jeno membuat Lucy menangis lebih keras, dadanya semakin sesak, bahkan permen tidak bisa memulihkan. Perkataan Jeno lebih sakit daripada cambukan yang atasan Choi berikan kepadanya.

“G—gue gak per—”

“Lo sama aja kayak pelacur kayak ibu Lo dulu Lucy, jalang, murahan Lo tau itu? Gak usah telpon gue lagi sekarang kita musuh, gue bakalan bunuh Lo suatu saat nanti,” ancam Jeno memotong perkataan Lucy.

Setelah itu sambungan telepon mereka terputus, Lucy menjatuhkan handphone dan tangannya ke lantai.

Apa lagi setelah ini? Apa yang akan Lucy terima? Masa lalu suram membuat masa depannya begini. Lucy meraih sebuah pistol yang ada di sampingnya.

Ia menarik pelatuk pistol tersebut, lalu mempointkan tepat di dalam mulutnya.

“Selamat datang neraka,” lirih Lucy seraya memejamkan matanya.

Dorr....