Rapat misi selanjutnya

Semua Agent Irregular telah berkumpul diruangan rapat seperti perintah Jaemin.

Dan sekarang Jaemin sedang menjelaskan apa yang akan mereka hadapi, dan apa yang akan mereka lakukan di misi ini.

Semua agent terlihat serius menyimak semua penjelasan Jaemin, namun tidak dengan Jeno.

Dia tidak sama sekali menyimak, hanya saja melamun entah apa yang ia lamunkan.

“So gimana paham?” Tanya Jaemin ketika selesai menjelaskan semuanya.

Semua Agent Irregular mengangguk paham, kecuali Jeno, ia masih saja melamun.

“Gue berharap ketua kita bisa di andalkan ya sedari tadi melamun terus, yaudah gue pamit nanti malam kalo ada apa-apa gue update ke kalian,” tutur Jaemin lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang rapat.

Keluarnya Jaemin diikuti oleh Agent Irregular lainnya selain Lucy dan Jeno. Atmosfir ruang rapat sedari tadi sangat tidak nyaman, setelah hanya tinggal mereka berdua, atmosfir ruangan semakin aneh.

Lucy melipatkan tangannya di depan dada, ia menatap tajam ke arah Jeno yang ada di hadapanny. Beberapa menit kemudian ia berdiri dari duduknya hendak keluar. Namun langkah kaki Lucy terhenti ketika mendengar suara dari Jeno.

“Lo bilang ke mereka?” Tanya Jeno membuka suara.

Lucy mendesis, ia menjawab pertanyaan Jeno tanpa menoleh ke arahnya. “No, cuman diri Lo sendiri yang buat mereka curiga, leader yang biasa aktif jadi diam.”

Lagi-lagi Jeno terdiam, pikirannya benar-benar tidak bersih sekarang.

“Memang sulit Jen, tapi paman Lo Jaksa Lee, dan papa Lo Lee Donghae, mereka dua-duanya bersalah. Ketika Lo bergerak dengan kita, kita hanya mengejar duit mereka, nyawa tidak akan terancam, tapi kalo Lo bergerak sama BIN, gue yakin mereka tidak segan buat nembak mati paman sama papa Lo,” jelas Lucy lalu ia melangkahkan kakinya menuju pintu.

Jeno merasa kesal dengan ucapan Lucy, ia berteriak, “BIN tidak seburuk apa yang kamu pikirkan Lucy, dan aku akan pastikan kalian gak akan dapat hasil dari misi ini,” pekik Jeno.

Lucy terkekeh mendengar apa yang baru saja Jeno ucapkan, ia menolehkan kepalanya menatap Jeno, lalu berkata, “I D O N T Care Lee Jeno,” ujar Lucy dengan sedikit mengeja, lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.

Jeno yang emosi dan merasa kesal, ia memukul-mukul meja rapat dengan kuat.

“Arrghhhh bangsat.”