Pantesan

Aku keluar dari ruangan dokter Kun dengan tangan yang memegang dua obat.

“Kanan malam, kiri siang, kiri siang, kanan siang eh?” Monologku. “Ini jadinya kiri atau kanan yang siang?” Tanyaku pada diri sendiri.

Karena tidak mau salah, akhirnya aku memutuskan untuk putar balik ke arah ruangan dokter Kun.

Namun pada saat aku berputar balik, pandangan ku bertemu dengan seseorang yang sangat familiar, ia dia Jeno aku gak salah lihat.

Namun ada apa dia di rumah sakit? Dan siapa cewe yang sedang ia rangkul sekarang?

Netra aku dan Jeno bertemu, dengan cepat aku memalingkan wajahku, dan berjalan menuju ruangan dokter Kun, dimana aku harus lebih mendekat dengan posisi Jeno sekarang.

“Kiran—” Jeno hendak menyapa aku , namun aku tidak menghiraukan, aku dengan segeea menghampiri dokter Kun yang berada di belakang Jeno.

Dokter Kun yang melihat kedatangan ku, dia sedikit kaget. “Ada apa Kirana?” Tanyanya.

Aku menunjukkan dua botol obat yang aku bawa tadi. “Yang mana siang, yang mana malam?”

Dokter Kun menghela nafasnya. “Ini siang, ini malam, kan ada tulisany Kirana,” Geram Dokter Kun.

“Jelek,” ejekku lalu segera melangkahkan kaki menjauh dari dokter Kun. Tentu saja setelah berpamitan.

Aku melangkahkan kaki dengan cepat, tujuanku agar bisa terhindar dari Jeno. Namun sayang tangan ku berhasil di tahan oleh Jeno.

“Sorry,” ucapnya, aku segera melepaskan tangan Jeno yang menggenggam tanganku.

Ketika aku berusaha sekencang mungkin menjauh dari jeno, tiba-tiba dadaku terasa sesak, pandanganku buyar. Dan detik kemudian.

Dug....

Aku terjatuh pingsan, samar-samar aku melihat beberapa orang membantuku begitu juga dengan dokter Kun. Namun tidak dengan Jeno, ia melihat jelas aku terjatuh, tapi ia pergi bersama cewe yang ada disampingnya dengan buru-buru.


“Kak Jaemin bangun,” ucap cewe tersebut. Jeno baru saja hendak melangkahkan kakinya membantu Kirana. Namun ketika ia mendengar kata Jaemin, ia segera mengurungkan niatnya.