Pertemuan pertama -2
“Enak?” Tanyaku ke anak kecil yang menggemaskan ini. Ia memasukkan sesendok cake ke mulutnya.
“Enyak!” Jawabnya seraya tersenyum. Aku mengelus rambutnya, kok bisa ada anak se imut ini.
Kringgg
Suara lonceng menandakan seseorang memasuki toko ku. Aku melihat ke arah pintu, seorang lelaki dengan bayi di gendongan depan masuk ke toko dengan muka yang cemas.
“Astaga Nana, untung Daddy masang pelacak di kalung kamu,” ucapnya dengan cemas setelah sampai di meja kami. Ternyata dia adalah ayah dari anak ini, namanya Nana, nama yang cantik.
Aku berdiri dan menyapa pria tersebut. “Saya pemilik toko roti ini pak, tadi anak bapak masuk terus minta cake. Gpp kan pak?” Tanyaku.
Dia mengangguk, lalu duduk di depan Nana. “Enak ?” Tanyanya.
“Enyak dwaddy!” Jawabnya.
“Saya permisi pak,” pamit ku di jawab dengan anggukan oleh dia.
