Kill me

Lucy membuka sedikit matanya, dengan perlahan ia membukanya, karena ia merasakan sangat sakit.

Kini Lucy menyadari bahwa tubuhnya sedang di ikat, dan benar saja tangan Lucy di ikat pada rantai yang dimana rantai tersebut tersambung pada sebuah katrol.

Melihat Lucy yang sudah tersadar, Seorang pria berbadan besar, yang di kenal sebagai atasan Choi menyuruh anak buahnya menarik katrolnya keatas. Membuat badan Lucy tergantung.

Keadaan Lucy sangat-sangat memperhatikan, banyak darah yang menetes dari tubuhnya. Sakit? No, sangat sakit, itu yang ia rasakan. Bahkan menangis pun tidak bisa memulihkannya.

“Turunkan,” Perintah atasan Choi.

Bodyguard yang memegang kendali katrol tersebut, menurunkan Lucy dengan kasar, membuat Lucy jatuh terduduk lemas, dengan tangan di atas yang masih terikat.

Plakk

Satu cambukan mengenai punggung Lucy. Membuat Lucy meringis kesakitan untuk yang kesekian kalinya.

Atasan Choi berlutut di depan Lucy, atasan Choi mengangkat dagu Lucy menggunakan pisau yang ia pegang.

“Bagaimana rasanya Lucy? Luka lama kembali? Siapa yang berkhianat?” Tanya atasan Choi dengan nada sangat tajam.

Lucy menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak berniat menjawab, dia tidak akan mengadu bahwa Jeno lah yang berkhianat, dia tidak mau Jeno kenapa-kenapa lebih baik dia yang tersiksa.

Srreeekkk

Satu goresan panjang berhasil di ukir oleh pisau yang ada di tangan atasan Choi.

“Arrghhhh,” ringis Lucy kesakitan. Kini lantai ruangan tersebut akan di banjiri oleh darah Lucy sebentar lagi.

Lucy berusaha menegakkan kepalanya, ia melihat kedepan, disana ada Johnny dan juga Winter. Melihat adanya winter, Lucy sedikit lega, winter dalam keadaan baik-baik saja.

Lucy menatap mata winter, dengan tatapan melas Lucy memohon. “Help.....” Lirih Lucy, dengan nada kecil.

Atasan Choi melihat Lucy dengan muka mengejek, lalu ia mendekat bibirnya ke telinga Lucy. “Tidak akan ada yang membantu kamu, kamu tau siapa yang menyetrum kamu?” Bisik atasan Choi.

Lucy mengikuti kemana tangan atasan Choi menunjuk seseorang. “Dia,” Lanjut atasan Choi dengan posisi yang sama.

Air mata yang sedari tadi Lucy tahan, kini semakin deras membasahi pipinya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ini akan terjadi.