Panglimakun

Flashback

“Jeno!” Teriak Jaemin ketika ia melihat Jeno berlari dan loncat ke laut dimana Lucy tenggelam.

Jeno terus menyelam, matanya mencari dimana keberadaan Lucy. Mata Jeno menemukan Lucy yang pasrah di telan air, Jeno berenang semakin kuat dan semakin dalam mengejar Lucy. Ia dapat melihat bahwa Lucy masih sadar, bahkan Lucy mengulurkan tangannya ke Jeno. Tanpa membuang waktu ia segera menarik tangan Lucy dan membawanya ke permukaan

“Huahh,” Seru Jeno ketika kepalanya berhasil muncul di permukaan. Ia melambaikan tangan meminta bantuan.

“Lucas, Jeno selamat cepat panggil Boat evakuasi buat mereka!” Suruh Jaemin ke Lucas. Tanpa berpikir panjang Lucas berlari secepat mungkin.


“Ganti baju dulu Jen,” Suruh Yuqi ke Jeno, Jeno tidak menggubris perkataan Yuqi, ia sibuk mondar-mandir di depan ruangan sebuah rumah sakit.

“Apa bisa dia selamat?” Tanya Renjun ke Jaemin yang sekarang duduk di depan ruangan yang sama.

Lucas, dan komandan Winwin, beserta komandan Kun datang menghampiri Jeno.

“Kenapa kamu selamatkan dia?” Tanya Komandan Winwin setibanya mereka di sana.

Jeno menoleh ke arah mereka, ia menatap tajam sorot mata komandan Winwin. “Karena saya tau dia bisa selamat,” Jawabnya tegas.

“Ikut saya,” tutur Komandan Winwin seraya melangkahkan kakinya. Komandan Kun menepuk pundak Jeno seraya tersenyum. “Pergi,” ucapnya.

Jeno melangkahkan kakinya mengikuti Komandan Winwin, mereka berhenti di sebuah taman yang tampak sepi di rumah sakit ini.

“Kamu tau alasan saya memberi perintah seperti itu?” Tanya Komandan Winwin tiba-tiba.

Jeno menjawab dengan menggelengkan kepalanya. “Tidak,” Jawabnya dengan nada rendah.

“Dari semua Agent, hanya identitas dia yang terdaftar,” Lanjut Komandan Winwin.

Jeno sedikit kaget dan kebingungan, apa yang di maksud oleh Komandan Winwin. “Jika dia tetap hidup, maka dia harus mati seperti abangnya,” Sambung Komandan Winwin.

Jeno menghela nafas, ia tidak tau harus berbuat apa sekarang. “Apa tidak ada cara untuk menyelamatkannya?” Tanya Jeno.

Komandan Winwin menoleh ke arah Jeno, menatap manik mata Jeno yang berharap bahwa ada cara untuk menyelamatkan Lucy. “Identitas baru,” Jawabnya.

“Jadi itu alasan Komandan?” Tanya Jeno lagi.

Komandan Winwin mengangguk. “Dia harus mati agar mendapatkan identitas baru,” Jawabnya seraya menyerahkan sebuah dokumen.

Komandan Winwin beranjak dari sana meninggalkan Jeno sendiri, Jeno sedang membuka dokumen yang di kasih oleh komandan Winwin.

“Lusi,” gumamnya.

Seorang wanita berdiri tepat di depan 3 makam yang berderet di sana.

Di ketiga batu tersebut tertulis nama-nama mereka. “Lee Taeyong R-A001, Winter IR-A004, Haechan IR-A003,” Ucap wanita tersebut membaca satu persatu nama mereka.

“Hei,” suara berat dari seorang pria menyadarkannya dari lamunan, ia segera membalikkan badan dan melihat siapa sang pemilik suara tersebut.

Ia tersenyum melihat sang pemilik suara berat itu. “Hai Jen,” sapanya.

Pria yang bernama Jeno itu menghampirinya dan berdiri tepat di sampingnya ikut menatap 3 makam itu.

“Mereka sudah beristirahat dengan tenang,” ucapnya di saut anggukan oleh wanita itu.

“Lusi,” panggilnya. Ternyata wanita itu bernama Lusi. Wanita yang bernama Lusi itu menoleh ke arahnya. “Ya?” Tanyanya.

“Ini,” ujarnya seraya menyerahkan sebuah Handphone.

Lusi mengambil handphone itu dari tangan Jeno. “Thanks,” ucapnya.

Jeno mengangguk. “Gue duluan ya, jangan lama-lama disini,” ucapnya berpamitan.


Lusi melangkahkan kakinya, ia duduk di antara makan Winter dan Haechan. “Kita nonton sama-sama ya,” monolognya lalu ia memutar sebuah video dari Handphone yang di berikan oleh Jeno tadi.



Kirana POV

Gue lihat Jeno duduk di bangku dekat tempat tidur gue. “Jeno,” panggil gue membuat dia menatap ke arah gue.

“Kenapa?” Jawabnya.

Gue menghela nafas. “Gue cerita sekarang aja ya?” Tanyanya.

Gue melihat Jeno sedikit kebingungan, namun detik kemudian dia mengangguk. “Iya,” Jawabnya.

“2 tahun yang lalu mungkin lebih, mama sama papa terbunuh, katanya jatuh dari lantai atas rumah gue yang dulu,” Ucap gue.

Jeno menyatukan alisnya keheranan. “Katanya?” Tanyanya.

Gue mengangguk. “Di hari yang sama gue di temukan di tempat itu, namun dengan kepala yang sudah pecah akibat di pukul,” Jawab gue. “Jadinya gue lupa ingatan,” lanjut gue.

Gue melihat Jeno bangkit dari duduknya. Dia menghampiri gue. “Cepat sembuh ya, nanti habis Lo sembuh kita ke rumah lama,” ucapnya seraya mengelus rambut gue. “Gue keluar sebentar,” pamitnya lalu tubuhnya menghilang dari pandangan gue.

“Aneh,” gumam gue

“No!” Teriak Haechan, ia segera berlari dan berdiri di belakang Lucy.

Dorr

Suara tembakan tersebut berasal dari Yuqi, ia mendapatkan perintah dari Komandan untuk membunuh Lucy saat itu. Namun sayang peluru itu tidak mengenai Lucy, namun mengenai Haechan yang berada di belakang Lucy.

Jeno, Jaemin, Renjun, dan Juga Lucas kaget melihat hal tersebut, Lucas dengan segera menahan Yuqi membawanya menjauh dari sana.

“Tetap di tempat,” Seru seseorang. Suara orang tersebut membuat semua terdiam.

“Komandan Winwin,” Gumam Jeno. Benar Komandan Winwin berjalan menghampiri mereka dari arah belakang pihak Presiden Lee, Komandan Winwin tidaklah sendiri di belakangnya ada beberapa anggota BIN yang sudah siap sedia dengan senajata mereka.

Atasan Choi dan juga Johnny terlihat terkejut atas kedatangan Komandan Winwin, mereka sedikit ketakutan.

Atasan Choi hendak berbalik dan melangkahkan kakinya untuk kabur, namun sayang di belakang mereka sudah ada beberapa BIN yang di pimpin oleh komandan Kun.

“Jangan harap bisa kabur dari sini,” ancam Komandan Kun.


“Apa Komandan yang menyuruh Yuqi untuk membunuh Lucy?” Tanya Jeno.

Komandan Winwin menatap datar ke arah Lucy yang sedang menangisi kedua sahabatnya yang sudah berlumuran darah.

Komandan Winwin menarik bibirnya membentuk senyuman. “Vaksin itu harus di musnahkan,” Jawabnya.

Jeno merasa kesal mendengar jawaban dari komandannya. “Tapi bukannya Janji komandan untuk menyelamatkan kami ber-enam?” Tanya Jeno dengan nada emosi.

Komandan Winwin mengalihkan pandangannya ke Jeno. “Dulu, sebelum saya tau bahwa Vaksin berada di tubuh gadis itu iya. Namun sekarang, dengan membunuh gadis itu kita akan selamat Jeno. Cukup bawa 2 teman mu itu,” ucapnya menunjuk Renjun dan Jaemin.

Lucy sudah tidak tahan lagi dengan semua ini, di depan matanya ia harus melihat kedua sahabatnya terbunuh. Dan kini tubuhnya merasa sangat lemah.

Jeno hendak melawan, namun segera di tahan oleh Renjun dan Jaemin. “No, Lo membahayakan diri sendiri,” bisik Renjun.

Komandan Winwin mendekati Jeno, tatapan tajam Jeno menyoroti mata Komandan Winwin dengan kuat. “Perintah untuk mu, bunuh dia,” Perintah komandan Winwin seraya menyerahkan pistol ke Jeno.

Jeno menggeleng lemah, ia tidak akan pernah melakukan itu. “Jangan harap,” kecamnya.

“Kamu tidak bisa membantah, ini perintah,” Tajamnya.

Dengan langkah yang lemah, Lucy menghampiri Jeno, Renjun dan Jaemin. Anggota BIN sudah siap untuk menembak Lucy, namun di tahan oleh komandan Winwin.

Lucy memegang perutnya ia menahan agar darah di dalam tubuhnya tidak keluar secepat itu.

Lucy melemparkan sebuah kalung yang sebelumnya di beri oleh Winter. “Bawa bersama kalian,” ucapnya dengan lemah.

Lalu Lucy melangkahkan kakinya ke arah pembatas antara air dan daratan pelabuhan tersebut. Ketika sampai di pembatas tersebut, ia menaikit tembok pembatas itu dengan kaki lemahnya.

Ia tersenyum ke arah Johnny, lalu melemparkan pandangannya ke arah Jeno, ia mengangguk. “Do it,” ucapnya.

Jeno menggeleng, ia mendapatkan tatapan tajam dari komandan Winwin. “It's okay,” ucap Lucy dengan nada lemah, namun masih bisa di dengar oleh mereka.

Dengan tangan yang bergetar, Jeno mengangkat pistol yang ada di tangannya.

Lucy tersenyum, detik kemudian Jeno menarik pelatuk pistol tersebut. “Bagus Jeno,” puji Komandan Winwin.

Dorr

Peluru tersebut tertembak tepat di perut Lucy.

Byurr

Detik kemudian badan lemah Lucy jatuh ke dalam air. Lucy tidak berdaya lagi, ia tidak bisa menahan semua rasa sakit ini. Di tusuk, terkena peluru. Dadanya mulai terasa sesak, matanya mulai terasa meremang.

Sebuah bayangan ada di depannya, seperti ayahnya, ia segera meraih uluran tangan dari bayangan tersebut.

Titik terakhir dari perjuangan tidak selamanya indah, Titik Terakhir dari sebuah perjuangan tidak selamanya bahagia.

Ini adalah titik terakhir kehidupan dan perjuangan Lucy, ia akan hidup tenang setelah semua lika-liku kehidupan yang gelap.


Disisi lain Jeno, Renjun, Jaemin terduduk lemah setelah melihat sahabatnya bertubi-tubi tewas di depan mereka. Mereka tidak bisa menahan kesedihan ini, walaupun setiap harinya akan ada selisih paham, namun bukan perpisahan seperti ini yang mereka harapkan.

Komandan Kun menyuruh beberapa anggota BIN untuk meringkuh atasan Choi, dan juga Johnny, begitu juga dengan Komandan Winwin, ia segera memborgol tangan presiden Lee.

Mereka semua pergi dari tempat itu, kecuali Jeno, Renjun, Jaemin dan juga Lucas dan Yuqi yang harus melihat tangisan histeris dari ketiga Agent tersebut.

Kini para Agent Regular telah tiba di lokasi dimana Taeyong berada. Mereka menemukan Taeyong yang sudah tewas dengan luka cambukan di sekujur tubuhnya.

Taeil tersenyum simpul. “Bahkan dia tidak pernah gagal menjadi leader,” ucapnya.

Mereka berdiri sejajar di depan jenazah Taeyong, menatap Taeyong dengan sakit di dada mereka.

“Jika Leader saja berani menerima ini semua kenapa kita tidak?” Tutur Jaehyun, mereka semua mengangguk setuju.

Yuta melangkahkan kakinya, duduk di sebelah Jenazah Taeyong. “Ngapain?” Tanya Jungwoo.

Yuta terkekeh. “Menunggu orang yang akan membawa kita ke penjara, masa ia mau jalan sendiri? Capek,” katanya dengan nada bercanda.

Semua Agent regular tertawa renyah, mereka mengikuti Yuta, duduk di mana Jenazah Taeyong berada. “Semuanya benar-benar berakhir,” Ucap Doyoung. Semua Agent Regular hanya tersenyum simpul menatap tembok yang ada didepan sana bertuliskan.

'Thank You -JHS & LTY' Dengan darah.

Atasan Choi menatap Johnny dengan tatapan yang sangat marah, namun Johnny tidak mau menatap balik mata Atasan Choi. Tatapan Johnny tertuju ke Lucy, netra mereka saling ketemu satu sama lain.

“Jangan pernah kamu mengira, kamu adalah pemenangnya Choi, semuanya berakhir-” ucap Presiden Lee terjeda. “Disini,” sambungnya.

Atasan Choi menoleh ke Winter. “Kill,” bisiknya. Winter tersenyum ke arah lucy, ia mengeluarkan sebuah pisau di dalam sakunya. Lucy yang melihat winter, dengan langkah yang lemah ia melangkahkan sedikit demi sedikit ke belakang.

Para Agent Irregular hendak mendekati Lucy, namun sayang atasan Choi terlebih dahulu memberi kode agar semua bodyguard mengangkat senjatanya.

Johnny hanya terdiam, ia tidak bisa melakukan apapun sekarang. “Hai Lucy,” sapa winter.

“Gue tau Lo gak akan ngelaku-”

Ucapan Lucy terpotong, pisau yang ada di tangan winter kini menancap tepat di perutnya. “Uhukk,” Lucy terbatuk mengeluarkan darah dari mulutnya, dan air mata yang mengalir dari pipinya.

“M-maaf Lucy,” lirih Winter dengan nada penuh penyesalan. Lucy menunduk memegang pisau yang masih tertancap di perutnya dengan darah yang mengalir deras.

Sreeg

Suara pisau tercabut, ketika winter menarik pisau tersebut, lutut Lucy menjadi lemas, ia terduduk di depan winter. Winter mengarahkan pisau tersebut ke perutnya. Ia menatap Jeno, Renjun, dan juga Jaemin yang terdiam melihat keadaan sekarang. “Maaf,” lirihnya seraya tersenyum.

Lucy mengangkat kepalanya melihat winter yang berusaha menusuk pisau tersebut ke perutnya. “No,” tahan Lucy, namun sayang pisau tersebut kini menancap di perut winter.

“Uhukk.” Darah keluar dari batuk winter, ia terduduk lemah. Winter tidak sekuat Lucy, seketika ia terjatuh terbaring di jalan itu.

Air mata yang penuh penyesalan jatuh membasahi pipi winter. Lucy mengelus pipi winter dengan satu tangan, dan satu tangan menahan lukanya. “Bertahan,” lirihnya.

Winter tersenyum, ia mengambil sebuah kalung dari sakunya. “Bawa, ke Paris ya,” ucapnya terbata-bata. “Maafin gue, kesekian kalinya gue nyakiti Lo,” ucapnya dengan terputus-putus.

Lucy menggeleng. “Lo gak salah.” Ia berusaha menjawab ucapan winter namun rasa sakit yang ia rasakan tidak mungkin membuat ia berbicara banyak. “Win-” panggilnya ketika melihat winter memejamkan mata sepenuhnya.


“Shoot,” perintah seseorang.

Haechan melihat ke arah pihak Jeno, ia melihat seorang wanita yang ia kenali kini mengangkat sebuah pistol mempoint ke arah Lucy. “No!” Jerit Haechan.

Dorr

Lee Donghae atau kerap di panggil Presiden Lee, sekarang ia sedang berada seorang diri di sebuah pelabuhan. Ia sangat khawatir ketika melihat titik keberadaan anaknya melalui alat pelacak yang ada di kalung yang ia pakaikan ke anaknya Lee Jeno.

Ia terlihat panik, ia melihat ke sekeliling, tidak ada tanda-tanda keberadaan Jeno ataupun Choi.

Beberapa mobil berhenti di hadapan dia, manik matanya tertuju kepada seseorang yang sedang membawa pria dengan kepala tertutup. Dia adalah Choi, siapa yang ia bawa?

Atasan Choi berjalan menghampiri Presiden Lee, dengan beberapa bodyguard di belakangnya. Dan juga Winter dan Johnny di samping kiri kanannya.

“Hai sahabat lama, lama tidak berjumpa,” Sapa Atasan Choi.

“Tidak usah basa-basi, di mana anak saya?” Tanya Presiden Lee, ia sama sekali tidak menghiraukan sapaan dari Atasan Choi.

“Wow, apa saya tidak salah dengar Lee? Anak kamu?” Timpalnya.

“Saya tidak bercanda Choi, jangan main-main dengan nyawa,” Ucap Presiden Lee dengan tegas.

Atasan Choi terkekeh, namun tidak lama ia terdiam karena sebuah lampu mobil menyorot mukanya.

Mobil itu datang dari belakang Presiden Lee, mereka melihat Lucy, Jeno, Renjun, Jaemin dan juga Yuqi, Lucas turun dari mobil tersebut.

Jeno segera berdiri di hadapan Presiden Lee, ia mengamankan presiden Lee ke Lucas dan juga Yuqi.

“Sudahi permainan bodoh anda, membusuk lah di penjara,” Ujar Jeno dengan tajam.

Atasan Choi terkekeh lalu ia menoleh ke arah Johnny. “Apa itu para Agent kamu? Dari segitu banyak Agent, hanya 2 yang berguna,” tuturnya seraya menoleh ke winter.

Atasan Choi segera membuka penutup kepala seseorang yang ia bawa tadi. Orang itu adalah Haechan. “Help,” lirih Haechan seraya menatap teman-temannya secara bergantian.

Lucy melangkahkan kakinya hendak menghampiri Haechan, namun langkahnya tertahan ketika Presiden Lee membuka suara.

“Kamu tau Choi? Bahwa selama ini vaksin itu tidak ada di saya,” ucap Presiden Lee, membuat semua orang yang ada disana kebingungan.

“Gadis yang ada di tengah-tengah kita, anak dari Jae sook Suh bukan?” Sambungnya.

“Anak yang dulu kau siksa habis-habisan, ayahnya menyusup ke dalam lab untuk mengambil obat setelah melihat keadaan anaknya yang babak belur,” lanjutnya dengan tajam. Lucy menggenggam tangannya, ia merasak takut sekarang.

“Yang dia ambil bukan obat, namun vaksin yang kita buat selama ini.” Atasan Choi terlihat shock dengan ucapan Presiden Lee, begitupun dengan Johnny.

Dan semua Agent yang ada di sana termasuk Lucy. Dia tidak sadar bahwa selama ini vaksin ada di tubuhnya.

“Kenapa bisa seorang anak yang sudah di siksa habis-habisan bertahan hidup?” Tanya Presiden Lee. “Benar Choi, karena vaksin yang kita buat memperkuat daya tahan tubuh seseorang,” Lanjutnya.

“Terus kemana Virus nya?” Tanya Presiden Lee seraya menatap Johnny. “Lihatlah orang yang ada di sebelah kanan kamu Choi, orang yang kamu percaya. Dia yang memusnahkan virus tersebut,” ucap Presiden Lee dengan senyuman miring.

Lucy dan Jeno segera memasuki markas, dimana Lucas dan Yuqi sudah menunggu bersama dua Agent Irregular yang ikut dengan mereka.

Netra mereka bertemu satu sama lain, ketika Lucy dan Jeno masuk ke ruangan dimana mereka sudah menunggu. Lucy tersenyum simpul ketika melihat Agent Irregular tersebut ialah Jaemin dan juga Renjun. Dia sangat tau, bahwa tidak mungkin Haechan dan Winter akan berada di pihak Mereka.

“How?” Tanya Jeno seraya duduk di sofa di susuli oleh Lucy.

Jeno menatap Lucas, namun Lucas menatap kedua Agent Irregular untuk menjelaskan apa yang terjadi. Sedangkan Lucy dan Yuqi, mereka hanya menyimak.

Renjun menoleh ke Jaemin seakan-akan menyuruh Jaemin menjelaskan semuanya. Jaemin menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.

“Ini memang sudah di rencanakan, atasan Choi dan juga Agent regular. Mereka ingin kita terpecah belah,” kata Jaemin menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Renjun menatap Jeno dan Lucy bergantian, ia kembali menjelaskan dengan yakin. “Yang kalian tau bahwa presiden Lee terlacak di lab tersebut, itu tidak benar. Itu hanya strategi agar kalian terbunuh dalam ledakan-” ucapan Jaemin terpotong.

“Bom?” Tanya Jeno memotong ucapan Jaemin.

Jaemin mengangguk. “Ya, bom. Ketika kalian terbunuh, maka mereka akan menggunakan kalung itu untuk memancing presiden Lee keluar,” Lanjutnya.

Mereka semua menyimak penjelasan Jaemin, tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut mereka.

Lucy menatap Jaemin. “Lo tau di mana mereka akan berjumpa?” Tanya Lucy.

Jaemin mengangguk. “Di sebuah pelabuhan,” Jawabnya dengan tenang.

Jeno menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, memijit pelipisnya yang terasa sangat sakit memikirkan semua ini.

Lucy mengangguk, lalu ia menatap Lucas. “Bagaimana Winter dan Haechan?” Tanya Lucy ke Lucas, dia ingin memastikan kenapa Lucas tidak berhasil membawa Haechan dan Winter bersama mereka.

Lucas hanya menggeleng, ia tidak tau harus menjawab apa, ia sangat kebingungan. Begitupun dengan Yuqi. “Mungkin ada yang mereka rencanakan?” Tanya Yuqi sambil menatap Renjun dan Jaemin secara bergantian.

Mendengar pertanyaan Yuqi, Jeno segera menegakkan badannya lagi. Renjun mengangguk, lalu ia berkata, “Mereka tidak sejahat yang kita pikirkan.”

Lucy mencari-cari dimana keberadaan bom tersebut. Sial atasan Choi, ia sangat ingin menyayat badannya hidup-hidup. Ia sangat kesal kepadanya.

“Dapat !” Seru Lucy ketika melihat cahaya merah berkedip-kedip.

Jeno bernafas lega ketika mendengar seruan Lucy. “Bahaya?” Tanyanya.

“Coba Lo tanya ke tukang roti, ada bom yang gak bahaya?” Tanya Lucy kembali dengan nada kesal.

Jeno hanya cengengesan mendengar pertanyaan Lucy. “Kayaknya ini bom bakalan hitung mundur, kalo Lo angkat kaki Lo dari situ,” Jawab Lucy.

“Berapa detik?” Tanya Jeno.

“Anggap aja tiga detik, dalam hitungan ke tiga Lo lari ya,” seru Lucy. Jeno mengangguk.

“Tiga,” ucap Lucy mengitung langsung ke tiga dan dia segera berlari ke pintu keluar.

Dengan muka mengejek ia membalikkan badannya. “Lari lah bodoh,” cicitnya.

Jeno merasa kesal, mana ada cara menghitung seperti itu. “Lo yang bodoh,” balas Jeno dengan nada sedikit tajam.

Jeno menarik nafas perlahan, lalu membuangnya melalui mulut dengan kasar. “Tiga,” serunya, lalu ia segera berlari menghampiri Lucy.

Jeno merangkul pundak Lucy, lalu mereka berdua berlari keluar dari bangunan tersebut disusul dengan ledakan di belakangnya.


Lucy terkagum ketika melihat sebuah bangunan yang di depannya. “Ini Lab mereka?” Tanya Lucy dengan pandangan yang tidak lepas dari bangunan tersebut.

Jeno mengangguk. “Gak heran sih Atasan Choi bisa mendanai para Agent, dengan fasilitas yang begitu wahhhh,” Jawabnya di saut anggukan setuju oleh Lucy.

“Yaudah yok tunggu apalgi,” ajak Lucy. Lalu mereka berdua melangkahkan kaki ke dalam bangunan tersebut.


“Kayaknya para bodyguard atasan Choi ngamuk disini,” ucap Jeno ketika melihat keadaan bangunan ini yang sangat kacau berantakan.

“Kita telat,” Tutur Lucy.

Cklikk

Suara berasal dari pijakan Jeno. “Shit,” umpatnya.

“Wait, Lo injak-” ucapan Lucy terpotong.

“Bom,” saut Jeno memotong ucapan Lucy.

Lucy terngaga kaget. “Ini cuman tombol control-nya, Lo cari dimana letak bom itu,” suruh Jeno. Lucy mengangguk lalu segera mencari dimana keberadaan bom tersebut.