Lancar

“Ada pertanyaan lagi?” Tanya Pak Johnny selaku bos di perusahaan ini kepada ku.
Aku menggelengkan kepala. “Tidak ada pak, semua sudah jelas,” Jawabku.
Pak Johnny hanyq mengangguk, dia membolak-balik berkas lamaran kerja yang aku bawa.
Jujur, tadi pada saat interview aku sangat gugup, jangan tanya gimana keadaanku gugup di campur kaget.
“Oke, besok bisa langsung kerja kalo gitu, selamat ya kamu di terima,” kata Pak Johnny sambil mengulurkan tangannya.
Eh? Aku diterima? Maksudnya langsung di terima?
Dengan perasaan, dan muka yang gak bisa di kontrol, gue reflek berdiri dan menjabat tangan pak Johnny. “Terimakasih pak, saya berjanji akan menjadi sekretaris yang baik.”
Raut muka Johnny terlihat sangat bahagia, senyum yang ia kembangkan sangat-sangat lebar. Ia sangat senang melihat sekretaris yang baru saja ia terima begitu bahagia.
Aku keluar dari ruangan pak Johnny dengan sangat-sangat bahagia, aku melihat Dika di depan sana.
“Hai Dika,” sapa ku, berhasil membuat Dika melayangkan sebuah pukulan di kepalaku.
“Pak Dika!” Tegasnya.
“Heleh karyawan biasa juga,” ejek Ku.
“Halah, gue bilang Johnny supaya Lo gak di terima jadi sekretarisnya baru tau rasa Lo,” ancam Dika.
Aku menatap mata Dika kebingungan. “Kan gue belum bilang gue di terima,” Tanya aku.
Dika terlihat gugup dan kalang kabut. “Hahaha itu anu, gue ada rapat bye,” pamit Dika seraya melangkahkan kakinya dengan cepat.
“Dikaaaaaaaaaaaa,” geram ku.