Kita semua sayang Kayla.

Kayla memasuki kamar Januar tanpa izin terlebih dahulu. Ia melihat sang kakak yang sedang membaca buku di kasurnya.

Januar sedikit terkejut melihat kedatangan Kayla. Bukan karena Kayla tidak izin terlebih dahulu, namun ia terkejut melihat sang adik yang sangat berantakan.

Mata sembab, rambut berantakan, air mata yang mengalir deras. “Hei kenapa?” Tanya Januar khawatir.

Kayla segera naik ke atas kasur dimana Januar berada. Ia memeluk sang kakak sangat erat. “Kenapa Kayla?” Januar bertanya lagi seraya mengelus punggung sang adik agar sedikit tenang.

Kayla masih sesenggukan namun ia berusaha untuk menjawab pertanyaan sang kakak. “Apa Kayla mu..murahan? Apa Kayla men.jijikkan-” ucap Kayla terbata-bata di karenakan tangisannya.

Januar sangat kaget mendengar itu. “Says who?” Tanya Januar tegas.

Tangisan Kayla semakin menjadi-jadi, ia semakin terisak. “Apa- kal-ian hanya pura-pura sayang sama Kayla?” Tanya Kayla lagi dengan terbata-bata.

Muka Januar menjadi merah, ia sangat marah sekarang. Siapa yang membuat sang adik menjadi seperti ini? Ia bersumpah untuk membunuh orang itu jika ketahuan.

“Hei, hei denger,” kata Januar menenangkan Kayla. Ia mengelus rambut sang adik dengan lembut. “Kita semua sayang sama kamu, gak ada yang pura-pura. Bahkan kita sangat-sangat bersyukur atas kehadiran kamu, dengan adanya kamu kita semua bisa akur Kayla,” sambung Januar.

Jawaban dari Januar membuat Kayla sedikit tenang, namun dadanya masih terasa sesak. Bahkan ia semakin terisak di dalam pelukan sang kakak.

Januar mencium pucuk kepala Kayla dengan lembut. “Udah ya, nanti kita hukum orang jahat yang buat kamu jadi begini.” Kayla mengangguk di dalam pelukan Januar.


Kayla sudah tertidur di samping Januar, dengan susah payah ia menenangkan sang adik, dan sekarang ia berhasil membuat Kayla tertidur nyenyak di sampingnya.

“Siapapun akan iri dengan posisi kita Kayla, mendapatkan seorang adik yang sangat ceria seperti kamu,” monolog Januar.

Tiba-tiba handphone Januar berbunyi. “Halo,” sapanya.

”......”

“Kok bisa!” Ucap Januar tersentak kaget.

”......”

“Ya saya ke sana sekarang.”

Dengan terburu-buru Januar beranjak dari tempat tidurnya, ia hendak keluar namun berbalik lagi untuk mencium kening sang adik.

“Sebentar ya sayang,” Ucapnya lalu segera keluar dari kamar.


“Haris tidak ada orang di rumah, panggil temen kamu berapapun itu. Jaga rumah dan Kayla, Abang mau pergi mungkin agak lama,” Ucap Januar terburu-buru.

Haris menanggapi nya dengan santai. Ia tau situasi apa yang sedang di hadapi oleh Abang-abang nya yang lain. Semua itu urusan mafia kelas kakap seperti mereka.

Haris mengambil handphonenya dari saku celana, ia menelepon seseorang dari Handphone. “Halo ke sini ya, gak pake lama!” Suruh Haris lalu mematikan telepon secara sepihak.