The past —2

Gue menjelaskan semuanya tentang masa lalu buruk gue kepada Jeno. Gue hanya berharap dia tidak jijik melihat gue setelah ini.

“Lo tau? Kenapa gue bisa terlalu semangat dengan misi kemarin?” Tanya gue, “Karena gue merasa korban harus selamat, mereka punya masa depan yang cerah kelak,” Lanjut gue.

Jeno tersenyum tipis, mungkin dia merasa kasihan atas yang menimpa gue?

“How about you Lucy? Lo punya masa depan yang indah kelak,” Tuturnya.

Gue tertawa miris atas tuturan Jeno, apa iya? Gue bakalan mendapatkan masa depan yang indah di masa depan?.

“Setelah di perkosa pada usia 10 tahun?” Tanya gue dengan nada rendah.

Jeno mengangguk lalu ia meluruskan pandangannya ke arah langit. “Hal yang sama terjadi di gue, di lecehkan oleh lelaki,” Ucapnya terpotong karena kekehan. “Seberapa menjijikkannya Luc Lo lihat gue sekarang? Setelah gue masuk Irregular Agent gue stop di pake sama laki-laki itu,” Lanjutnya.

Gue shock, jantung gue seakan mau berhenti, ternyata Jeno mengalami hal yang lebih berat daripada gue.

“Walaupun Lo masuk ke dunia kriminal yang kejam ini bukan karena kehendak Lo, tapi Lo harus menerima semua ini dari devil yang ada disini,” ucap gue.

Jeno sedikit kebingungan atas ucapan gue, dia menatap gue dan dengan spontan gue juga ikut menatapnya.

“Maksud Lo?”

“I know what I shouldn't know Jen, You know what I mean?” Gue tersenyum miring lalu melanjutkan ucapan gue. “Apapun keputusan Lo kelak, kita sahabat Lo, mereka keluarga Lo. Apapun pilihan Lo keduanya pilihan yang tepat Ir-A001 Lee Jeno.”

Gue bangun dari duduk gue lalu segera melangkahkan kaki untuk menuju kembali ke markas dan mencoba untuk tidur.

“Dia tau?” Monolog Jeno.


“Saya siap untuk memata-matai mereka,” ucap seseorang misterius yang sedari tadi mendengar percakapan Jeno dan Lucy.

“Good then, saya harap kamu tidak berkhianat,” kata seseorang dari balik telpon.

“I'm sorry,” gumam orang misterius itu ketika telponnya terputus.