Sorry
Kayla membawa Kenzo yang sudah tergeletak lemah di depan gerbangnya, tentu saja Kayla tidak sendirian.
Keadaan Kenzo benar-benar kacau, bercak darah dimana-mana, bukan seperti habis berkelahi. Tapi lebih seperti habis di siksa.
Kenzo tidak sadarkan diri, namun dia dengan setianya menggenggam tangan Kayla. Sesekali dia juga menggumamkan nama Kayla beserta kaya 'sorry'.
Kenzo di obatin oleh dokter pribadi keluarga Kayla. Bahkan sang dokter sangat-sangat terkejut dengan keadaan Kenzo.
“Luka cambukan dimana-mana,” Ucap Sang dokter setelah selesai mengobati punggung Kenzo yang penuh dengan luka cambukan.
Januar dan Tristan sedikit kebingungan, darimana dia mendapat luka cambukan itu.
“Terimakasih dok,” Ucap Tristan lalu ia mengantar dokter itu keluar.
“Kakak tinggal di luar, habis ini biarin Kenzo istirahat, kamu tidur juga,” Perintah Januar ke Kayla.
Kayla mengangguk mengiyakan perintah sang kakak.
“Kay sakit,” lirih Kenzo dengan suara yang hampir seperti bisikan.
Kenzo tidur dengan posisi miring menghadap Kayla yang duduk di sampingnya. “Ezo kenapa bisa begini? Siapa yang nyakitin Ezo?” Tanya Kayla seraya mengusap pelan rambut Kenzo.
“Papa, gue di tarik paksa ke rumah papa,” jawabnya dengan terbata-bata. “Di sana ada Laura, yang jawab chat Lo Laura. Gue di siksa habis-habisan karena tidak bisa jaga Laura,” Sambungnya dengan air mata menetes di pipinya.
Kayla tidak heran, Kenzo pernah bilang bahwa jangan pernah bingung kalo ia nangis, karena ia juga manusia, ketika Lo nemuin gue sedang nangis, maka gue lagi di situasi yang sangat menyedihkan Kay. Perkataan itu sangat-sangat di ingat oleh Kayla.
Kenzo menceritakan semuanya, ia tidak pernah menyukai Laura, itu semua hanya suruhan dari papanya. Ledoardo sang papa dari Kenzo sudah mengikat sebuah janji dengan papa Laura, dan mereka harus saling menguntungkan satu sama lain.
Atas kejadian kemarin, papa Laura hampir saja membongkar sebuah rahasia dari papa Kenzo, dan ia merasa di khianati oleh papa Kenzo karena Kenzo yang perlahan menjauhi laura. Maka dari itu Kenzo di siksa habis-habisan oleh papanya.
Hati Kayla terasa sangat sakit mendengar semua cerita Kenzo, ia baru saja menerima cinta dari sahabat Kenzo sendiri. Apa Kenzo akan menerima kenyataan ini?
“Kay, jangan benci gue. Tunggu beberapa waktu lagi ya, gue juga mau hidup bebas Kay, maafin gue yang labil. Gue sayang sama Lo Kay, hanya cara gue aja yang salah Kay.” Ucapan Kenzo itu membuat Kayla meneteskan air mata.
“Ezo tidur ya, Kayla mau tidur di kamar sendiri, selamat tidur ezo!” Seru Kayla dengan bersemangat lalu ia segera berlari keluar dan memasuki kamarnya.
Kayla terduduk lemah di depan pintu kamarnya. Apa yang baru saja ia hadapi? Ia terbawa suasana, ia pikir bahwa Kenzo adalah penjahat sesungguhnya di hidupnya, tanpa mengetahui betapa kelam hidup Kenzo.
Kayla memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. “Cinta emang buat sakit Kay, fokus ke tujuan Lo!” Monolog Kayla, tidak Queen. Queen yang sedang menguasai dirinya sekarang walaupun itu di dalam kesadaran Kayla sendiri.
