Kematian
Januar, Tristan, Marva, Jack, dan juga Daffa sudah berada di sebuah gedung di mana biasanya mereka berkumpul.
Gedung yang dari luar tampak normal, namun siapapun yang masuk kedalam akan menjumpai 2 nasib, yaitu kematian atau maaf.
Di sekeliling ruangan tersebut seperti layaknya gedung biasa, terdapat hiasan-hiasan yang memperindah interior ruangan.
Namun yang membuat perbedaan ruangan gedung itu dengan gedung yang lainnya adalah interior ruangan yang di hias menggunakan organ tubuh manusia. Tidak hanya organ tubuh tapi tengkorak kepala yang tersusun rapi di setiap sudut.
“5 orang yang menginginkan Kayla mati,” Ucap Marva membuka pembicaraan.
Tristan mengangguk, ia segera mendekati ke lima gadis yang sudah di ikat menggunakan rantai yang menjulur ke atas.
“Hai nona-nona cantik,” sapanya.
“Siapa kalian?” Tanya salah satu dari mereka dengan nada ketakutan.
Tristan sedikit tersenyum. “Siapa kita? Bisa di bilang malaikat maut? Atau.” Tristan menghentikan ucapannya, ia mengode para bodyguard mereka.
“Atau Lucifer yang berasal dari neraka,” sambung Tristan bersamaan dengan para bodyguard yang membawa masuk 5 anak kecil ke dalam ruangan yang sama.
“No!” Teriak gadis-gadis yang ada di depan Tristan ketika melihat bahwa yang baru saja dibawa masuk oleh para bodyguard Tristan adalah adik-adik mereka.
Januar tertawa melihat kehisterisan yang mereka buat. “Kalian ingin adik kita mati bukan?” Tanya Januar.
Mereka sedikit kebingungan, namun beberapa detik kemudian mereka sadar, bahwa mereka ingin Kayla mati. “Kami hanya bercanda,” Sahut salah satu dari mereka.
Januar mengangguk. “Kami juga bercanda, kami ingin adik-adik kalian mati seperti kalian ingin adik kita mati,” ucap Januar dengan tegas dengan langkah perlahan menuju salah satu anak kecil yang ada di hadapan mereka.
Benar saja, para bodyguard menempatkan anak-anak kecil itu tepat di depan gadis-gadis itu, sesuai dengan urutan adik-adik mereka.
Januar berhenti ketika sampai di belakang seorang anak laki-laki. “Tapi yang bereda dari kami adalah, kami bercanda secara nyata, dan kalian bercanda dengan candaan,” Sarkas Januar lalu dengan cepat Januar mengiris leher anak laki-laki yang ada di depannya.
Anak laki-laki itu tewas di tempat, darah yang berceceran dimana-mana.
“No!” Jerit sang kakak dari anak laki-laki itu.
“Bunuh saya, bunuh saya!” Raungnya.
Januar menggeleng. “Tidak akan gadis cantik, kami ingin kalian merasakan apa yang di rasakan oleh gadis cantik kami di rumah,” Sangkal Januar. “Gadis polos yang harus menerima hinaan atas fitnah kalian,” lanjutnya dengan nada yang sedikit rendah, membuat siapapun yang mendengarnya akan merasakan takut yang amat dalam.
“Lanjutkan, saya tidak ingin melihat wajah-wajah menyedihkan mereka,” Perintah Januar lalu ia melangkahkan kakinya keluar.
Dengan senang hati mereka melaksanakan perintah Januar, satu persatu adik dari gadis-gadis yang berani membenci Kayla telah di siksa habis-habisan di depan mereka.
Tidak kenal ampun, araster Zone tidak akan merasa kasihan kepada siapapun yang berani berurusan dengan Kayla.
