Semuanya berakhir.
Atasan Choi menatap Johnny dengan tatapan yang sangat marah, namun Johnny tidak mau menatap balik mata Atasan Choi. Tatapan Johnny tertuju ke Lucy, netra mereka saling ketemu satu sama lain.
“Jangan pernah kamu mengira, kamu adalah pemenangnya Choi, semuanya berakhir-” ucap Presiden Lee terjeda. “Disini,” sambungnya.
Atasan Choi menoleh ke Winter. “Kill,” bisiknya. Winter tersenyum ke arah lucy, ia mengeluarkan sebuah pisau di dalam sakunya. Lucy yang melihat winter, dengan langkah yang lemah ia melangkahkan sedikit demi sedikit ke belakang.
Para Agent Irregular hendak mendekati Lucy, namun sayang atasan Choi terlebih dahulu memberi kode agar semua bodyguard mengangkat senjatanya.
Johnny hanya terdiam, ia tidak bisa melakukan apapun sekarang. “Hai Lucy,” sapa winter.
“Gue tau Lo gak akan ngelaku-”
Ucapan Lucy terpotong, pisau yang ada di tangan winter kini menancap tepat di perutnya. “Uhukk,” Lucy terbatuk mengeluarkan darah dari mulutnya, dan air mata yang mengalir dari pipinya.
“M-maaf Lucy,” lirih Winter dengan nada penuh penyesalan. Lucy menunduk memegang pisau yang masih tertancap di perutnya dengan darah yang mengalir deras.
Sreeg
Suara pisau tercabut, ketika winter menarik pisau tersebut, lutut Lucy menjadi lemas, ia terduduk di depan winter. Winter mengarahkan pisau tersebut ke perutnya. Ia menatap Jeno, Renjun, dan juga Jaemin yang terdiam melihat keadaan sekarang. “Maaf,” lirihnya seraya tersenyum.
Lucy mengangkat kepalanya melihat winter yang berusaha menusuk pisau tersebut ke perutnya. “No,” tahan Lucy, namun sayang pisau tersebut kini menancap di perut winter.
“Uhukk.” Darah keluar dari batuk winter, ia terduduk lemah. Winter tidak sekuat Lucy, seketika ia terjatuh terbaring di jalan itu.
Air mata yang penuh penyesalan jatuh membasahi pipi winter. Lucy mengelus pipi winter dengan satu tangan, dan satu tangan menahan lukanya. “Bertahan,” lirihnya.
Winter tersenyum, ia mengambil sebuah kalung dari sakunya. “Bawa, ke Paris ya,” ucapnya terbata-bata. “Maafin gue, kesekian kalinya gue nyakiti Lo,” ucapnya dengan terputus-putus.
Lucy menggeleng. “Lo gak salah.” Ia berusaha menjawab ucapan winter namun rasa sakit yang ia rasakan tidak mungkin membuat ia berbicara banyak. “Win-” panggilnya ketika melihat winter memejamkan mata sepenuhnya.
“Shoot,” perintah seseorang.
Haechan melihat ke arah pihak Jeno, ia melihat seorang wanita yang ia kenali kini mengangkat sebuah pistol mempoint ke arah Lucy. “No!” Jerit Haechan.
Dorr