Lucy ah tidak Lusi, kini dia sudah hidup dengan nama baru, kehidupan baru.
Lusi duduk di sebuah bangku berhadapan dengan abangnya, Johnny Suh dengan kaca pembatas di antaranya.
“Abang apa kabar?” Tanya Lusi membuka omongan, namun tidak ada jawaban dari Johnny.
Johnny menunduk memainkan jari-jari tangannya yang terikat borgol. Sekarang Johnny sudah di tahan oleh BIN begitupun dengan atasan Choi dan semua Agent Regular, mereka sedang menunggu keputusan akhir sidang.
Lusi tersenyum tipis menatap abangnya yang lesu di hadapannya. “Abang makan yang teratur bukan?” Tanyanya lagi, namun masih sama tidak ada jawaban apa-apa dari Johnny.
Lusi merogoh saku baju yang ia pakai, mengeluarkan sebuah chocopie dari sakunya. Lusi meletakkan chocopie tersebut di meja pembatas antara ia dengan Johnny.
Johnny mengangkat kepalanya menatap Lusi, lalu menatap chocopie yang Lusi letakkan. “Abang ingat?” Tanya Lusi.
Johnny menatap mata Lusi sebentar, lalu mengangguk dan kembali menunduk. Lusi menarik senyumannya, ia sangat senang Johnny menjawab pertanyaannya walau hanya dengan anggukan.
Lusi menarik nafas panjang, membuangnya perlahan sebelum berbicara lagi. “Selamat ulang tahun Abang,” seru Lusi. “Selamat ulang tahun juga Lucy,” sambungnya.
Hari ini hari ulang tahun mereka berdua, hari yang di tunggu-tunggu oleh mereka setiap tahunnya sebelum semua ini terjadi. “Dulu papa seorang Jaksa tapi duitnya selalu gak cukup buat beli cake ulang tahun untuk kita,” ucap Lusi berhasil menarik perhatian Johnny.
Johnny menatap Lusi yang sedang berbicara tentang masa lalu mereka. “Sampai akhirnya mama sama kita punya ide buat jualan minuman sama jajanan di jalan-jalan,” Lanjut Lusi sambil tersenyum tipis.
Johnny tersenyum, ia mengingat semua masa lalu yang sangat indah baginya. “Tapi sayangnya duitnya cuman cukup beli chocopie, soalnya buat bayar hutang yang lainnya,” ucap Lusi seraya memanyunkan bibirnya.
Johnny tersenyum melihat ekspresi adiknya itu. Lusi yang melihat itu ia merasa sangat senang. “Mana cuman bisa beli chocopie 1, terus Abang dapet bagian yang sedikit,” keluhnya.
Johnny mengulum bibirnya mengingat bahwa setiap ulang tahun pasti ia selalu mengalah dengan sang adik.
“Tapi tenang-” Lusi menjeda ucapannya. Ia merogoh kembali kantong bajunya. “Taraaaa Lucy punya satu lagi, satu untuk Abang, satu untuk Lucy deh adil kan!” Seru Lucy kegirangan.
Johnny mengangguk seraya tersenyum, namun tiba-tiba bulir air mata jatuh membasahi celananya dengan segera Johnny menyeka air mata tersebut.
Johnny melihat adiknya memakan chocopie tersebut dengan lahap, ia mengambil chocopie pemberian Lusi dan memasukkannya ke kantong celana tahanan yang ia pakai.
“Enak, rasanya masih kayak yang dulu,” ucap Lusi setelah memakan habis.
Johnny mengangguk dan tersenyum ke Lusi. Lusi membalas senyuman Johnny, ia mendekatkan wajahnya ke kaca pembatas. “Tapi ukurannya jadi kecil banget,” ucap Lusi sambil terkekeh.
Johnny ikut terkekeh mendengar ucapan Lusi, ia sangat ingin memeluk adiknya sekarang juga. Namun bibirnya tidak sanggup mengucapkan satu katapun, ia merasa sangat berdosa kepada adik kecilnya ini.
