Malam itu

Lucy Pov

Keadaan gue mulai membaik, bahkan bisa di bilang gue udah bisa ngontrol emosi gue. Tapi sekarang perasaan gelisah menghampiri diri gue.

Perkataan Jaemin tadi siang membuat gue kepikiran, siapa yang akan berkhianat? Apa maksud dia? Apa benar akan ada yang datang ke kamarnya malam ini?

Gue melirik ke arah jam dinding yang ada di kamar gue, waktu menunjukkan jam 11.00, sepertinya dia sudah beraksi.

Gue mengambil sebuah pistol di atas nakas, lalu gue melangkahkan kaki menuju kamar Jaemin, memastikan siapa dia.

“Apa benar dugaan gue selama ini? Monolog gue.

Gue melangkahkan kaki gue dengan perlahan, gue takut derap kaki gue malah membangunkan Agent Irregular lainnya. Ya walaupun kamar mereka kedap suara, buat jaga-jaga saja.

Gue sampai di depan kamar Jaemin, namun tidak ada tanda kedatangan seseorang disana.

Ketika otak gue sedang berpikir, badan gue tersentak kaget. “Wait, apa dari sana?” Tanya gue pada diri sendiri.

Gue teringat akan sesuatu, kamar Jaemin bisa dimasukin dari luar markas, sebenarnya semua kamar yang ada di lantai paling bawah. Dan di depannya tersedia mungkin seperti balkon? Atau semacamnya gue juga gatau gimana bentuk markas ini.

Gue melangkahkan kaki segera menuju ke arah sana, perlahan gue mendekatkan diri. Gue melihat ada seseorang dengan baju serba hitam sedang membuka paksa pintu yang ada di tempat yang gue bilang tadi, sebut saja balkon.

Gue mengambil pistol yang tadi gue ambil, dan menodongkan pistol tersebut tepat ke arah orang yang sedang membuka paksa pintu kamar Jaemin.

Gue melangkahkan kaki mendekati orang tersebut, dan mempoint pistol tepat di belakang kepalanya. “Siapa Lo?” Tanya gue menginterogasi.

Orang tersebut segera mengangkat kedua tangannya dan membalikkan badan menghadap gue. Kini netra kita bertemu, saling menatap satu sama lain.

Otomatis bibir gue naik membuat sebuah smirk ketika gue tau dengan siapa gue berhadapan sekarang.

“Ngapain Jen? Masuk ke kamar Jaemin pake paksaan? Bilang aja sama dia pasti di kasih,” Sarkas gue dengan pistol yang masih mempoint tepat di depan kepala orang tersebut, atau bisa disebut Jeno.