No

Kayla melangkahkan kakinya dengan ceria menuju ke kelas. Namun langkahnya terhenti ketika sudah berada di depan pintu.

Kayla membaca sebuah tulisan besar di papan tulisnya. “Pembunuh,” lirih Kayla membaca tulisan tersebut.

Teman-teman sekelas Kayla segera menatap Kayla. Ada yang menatap kasihan, dan ada yang menatap tidak percaya. Salah satu cowo yang ada di kelas itu segera berlari ke papan tulis dan menghapus tulisan tersebut. “Udah Kayla, cuman orang asing, Lo tau kan sekolah kita lagi di teror,” ucap cowo itu.

Kayla tidak menghiraukan perkataan dia, ia langsung berlari entah kemana.

“Cih, cabe,” cibir salah satu cewe di kelas itu.

“Cabe ngatain cabe,” balas seorang cewe yang ada di kelas itu juga.


Brugg

Kayla menabrak seseorang yang baru saja keluar dari ruang kantor yang ia lewati. Kayla menatap orang tersebut.

Raut wajahnya langsung berubah, yang tadi sedih sekarang menjadi murka, ia menatap sinis orang tersebut. Lalu dengan segera melangkahkan kakinya menjauh.

“Tidak sopan, siapa dia?” Tanya orang tersebut sedikit marah.

“Ahh maaf pak, dia murid baru, pak ledoardo ingin ke kelas Kenzo?” Tawar salah seorang guru.

“Tidak usah, saya ingin bertemu dengan kepala sekolah segera,” tegasnya.