How?
Lucy dan Jeno segera memasuki markas, dimana Lucas dan Yuqi sudah menunggu bersama dua Agent Irregular yang ikut dengan mereka.
Netra mereka bertemu satu sama lain, ketika Lucy dan Jeno masuk ke ruangan dimana mereka sudah menunggu. Lucy tersenyum simpul ketika melihat Agent Irregular tersebut ialah Jaemin dan juga Renjun. Dia sangat tau, bahwa tidak mungkin Haechan dan Winter akan berada di pihak Mereka.
“How?” Tanya Jeno seraya duduk di sofa di susuli oleh Lucy.
Jeno menatap Lucas, namun Lucas menatap kedua Agent Irregular untuk menjelaskan apa yang terjadi. Sedangkan Lucy dan Yuqi, mereka hanya menyimak.
Renjun menoleh ke Jaemin seakan-akan menyuruh Jaemin menjelaskan semuanya. Jaemin menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
“Ini memang sudah di rencanakan, atasan Choi dan juga Agent regular. Mereka ingin kita terpecah belah,” kata Jaemin menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Renjun menatap Jeno dan Lucy bergantian, ia kembali menjelaskan dengan yakin. “Yang kalian tau bahwa presiden Lee terlacak di lab tersebut, itu tidak benar. Itu hanya strategi agar kalian terbunuh dalam ledakan-” ucapan Jaemin terpotong.
“Bom?” Tanya Jeno memotong ucapan Jaemin.
Jaemin mengangguk. “Ya, bom. Ketika kalian terbunuh, maka mereka akan menggunakan kalung itu untuk memancing presiden Lee keluar,” Lanjutnya.
Mereka semua menyimak penjelasan Jaemin, tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut mereka.
Lucy menatap Jaemin. “Lo tau di mana mereka akan berjumpa?” Tanya Lucy.
Jaemin mengangguk. “Di sebuah pelabuhan,” Jawabnya dengan tenang.
Jeno menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, memijit pelipisnya yang terasa sangat sakit memikirkan semua ini.
Lucy mengangguk, lalu ia menatap Lucas. “Bagaimana Winter dan Haechan?” Tanya Lucy ke Lucas, dia ingin memastikan kenapa Lucas tidak berhasil membawa Haechan dan Winter bersama mereka.
Lucas hanya menggeleng, ia tidak tau harus menjawab apa, ia sangat kebingungan. Begitupun dengan Yuqi. “Mungkin ada yang mereka rencanakan?” Tanya Yuqi sambil menatap Renjun dan Jaemin secara bergantian.
Mendengar pertanyaan Yuqi, Jeno segera menegakkan badannya lagi. Renjun mengangguk, lalu ia berkata, “Mereka tidak sejahat yang kita pikirkan.”