Permen

Masih di pelukan Johnny, Lucy tidak membalas pelukan yang Johnny berikan, ia masih setia memegang telinganya.

Rasa sesak di dadanya semakin menjadi ketika ia mendengar suara-suara aneh di kepalanya.

Semua kejadian yang tidak mau lagi Lucy ingat, dengan perlahan masuk ke otaknya, ia ingat semuanya.

Ingatan itu membuat Lucy teriak sangat kencang karena bukan hanya dadanya tapi kepalanya sangat sakit.

“Lucy kamu harus kuat...”

*“Hai gadis manis hari ini om pake ya...”

“Lucy cuman kamu satu-satunya harapan papa sama Mama...”

“Lucy kamu kuat, terimakasih ya...”

Lucy semakin merasakan sakit, sangat sakit dia tidak bisa menahannya lagi, semakin banyak suara-suara itu masuk ke kepalanya. Bahkan ia tidak bisa mendengar kata-kata dari Johnny.

Lucy mencoba membuka matanya, ia mendongakkan kepalanya menatap mata Johnny. Ia melihat Johnny berkata sesuatu, namun ia tidak bisa mendengar, lagi dan lagi potongan kejadian masa lalu masuk ke otak Lucy, membuat ia kembali berteriak dan menutup telinganya.

It's okay cantik, ini permen...”

Johnny sekuat tenaga menenangkan wanita yang ada di dekapannya. Ia tidak tau apa yang terjadi kepada agentnya.

“Permen permen,” pinta Lucy tiba-tiba. Johnny segera mengambil permen yang ada di saku jasnya, dan ia segera memasukkan permen itu ke dalam mulut Lucy.

Johnny menangkup kedua pipi Lucy, lalu ia merapikan rambut Lucy dan menyapu air mata yang tidak henti keluar dari matanya.

“Sssstt, udah ya, tenang ada saya disini.”