Lucy dan traumanya

“Hp terus,” ujar Renjun ke Jaemin ke winter sama Haechan yang ada di sebelah Lucy.

Lucy masih belum sadarkan diri, ia masih pingsan dan sekarang ia berada di kasurnya di temani oleh Renjun, Winter, dan Haechan.

Winter menoleh ke arah Lucy yang terlihat sedikit bergerak dan membukakan matanya. “Lucy Lo Gpp?”

Lucy mendudukkan badannya di bantu oleh ketiga Agent lainnya.

“Hmm gpp kok,” ringis Lucy.

“Lo kenapa Luc?” Tanya Haechan sedikit panik dengan keadaan Lucy sekarang.

Bibir pucat, muka pucat, dan lemah itulah Lucy sekasang, tidak seperti biasanya.

“Permen gue,” tutur Lucy lalu ia segera mengecek laci yang ada di sebelah tempat tidurnya.

“Yahh habis.”

“Gpp nanti kita beli lagi, sekarang cerita kenapa Lo bisa begini,” pinta Renjun.

Lucy memperbaiki posisinya kembali, netra matanya melihat ke arah pintu, dimana Jeno dan Jaemin baru saja masuk ke kamar Lucy.

“Tiba-tiba gue ngerasa sesek, kayak ada sesuatu yang gue lupain terus kembali begitu aja,” Ujar Lucy memperjelas keadaan.

“Lo trauma?” Tanya Jaemin.

Lucy hanya menjawab dengan anggukan. “Yaudah biarin aja Lucy istirahat, besok kita bahas misi kita selanjutnya.” Kini Jeno mengajak semua Agent Irregular untuk keluar, semua Agent Irregular melangkahkan kakinya keluar, di akhiri dengan Jaemin. Bukannya keluar Jaemin malah mengunci pintu kamar Lucy dari dalam.

“Lo nutupin sesuatu,” Tegas Jaemin