Saya telat

Johnny berdiri di depan Jendela kamarnya dengan segelas wine ditangannya. Ia menatap lurus keluar, terlalu banyak yang ada di pikirannya.

Ia meneguk kasar wine yang ada di gelasnya hingga kosong, lalu meletakkan gelas kosong meja yang ada di samping kasur.

Ketika sedang meletakkan gelas mata Johnny tertuju pada sebuah foto disana. Ia menatap foto tersebut lalu mengambilnya mengusap pelan foto tersebut.

“Cantik,” gumamnya.

Ia tersenyum ketika melihat foto tersebut. “Kamu cantik Lucy, cantik banget. Saya telat ya?” Lirih Johnny.

Lalu Johnny merogoh kantong celananya, mendapatkan sebuah permen disana. Permen yang ia temukan dimana Lucy tewas bunuh diri.

“Sekarang kamu gak usah makan permen lagi kan? Udah tenang?” Johnny memasukkan permen tersebut kedalam mulutnya.

Ia tersenyum tanpa disadari air mata berhasil turun membasahi pipi Johnny. “Kamu cantik kayak mama Lucy, temui papa sama Mama disana ya? Peluk mereka, sampaikan salam Abang ke mama sama papa. Maaf Abang tidak memeluk kamu saat kamu butuh,” Ucap Johnny.

Kaki Johnny melemah ia terjatuh terduduk dengan punggung bersandar pada kasurnya.

Ia menangis terisak-isak. “Maaf saya telat,” ucapnya dengan nada penuh penyesalan.