Jumpa

Gue melihat ke sekeliling taman sekolah untuk memastikan bahwa Jeno sudah menunggu disana, gue memang sengaja Dateng telat, untuk memastikan kira-kira dia bakalan takut gak ya kalo rekaman suaranya ke sebar.

“Ahhh ketemu,” Ucap gue ketika netra mata gue melihat sosok Jeno yang sedang duduk di bangun taman sekolah.

Gue menghampiri Jeno yang sedang terduduk itu, dengan cepat gue langsung duduk disampingnya. Membuat dia sedikit kaget dan melihat ke arah gue dengan raut wajah yang sulit di artikan.

Gue mencoba memberanikan diri untuk memperkenalkan diri, sejujurnya agak takut tapi ya mau gimana lagi? “Ekhem, Jung Kirana anak pindahan baru aja pindah,” dehem gue. Jeno mengangguk lalu ia memperkenalkan dirinya secara singkat. “Jeno, Lee Jeno,” ungkapnya.

“Lo beneran Psikometri?” Tanya gue memastikan, siapa tau aja dia bohong kan?

Jeno melihat ke arah gue dengan tatapan dinginnya, “Menurut Lo?” Jawabnya dengan singkat.

Gue dengan berani mengambil sebelah tangan Jeno, dan menggenggamnya. “Lo lihat sesuatu?” Raut wajah Jeno kembali kaget atas perbuatan gue. Dia segera menarik tangannya lalu menjawab dengan singkat. “Gak.”

Gue mendecak kesal. “Berarti Lo bohong dong?” Kesal gue.

Jeno sama sekali tidak menjawab, melainkan terus menatap gue dengan wajah yang dingin.

Gue segera melihat sekeliling “binggo!*. Ada siswi yang akan lewat di depan mereka sebentar lagi. Dengan cepat gue menarik tangannya.

“Hehehe minjem ya,” Permisi gue ke siswi itu. Siswi itu adalah murid yang di bully habis-habisan kemarin.

Gue segera menarik tangan Jeno lalu menggenggamkan tangannya dengan tangan siswi tersebut.

“Lihat apa?” Tanya gue dengan penasaran.

Wajah dari siswi tersebut sekarang memerah, dia segera menarik tangannya karena malu. Siswi itu hendak melangkahkan kakinya, namun terhenti ketika mendengar suara Jeno.

“Jangan nangis tiap malem, fokus belajar, Lo gasalah, jangan pukulin kepala Lo ke dinding, masa depan Lo indah,” Kata Jeno, lalu membuat sang siswi berjalan dengan cepat menghilang dari hadapan kami.

Gue terkesima dengan aksi Jeno, lalu bertepuk tangan kencang, “owwooooooooo luar biasa,” puji gue.

“Sekarang percaya?”

Gue mengangguk, “yup.” Gue segera menarik tangannya menuju ke mobil.

Jeni sedikit kaget, namun dia tetap mengikuti arahan ku.

“Mau kemana?” Tanyanya.

“Ikut aja!”