Morning -Day 3
Sekarang waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Dimana orang-orang tengah terlelap di tidurnya, namun tidak untuk Kayla ah tidak maksudnya Queen.
Kini ia tengah berdiri di sebuah patung yang ada di sekolahnya. Patung ledoardo yang menjabat sebagai Direktur utama di sekolah ini. Dan juga sebagai ayah dari Kenzo Jauzan cowo yang dulu pernah Kayla sayang.
Queen tersenyum. “Bisa-bisanya anda berdiri tegak dan meminta hormat padahal anda tengah berdiri di lahan seseorang yang sudah meninggal,” Ucap Queen. “Sudah meninggal anda bunuh,” Sambungnya.
Queen sudah meminta bantuan dari kakak-kakaknya terlebih dahulu untuk mematikan semua cctv yang ada di sekolah. Kini dia aman bergerak.
Tangan Queen memegang sebuah palu, matanya terus menatap patung itu dengan tajam. “Seharusnya anda yang ada di kuburan, bukan papa!” teriak Queen.
Dengan amarahnya Queen mengayunkan palu tersebut dengan kuat mengenai badan patung tersebut. Patung ledoardo seketika jatuh, hancur setengah badan.
Queen tersenyum miring. “Bahkan patung anda tidak sekuat papa, tapi kenapa anda berbuat curang dengan merampas semua yang papa punya.” Lagi-lagi Queen mengayunkan palu yang ada di tangannya.
Kini patung Ledoardo benar-benar hancur setengah badan di buat oleh Queen. Queen tertawa terbahak-bahak ketika melihat aksi yang dia lakukan tadi.
“Itu baru permulaan ledoardo, kelak saya akan menghancurkan diri anda seperti saya menghancurkan patung ini,” Queen beranjak dari sana. Tidak lupa ia menuliskan sebuah ancaman yang sama seperti sebelum-sebelumnya.
'Jangan abaikan kehadiran saya Q.N'
Dorr
Kayla mengangetkan Johan yang baru tiba di kantin.
“Aksa anak setan!” Teriak Johan kaget.
Kayla tertawa karena Johan. Johan menghela nafas karena melihat bahwa Kayla lah yang mengagetkannya barusan.
“Tumben Lo cepet banget ke sekolah?” Tanya Johan.
Kayla tersenyum polos. “Pengen aja, kakak kok cepet banget ke sekolah? Itu yang di tangan kakak apa?” Tanya Kayla, ia melihat Johan menenteng sebuah tas yang lumayan besar.
Johan hendak menjawab namun terpotong oleh seseorang. “Han, cirengnya di taro aja di situ, kamu belajar aja. Mbak bisa sendiri,” Ucap seseorang.
Orang itu adalah mbak Ina, penjual cireng langganan murid di sekolah.
Kayla sedikit kebingungan, ada hubungan apa Johan sama mbak Ina?
Johan segera meletakkan tas itu seperti yang mbak Ina suruh, lalu ia menarik tangan Kayla menjauh dari sana.
Mereka menuju ke taman belakang. “Jangan bilang siapa-siapa ya,” kata Johan dengan sedikit khawatir.
Kayla mengulum bibirnya. “Emangnya kenapa?” Tanya Kayla.
“Mbak Ina itu ibu gue, memang di sini dia selalu menyebut dirinya mbak. Supaya gue gak malu,” Jawab Johan.
Kayla sedikit terkejut dengan fakta yang baru saja ia dengarkan. Kayla mengangguk. “Kak Johan malu ya kalo semisalnya ezo dan kawan-kawan tau kalo kak Johan anak yang jualan cireng?” Tanya Kayla jujur.
Johan menghela nafas. “Bukan malu, gue takut gak punya kawan selain mereka. Gue takut mereka malu sama gue, kalo gue gak sama mereka gue udah jadi bahan Bullyan di sekolah ini,” Jawabnya dengan pelan namun masih bisa di dengar oleh Kayla.
Kayla tersenyum lalu ia menepuk pundak Johan pelan. “Tapi cepat atau lambat harus jujur ya, pasti mereka Nerima kak Johan apa adanya, Kayla ke kelas dulu ya! Byeee,” pamit Kayla lalu segera berlari ke kelasnya.
Johan lupa, ia lupa menanyakan kenapa Kayla datang ke sekolah sepagi ini? Apa mungkin yang selama ini ia lihat itu Kayla?
