Last —


Lusi meletakkan sebuah surat dan juga permen di atas meja di depan mereka. “Permennya di makan ya, biar tenang. Lucy sayang Abang, Lucy pamit, sampai jumpa,” pamitnya seraya berdiri dan beranjak dari ruangan itu.

Johnny menatap sesaat ke surat yang di berikan oleh Lusi, dengan tangan yang bergetar ia mengambil sepucuk kertas dan permen itu. Lalu ia kembali ke sel dimana dia di tahan.


Johnny duduk di sel tahanan dia yang sangat sempit itu, ia merogoh sakunya mengambil sepucuk surat yang di kasih oleh sang adik.

Perlahan ia bukan dan membaca isi dari surat itu.

Dari Lucy Suh,

Untuk Abang Johnny Suh yang Lucy sayang.

Hai Abang, seneng banget bisa manggil Abang lagi setelah beberapa tahun Lucy manggil tuan.

Sekarang semua udah berakhir ya? Udah saatnya Abang istirahat kan?

Abang tenang ya, gak sakit kok. Ada Papa sama Mama yang akan menjaga Abang. Lucy titip salam buat papa sama mama ya, Abang jangan ngejek-ngejek Lucy loh disana nanti (´ . .̫ . `)

Sakit ya bang pasti, harus berjalan di jalan yang bukan kehendak kita. Tapi Abang harus bertanggung jawab ya? Sudah Beratus nyawa yang hilang karena Abang, karena kita.....

Permennya di makan ya? Dulu Abang kasih itu agar Lucy tenang, sekarang Lucy kasih ke Abang agar Abang tenang.

Terimakasih bos terbaik, terimakasih atas perjuangannya. Istirahat yang tenang ya?

Maaf Lucy gak bisa datang di hari itu, tapi hari-hari Lucy akan selalu tentang Abang. Love you ♡

Salam hangat Lucy cantik xixixixixi


Air mata Johnny mengalir dengan derasnya ketika membaca surat dari sang adik.

Ia meremas kertas tersebut, memukul dadanya yang sangat sesak karena terisak. Sangat sakit.

“Maaf,” lirih Johnny. Dia segera mengambil chocopie yang di beri oleh adiknya tadi.

Dengan tangan bergetar, dan Isak tangisnya ia membuka bungkus chocopie itu. Ia sedikit terkekeh, memang benar apa kata Lusi, isinya jadi kecil.

Ia memakan chocopie itu dengan lahap, dengan air mata yang jatuh dengan derasnya, dan juga dengan sesak yang tidak bisa ia tahan.

“Selamat ulang tahun Lucy,” ucapnya dengan chocopie yang masih di mulut dan juga dengan suara yang di campuri Isak tangis.

Badannya terjatuh lemah, ia memeluk kakinya, ia sangat takut sekarang. Ia sangat takut akan menghadapi hari dimana dia akan di hukum.