Titik Terakhir
“No!” Teriak Haechan, ia segera berlari dan berdiri di belakang Lucy.
Dorr
Suara tembakan tersebut berasal dari Yuqi, ia mendapatkan perintah dari Komandan untuk membunuh Lucy saat itu. Namun sayang peluru itu tidak mengenai Lucy, namun mengenai Haechan yang berada di belakang Lucy.
Jeno, Jaemin, Renjun, dan Juga Lucas kaget melihat hal tersebut, Lucas dengan segera menahan Yuqi membawanya menjauh dari sana.
“Tetap di tempat,” Seru seseorang. Suara orang tersebut membuat semua terdiam.
“Komandan Winwin,” Gumam Jeno. Benar Komandan Winwin berjalan menghampiri mereka dari arah belakang pihak Presiden Lee, Komandan Winwin tidaklah sendiri di belakangnya ada beberapa anggota BIN yang sudah siap sedia dengan senajata mereka.
Atasan Choi dan juga Johnny terlihat terkejut atas kedatangan Komandan Winwin, mereka sedikit ketakutan.
Atasan Choi hendak berbalik dan melangkahkan kakinya untuk kabur, namun sayang di belakang mereka sudah ada beberapa BIN yang di pimpin oleh komandan Kun.
“Jangan harap bisa kabur dari sini,” ancam Komandan Kun.
“Apa Komandan yang menyuruh Yuqi untuk membunuh Lucy?” Tanya Jeno.
Komandan Winwin menatap datar ke arah Lucy yang sedang menangisi kedua sahabatnya yang sudah berlumuran darah.
Komandan Winwin menarik bibirnya membentuk senyuman. “Vaksin itu harus di musnahkan,” Jawabnya.
Jeno merasa kesal mendengar jawaban dari komandannya. “Tapi bukannya Janji komandan untuk menyelamatkan kami ber-enam?” Tanya Jeno dengan nada emosi.
Komandan Winwin mengalihkan pandangannya ke Jeno. “Dulu, sebelum saya tau bahwa Vaksin berada di tubuh gadis itu iya. Namun sekarang, dengan membunuh gadis itu kita akan selamat Jeno. Cukup bawa 2 teman mu itu,” ucapnya menunjuk Renjun dan Jaemin.
Lucy sudah tidak tahan lagi dengan semua ini, di depan matanya ia harus melihat kedua sahabatnya terbunuh. Dan kini tubuhnya merasa sangat lemah.
Jeno hendak melawan, namun segera di tahan oleh Renjun dan Jaemin. “No, Lo membahayakan diri sendiri,” bisik Renjun.
Komandan Winwin mendekati Jeno, tatapan tajam Jeno menyoroti mata Komandan Winwin dengan kuat. “Perintah untuk mu, bunuh dia,” Perintah komandan Winwin seraya menyerahkan pistol ke Jeno.
Jeno menggeleng lemah, ia tidak akan pernah melakukan itu. “Jangan harap,” kecamnya.
“Kamu tidak bisa membantah, ini perintah,” Tajamnya.
Dengan langkah yang lemah, Lucy menghampiri Jeno, Renjun dan Jaemin. Anggota BIN sudah siap untuk menembak Lucy, namun di tahan oleh komandan Winwin.
Lucy memegang perutnya ia menahan agar darah di dalam tubuhnya tidak keluar secepat itu.
Lucy melemparkan sebuah kalung yang sebelumnya di beri oleh Winter. “Bawa bersama kalian,” ucapnya dengan lemah.
Lalu Lucy melangkahkan kakinya ke arah pembatas antara air dan daratan pelabuhan tersebut. Ketika sampai di pembatas tersebut, ia menaikit tembok pembatas itu dengan kaki lemahnya.
Ia tersenyum ke arah Johnny, lalu melemparkan pandangannya ke arah Jeno, ia mengangguk. “Do it,” ucapnya.
Jeno menggeleng, ia mendapatkan tatapan tajam dari komandan Winwin. “It's okay,” ucap Lucy dengan nada lemah, namun masih bisa di dengar oleh mereka.
Dengan tangan yang bergetar, Jeno mengangkat pistol yang ada di tangannya.
Lucy tersenyum, detik kemudian Jeno menarik pelatuk pistol tersebut. “Bagus Jeno,” puji Komandan Winwin.
Dorr
Peluru tersebut tertembak tepat di perut Lucy.
Byurr
Detik kemudian badan lemah Lucy jatuh ke dalam air. Lucy tidak berdaya lagi, ia tidak bisa menahan semua rasa sakit ini. Di tusuk, terkena peluru. Dadanya mulai terasa sesak, matanya mulai terasa meremang.
Sebuah bayangan ada di depannya, seperti ayahnya, ia segera meraih uluran tangan dari bayangan tersebut.
Titik terakhir dari perjuangan tidak selamanya indah, Titik Terakhir dari sebuah perjuangan tidak selamanya bahagia.
Ini adalah titik terakhir kehidupan dan perjuangan Lucy, ia akan hidup tenang setelah semua lika-liku kehidupan yang gelap.
Disisi lain Jeno, Renjun, Jaemin terduduk lemah setelah melihat sahabatnya bertubi-tubi tewas di depan mereka. Mereka tidak bisa menahan kesedihan ini, walaupun setiap harinya akan ada selisih paham, namun bukan perpisahan seperti ini yang mereka harapkan.
Komandan Kun menyuruh beberapa anggota BIN untuk meringkuh atasan Choi, dan juga Johnny, begitu juga dengan Komandan Winwin, ia segera memborgol tangan presiden Lee.
Mereka semua pergi dari tempat itu, kecuali Jeno, Renjun, Jaemin dan juga Lucas dan Yuqi yang harus melihat tangisan histeris dari ketiga Agent tersebut.