Mulai

Didalam mobil Lucy dan ketiga Agent Irregular lainnya sedang menunggu kedatangan Jeno, agar mereka bisa tau apa yang harus dilakukan setelah ini.

Mobil yang mengikuti mereka sudah pergi setelah di ejek oleh Lucy, mungkin mereka merasa malu karena kebodohannya.

“Woi nunduk nunduk,” Perintah Renjun membuat Lucy, Jaemin dan Haechan menundukkan kepalanya dengan sedikit panik.

Beberapa menit kemudian mereka mengangkat kembali kepalanya. “Kenapa sih Jun?” Tanya Lucy kepada Renjun.

“Itu tadi mobil Bella dan gue lihat ada Jeno sama 1 cewe baru aja masuk, ntar kita ketahuan gimana?” Jawab Renjun dengan santai.

Haechan dengan muka memerah membuka sepatunya. “Kan mobil kita kacanya warna hitam, mau Lo nanam bibit kecebong disini juga gak bakal ketahuan, biji ketumbar,” Jelas Haechan sambil meletakkan sepatu yang ia lepas ke hidung Renjun.


Ke empat Irregular Agent yang berada di mobil kini memantau keadaan dari kamera yang tersambung di kacamata Winter.

Tentu saja, winter bukan cewe bodoh yang akan menyerahkan dirinya ke lubang buaya.

Pintu ruangan dimana Winter dan beberapa wanita lainnya di kurung terbuka dan memperlihatkan Bella, Jeno, Lia, dan beberapa bodyguard masuk ke dalam.

Bella menghampiri winter dan tersenyum licik. “Lihat bahkan temen Lo aja ada di pihak gue, temen Lo satu lagi mana? Kabur ya? Dasar memangnya Lo tuh jelek!” Ejek Bella sambil memukul pipi Winter menggunakan pisau yang ia pegang.

Jeno menatap Lia yang berdiri disampingnya, Lia sangat gugup ketika di tatap seperti itu oleh Jeno. Dia takut kalo sampai pisau yang Bella pegang menggores Winter.

Lia hendak melangkahkan kakinya untuk mencegah Bella agar tidak melukai winter, namun belum sempat ia melangkahkan kakinya seseorang masuk kedalam ruangan tersebut.

“Bella, biar papa saja yang cek barang papa,” ucap pria tersebut.


Lucy dan Haechan sudah bersiap menggunakan Rompi anti peluru, dan juga memasukkan beberapa senjata yang diperlukan. Tidak lupa untuk memakai earphone yang terhubung satu sama lain.

Lucy melirik ke arah Haechan. “Siap?”

Haechan mengangguk mantap. “Of course.”