Tenangin
“Tenang mbak, saya Jonathan kebetulan Danita ada di rumah saya,” jawab Pak Jonathan dengan tenang.
Aku hanya melihat pak Jonathan berbincang dengan sang penelepon yang aku tidak ketahui. Aku hanya menutup telingaku agar tidak lagi terdengar suara gemuruh petir di luar sana.
“Wait, wait Jonathan Melviano?” Tanya Sang penelepon.
“Iya saya, mbak kenal saya?” Tanya Pak Jonathan kembali.
“Ya kenal lah bego, gue Wendy, skip dulu btw,” jawab Wendy. “Sekarang Lo putar audio yang gue kirim di wa Dinata, Lo puter deketin ke dia,” lanjut Wendy memperjelas. “Kalo bisa Lo peluk, tenangin dah oke?”
Pak Jonathan mengerutkan keningnya kebingungan. “Oke,” jawabnya pelan.
Aku melihat sekilas pak Jonathan mengotak-atik handphone-ku. Dan perlahan ia mendekat. “No jangan, saya gamau di sakiti lagi, gamau,” tolak ku.
“Ini saya Danita, saya gak bakalan ngapa-ngapain kamu,” Jawab pak Jonathan dengan tenang.
Perlahan aku mendengar alunan irama piano dari handphone ku, itu sangat menenangkan. Perlahan aku menurunkan tangan yang sedari tadi berada di telinga.
Isakan dan sesak di dadaku perlahan mereda, aku menatap pak Jonathan untuk sesaat, namun seketika itu pula air mata ku turun dengan derasnya.
Pak Jonathan menarik aku ke pelukannya, mengusap punggung ku, dan juga rambut, aku sangat merasa nyaman, tenang, dan tidak merasa takut.
“Saya disini, tidak ada lagi yang bisa nyakiti kamu,” katanya dengan suara lembut.