Last but not least

Lusi melihat video dari Handphone yang ia terima dari Jeno.

Video tersebut menampakkan Johnny abangnya dengan baju tahanan, tangan terborgol dan juga mata tertutup. Ia melihat Johnny berjalan ke sebuah ruangan dengan beberapa petugas yang memegang dirinya.

Di dalam ruangan itu sudah ada Komandan Winwin, Komandan Kun, dan juga Jeno.

Tidak terasa air mata Lusi jatuh membasahi pipinya. Ia melihat Johnny di dudukkan pada sebuah kursi, ia tau apa kursi itu. “Kursi setrum,” Gumamnya.

Video tersebut terus berjalan, ia melihat petugas hendak memasangkan alat di kepala Johnny, namun Johnny menahannya.

Tangisan Lusi semakin menjadi-jadi ternyata Johnny izin untuk memakan permen yang ia kasih. Dan untung saja di kasih izin, ia melihat Johnny sudah terpasang lengkap dengan semua alat yang akan menghukumnya.

Lusi menghentikan video tersebut, ia sudah tidak sanggup melihatnya. Dengan keras ia memukul dadanya yang sangat sesak.

Lusi teriak sangat kencang, ia membuang semua kesedihan itu. Kini ia sendiri, tidak ada lagi yang akan bersamanya.

“Win-” ucapan Lusi terjeda karena isakannya. “Sekarang gue sendiri, para Agent Regular di hukum sesuai kejahatan yang mereka lakukan,” lanjutnya.

Ia menoleh ke makan Haechan. “Chan, Abang gue di hukum mati Chan,” isaknya, ia berbicara dengan teman-teman yang sudah Istirahat dengan tenang itu.

“Jeno bakalan Nerima semua hukuman karena membebaskan kita, dia bakalan di tugaskan ke pelosok tanpa tau di negara mana,” lirihnya.

Lusi memukul dadanya lagi dan lagi, ia tidak bisa menerima semua ini. Namun dia bisa apa? Ini sudah takdir semesta yang harus dia terima.

“Jaemin dan Renjun,” ucapnya. “Mereka harus hidup dengan normal,” sambungnya.

Ia menyeka air matanya, dengan kaki yang lemas Lusi mencoba untuk berdiri dan berjalan ke depan makan Tuan Taeyong.

Ia berdiri tegap, menghormat ke arah makan Taeyong.

“Lapor, misi selesai-” seru Lusi dengan nada tegas namun bergetar karena air mata yang mengalir. “Laporan selesai,” sambungnya.

Ia terjatuh terduduk di depan ketiga makam itu, ia terduduk memeluk kakinya. Menangis tersedu-sedu, Lusi berusaha untuk melupakan semua ini.

Disisi lain, Jeno melihat semuanya, ia melihat Lusi yang menangis. Ia sangat ingin datang dan memeluknya, namun ia tidak bisa, bahkan ia pun tidak bisa menerima semua ini. Akhir dari semua ini sangat menyakiti dirinya.

Jeno tersenyum ke arah Lusi. “You did well Lucy,” monolognya.