Saya boss kamu
Jeno hendak melangkahkan kakinya keluar menghampiri Lucy, namun ia ditahan oleh seseorang.
“Biar saya saja,” ucap Johnny.
Lucy keluar dari ruangan tersebut lalu terduduk lemah di pintu ruangan. Ia masih tetap memegang telinganya, dan rasa sesak di dadanya tidak bisa di bohongi, sangat sakit.
“Sakit, s—sakit.....” Lirih Lucy sambil menepuk dadanya dengan kuat berharap rasa sakit itu pergi.
Johnny yang baru saja keluar dan membuka pintu ruangan tersebut, ia melihat ke sekitar memastikan keberadaan Lucy.
Sorot mata Johnny menemukan Lucy yang terduduk di samping pintu ruangan, ia langsung jongkok dan menenangkan Lucy.
“Hei tenang, tenang,” kata Johnny sambil menepuk pundak Lucy.
Kata-kata Johnny tidak bisa membuat Lucy tenang, Lucy semakin panik. Sangat panik.
“Jangan, kamu siapa, JANGAN!” Teriak Lucy.
Johnny menarik tangannya yang sedari tadi menepuk pundak Lucy, ia menghela nafas kasar lalu berkata, “Saya boss kamu, kemarin, sekarang, esok dan sampai kapanpun.”
Lucy menoleh sedikit ke arah Johnny, namun ia segera menarik pandangannya lagi, memeluk kedua tangannya ketakutan.
“Jangan,” ucap Lucy terisak-isak.
“Come closer, saya gak akan nyakitin kamu,” Ujar Johnny sambil merentangkan tangannya.
Lucy menggelengkan kepalanya tidak mau mendekat, namun dengan paksa Johnny menarik Lucy kedalam pelukannya.
Aneh bukan merasa takut namun pelukan dari Johnny membuat Lucy tenang sedikit.
Namun ketenangan itu berakhir ketika Lucy mendengar suara-suara yang masuk ke dalam otaknya.
