Trauma?
“Kalo gitu saya pulang ya, Danita mau bareng?” Tawar Dokter Jaffery. Aku menggeleng. “Duluan aja dok,” Tolakku.
“Saya permisi,” pamitnya.
“Syukur deh Andra gpp,” ucapku. Ternyata Andra alergi dengan susu sapi, namun baru sekarang ketahuan.
“Maaf ya kesannya saya nyalahin kamu, padahal saya yang salah,” sesal pak Jonathan.
Aku sedikit terkekeh melihat wajah merasa bersalah pak Jonathan. “Gpp pak, siapa juga yang gak khawatir kalo anaknya sakit,” ucapku.
Pak Jonathan hanya tersenyum simpul mendengar jawabanku.
“Kalo gitu saya juga pamit ya pak, selamat malam,” Pamitku sambil melangkahkan kaki.
“Saya anta-” ucapan Jonathan terjeda karena petir yang menyambar sangat keras.
Duaarrrrr
Mendengar suara petir yang sangat keras itu membuat aku terjatuh tersungkur karena kaget.
“Mama Maaf,” panikku sambil menutup telinga dengan kedua tanganku.
Pak Jonathan kelihatan panik melihat keadaan ku sekarang, perlahan ia mencoba meraih badanku. “Hei, kamu kenapa?” Tanyanya sambil memegang pundakku.
“Jangan, jangan mendekat!” Jerit ku sambil menyeret tubuhku ke belakang.
Trriing
Suara telefon berbunyi. Itu handphone aku, aku sangat ingin meraih, namun sialnya aku sangat ketakutan sekarang.
Aku melihat pak Jonathan mengambil handphone aku, lalu mengangkat panggilan masuk dari handphone ku.
“Danita! Kan gue udah bilang, petir, trauma Lo belum sembuh total Danita!” Marah seseorang dari balik telepon.
Pak Jonathan menyatukan alisnya keheranan. “Trauma?” Gumamnya.
“Hah? Kok cowo? Woi anying Lo siapa?!”