Salting

“Ekhem,” dehem Jonathan baru saja sampai di depan rumah Danita. “Mas siapa ya?” Tanya Jonathan.

Pria yang di maksud oleh Danita tadi menoleh ke arah Jonathan. “Saya mantan kesayangan Danita kebetulan,” Jawabnya sambil menekan kata 'kesayangan'.

Jonathan terkekeh mendengar jawaban pria itu. “Saya Jonathan, calon suami Danita,” Ucap Jonathan memperkenalkan diri.

Pria tersebut sedikit kaget. “Saya Reno,” Sahutnya seraya menjabat tangan Jonathan.

Ceklek

Suara pintu terbuka, gue keluar waktu pak Jonathan bilang kalo dia udah di depan. Dan benar saja ternyata mereka sedang berkenalan.

Dengan refleks gue langsung senyum ke pak jonathan dan melakukan hal gila.

“Babe!” Seru gue sambil berjinjit dan memeluk leher pak Jonathan dengan erat.

Sumpah gue refleks, gue gak niat modus kok, semoga aja Pak Jonathan peka.

Dan benar saja, pak Jonathan peka, ia langsung membalas pelukan gue. Tangannya melingkar di pinggang gue dengan erat. “Hai babe,” sahutnya.

Gue melonggarkan pelukannya, namun dengan tangan yang masih mengalungi leher pak Jonathan. Dan begitu juga dengan kedua tangan pak Jonathan yang masih di pinggang gue.

“Kamu kok lama sih! Aku nunggu kamu dari tadi taukkkk,” Rajuk gue dengan bibir gue manyunin.

Pak Jonathan terkekeh, lalu ia mendekatkan mukanya ke muka gue. Gue takut, gue takut dia nyium gue.

Gue mejamin mata, dan tenryata pak Jonathan cium kening gue, lumayan lama. “Sorry babe, klien aku dari luar negeri ngeseli tadi,” jawabnya.

Gue mengangguk, please siapapun tolong gue. Salah besar gue acting seperti ini.

“Ekhem,” dehem pria yang bernama Reno tersebut.

“Oh ya sayang, dia mantan kamu? Katanya mantan tersayang?” Tanya Pak Jonathan dengan menekankan kata 'tersayang'.

Gue melotot dan langsung menggeleng. “Mana ada sampah tersayang. Aku cuman sayang kamu!” Jawab gue tegas membuat pak Jonathan tersenyum.

Dengan tangan yang masih merangkul pinggang gue, pak Jonathan menoleh ke arah Reno. “Dengar mas? Silahkan pergi, selagi saya masih baik,” usir pak jonathan. Gue pengen ketawa melihat ekspresi Reno.

“Yuk masuk!” Ajak gue, dan kita berdua masuk ke dalam rumah, mengabaikan Reno yang masih mematung di luar sana.

Sesampai di dalam rumah gue langsung terduduk lemas, di satu sisi gue takut melihat sosok Reno lagi. Di satu sisi gue malu dan akhhhh kenapa gue harus Meluk sih!