Panglimakun

Kayla melangkahkan kakinya dengan gembira di lorong sekolah, ia hendak menuju ke kelas Kenzo. Namun langkahnya terhenti ketika melihat di kelas Kenzo sudah rame, ada apa?

Sorot mata Kayla melihat ke arah anak-anak Warriors namun hanya ada Aksa, Raka, Elvano, dan juga Johan. Kemana Kenzo dan Kakanya Haris?

“Kak Aksa!” Seru Kayla memanggil Aksa. Mereka melihat serentak ke arah Kayla.

“Oh, hai Kay akhirnya lo mau ngomong sama gue,” Jawabnya.

“Itu kenapa? Ezo mana?” Tanya Kayla bertubi-tubi.

“Lo mau lihat?” Tanya Aksa disahut anggukan oleh Kayla.

Aksa merangkul pundak Kayla. “Permisi,” ucap Aksa menyuruh murid-murid yang sedang berkerumun di kelas mereka.

Kayla begitu shock ketika sudah masuk ke kelas Kenzo, ia melihat tulisan jahat di papan tulis kelas Kenzo. “Kenzo anak seorang pelacur, dia anak yang seharusnya tidak hadir, ibunya murahan,” kata Kayla membaca tulisan itu.

Dada Kayla terasa sakit ketika melihat tulisan itu. Kepalanya terasa pusing, seakan-akan ia pernah mendengar atau melihat kata yang sama di hidupnya.

Sorot mata menatap Kayla dengan kebingungan, namun Kayla tidak mau menghiraukan mereka. “Ezo dimana?” Tanya Kayla ke Aksa, Aksa mengangkat bahunya. “Gatau,” Jawabnya.

Kayla melangkah keluar dari kelas itu di ikuti oleh Aksa. “Kantin gas?” Tanya Aksa ke anak warriors yang lain.

“Gas!” Jawab mereka serentak.


“Pasti ezo di taman belakang,” Gumam Kayla.

Kayla terus melangkahkan kakinya menuju taman belakang, namun langkahnya lagi-lagi terhenti ketika melihat seseorang yang sangat ia kenali.

“Kak Haris,” monolog Kayla ketika melihat kakaknya Haris yang sedang di bully habis-habisan.

Kayla mengepalkan tangannya. “Tahan Kayla, kak Haris kuat kok.”

Kayla melanjutkan langkahnya, sorot matanya melihat seseorang disana, Kenzo! Yang ia cari sedari tadi.

Senyum di bibir Kayla melebar ketika melihat Kenzo, ia melangkahkan kakinya lagi untuk melihat jelas Kenzo disana. “Ez-” Kayla hendak memanggil Kenzo namun tertahan.

Ia melihat Kenzo yang sedang menangis di pelukan wanita yang ia kenali, siapa lagi kalo bukan Laura?

Hati Kayla terasa sesak, kakinya lemas. Ia melangkah mundur sedikit demi sedikit. “Kayla ini Kayla,” monolog Kayla sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sakit.

Tangan Kayla yang tadi sedang memukul-mukul dadanya terhenti, ia melihat permen yang hendak ia kasih ke Kenzo. “Hal manis harus di bayar dengan hal manis,” gumamnya. Lalu ia melangkah menghampiri Kenzo.

“Ezo!” Panggil Kayla, Kenzo kaget melihat kehadiran Kayla, begitu juga laura. Dengan cepat Kenzo menjauh dari Laura.

“Ini,” ucap Kayla seraya meletakkan permen di tangan Kenzo. “Permen?” Tanya Kenzo keheranan.

Kayla tersenyum lalu ia berbalik dan melangkah menjauh dari mereka. “Kayla, tunggu Kayla!” Teriak Kenzo, ia hendak bangun namun di tahan oleh Laura.

“Ken!” Kesal Luara. Tangan Laura di tepis oleh Kenzo dengan kuat. Kenzo berlari mengejar Kayla yang perlahan menjauh dimana dirinya berada.

Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sedang memantau mereka dari jauh. “Cih, murahan,” monolog orang itu.


Kenzo sudah berada di mobil orang suruhan ayah nya. Ia menggenakan setelan Jas rapi, mengingat sang ayah sangat tidak suka dengan pakaian amburadul.

Sang supir memberhentikan mobilnya tepat di gerbang sebuah rumah mewah, bahkan bisa di bilang sangat mewah.

“Ada apa kau kemari?” Tanya seorang bodyguard yang ada di u Luar. Sang supir mengode bahwa ada Kenzo di belakang, mereka segera membungkuk lalu menyuruh penjaga gerbang untuk membuka gerbang tersebut.

“Selamat malam Daddy,” sapa Kenzo setiba di ruangan sang ayah.

Sang ayah tersenyum dan menyuruh Kenzo untuk duduk di depannya.

“Kamu kenal?” Tanya Sang ayah seraya menunjukan sebuah foto.

Kenzo melihat foto tersebut lalu ia menyatukan alisnya, ia sangat kenal dengan orang itu. “Januar Pratama,” Jawab Kenzo.

Ayahnya mengangguk. “Pebisnis yang sangat sukses. Tapi kamu tau sesuatu Jauzan,” Ucap Ayahnya, Kenzo hanya menggelengkan kepalanya tidak tau.

“He is the son of Da'Luka,” Lanjut sang ayah membuat Kenzo kaget.

“No Daddy, He was dead,” bantah Kenzo. “Dan Daddy yang ngebunuh keluarga mafia itu dengan kejamnya,” sambung Kenzo.

Sang ayah menggeleng. “Daddy hanya membunuh Dario De'Luka, Kenzo,” Bantah sang ayah.

“Kamu tau bukan dia mempunyai seorang anak?” Tanya sang ayah.

Kenzo enggan untuk menjawab. “Haris, apa hubungan dia dengan Januar? Jika memang Januar adalah anak dari Dario, maka dia punya lebih dari 1 anak bukan?” Lanjutnya.

Kenzo hanya terdiam, memang benar Haris mempunyai 8 Abang dan 1 adik. Tapi tidak mungkin. “No, Daddy! Cukup! Cukup tanah seluas ini, rumah dan juga sekolah yang Daddy rebut dari om Dario!” Seru Kenzo. “Kenapa Daddy sanggup mengkhianati sahabat sendiri ?” Tanya Kenzo dengan sinis.

Sang ayah menatap tajam Kenzo, ia membuat sebuah smirk di bibirnya. “Saya tidak suka dia lebih sukses dari saya Jauzan. Jika tidak kamu tidak akan sekaya ini sekarang,” Jawab Ayahnya.

“Cepat atau lambat Daddy akan muncul di sekolah, dan memperkenalkan kamu sebagai anak Daddy, dan tanggung jawab kamu akan semakin besar!” Ucap Sang ayah.

“No!” Tolak Kenzo dengan tegas. “Cukup Abang Kenzo yang Daddy buat setres di Spanyol, biarkan Kenzo hidup dengan tenang disini,” sambungnya.

Kenzo tersenyum miring lalu ia berkata. “Cukup mommy dan Abang yang jadi korban ketamakan Daddy!” Lanjutnya lalu pergi dari hadapan sang ayah.

“Arghhhh!” Teriak ayah Kenzo seraya melempar segala yang ada di atas mejanya.


Kenzo meminta izin ke araster Zone selaku para Abang Kayla. Tanpa basa-basi mereka mengizinkan Kenzo untuk masuk ke dalam kamar Kayla.

Bagaimanapun mereka yakin Kayla tidak baik-baik saja seperti yang mereka kira. Mereka memang berjumlah banyak, tapi tidak satupun dari mereka dapat membantu Kayla untuk mengontrol dirinya, hanya Kenzo orang yang berhasil.

“Ken tetep jaga adek gue supaya baik-baik aja ya,” Ucap Jack seraya menepuk pundak Kenzo sebelum Kenzo memasuki kamar Kayla.

Kenzo mengangguk lalu ia masuk ke kamar Kayla. Ia melihat gadis manja yang sangat ia jaga itu sedang terduduk di kasurnya dengan memeluk erat kedua kakinya.

Ia menghampiri Kayla, mendudukkan dirinya di samping Kayla. “Kayla,” panggilnya lembut.

Kayla yang sadar atas kehadiran kenzo ia segera mengangkat kepalanya. Kenzo sedikit shock melihat keadaan sang gadis, mata sembab kemerahan dan pipi yang sangat basah oleh air mata.

“Ezo,” lirihnya lalu memeluk Kenzo dengan erat.

Kenzo tersenyum ia membalas pelukan sang gadis, mengelus lembut rambut hingga punggung Kayla, agar ia merasa tenang.

“Siapa yang bikin cantiknya Ezo nangis hm?” Tanyanya dengan suara yang sangat halus membuat kayla sedikit merasa nyaman.

“Queen,” Jawab Kayla lemah.

Kenzo mendengus mendengar jawaban Kayla. “Mereka jahat, Queen gak suka,” sambung Kayla dengan tersedu-sedu.

“Hei tatap mata Ezo sini,” suruh Kenzo seraya menangkup pipi Kayla. Kayla menatap sorot mata Kenzo, mata yang dari dulu bisa menenangkan dirinya.

“Banyak orang jahat disana, dan kita gak bisa merubah dan menahan mereka,” kata Kenzo. “Tapi Kayla tau, ada Ezo ada Abang-abang kamu berjumlah 9 orang, ada anak-anak warriors sekarang mereka jaga kamu,” sambungnya.

Air mata Kayla semakin deras mengalir mendengar ucapan Kenzo. “Dia jahat, tapi dia di sayang papa. Kayla sayang papa. Queen gak sayang Kayla, Kayla takut ezo.” Perkataan Kayla membuat hati Kenzo sakit, ia terbayang gimana gelapnya kehidupan sang gadis di masa lalu.

Itu alasan dirinya selalu menjaga sang gadis, ia tidak mau melihat Kayla seperti ini. Dan ini alasan mengapa dirinya sama sekali tidak jijik ketika melihat Kayla dengan sifat manjanya, karena dia harus mempertahankan itu agar tidak di kuasai oleh orang lain.

Kenzo tersenyum ke Kayla menyeka air mata Kayla yang terus-menerus turun. “Tidur ya?” Tanyanya. Kayla menggeleng kuat.

Namun Kenzo tetap membawa tubuh Kayla agar menjadi posisi tidur, ia meniduri Kayla di sampingnya dengan kepala yang bertumpu di atas tangan kanannya.

“Ezo,” Panggil Kayla.

“Hm?”

“Jangan tinggalin Kayla,” mohon Kayla. Mendengar itu Kenzo menarik Kayla agar lebih dekat dengan dirinya.

“Never,” sahut Kenzo.


Perlahan Kenzo meninggalkan tempat tidur Kayla, ketika ia melihat sang gadis telah terlelap.

Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar Kayla. “Tuhan ku!” Kenzo mengelus dadanya karena kaget ketika melihat para Abang Kayla telah siap dengan perkakasnya masing-masing.

“Siapa suruh peluk-peluk?” Tanya Thomas dengan tatapan tajam.

“Bawa dia kemari,” seru Januar lalu mereka semua melangkahkan kaki ke ruang tengah.

“Kan udah gue bilang bro, mending sama gue!” Cicit Jack membuat Kenzo merinding kesekian kalinya.


“Jadi kenapa ibu memanggil wali Kayla ke sekolah? Tanya Tristan setibanya mereka di ruang guru.

“Jadi gini pak, sebelum itu boleh saya tau anda siapa?” Tanya sang guru ke Tristan.

“Saya Tristan Abang kedua Kayla,” Jawabnya. Sang guru mengangguk.

“Saya Ema, panggil saja Miss Ema,” ucap Miss Ema memperkenalkan diri. “Saya selaku wali kelas dari Kayla,” sambungnya.

“Pada saat kejadian murid jatuh dari lantai 3 yang bertepatan di perpustakaan, ada salah satu murid yang bersaksi bahwa Kayla hendak ke perpustakaan. Apa itu benar Kayla?” Tanya Miss Ema.

Dengan muka polos dan tenang Kayla mengangguk. “Eum ! Kayla memang ke Perpustakaan, kaya tidak tau bahwa perpustakaan tutup. Dan Kayla melihat susu, merah keluar,” Jawab Kayla dengan tenang.

Miss Ema sedikit kebingungan. “Susu, merah?” Tanyanya.

“Itu kata lain yang di ciptakan Kayla untuk darah,” Jawab Tristan memperjelas.

Miss Ema mengangguk, lalu ia permisi untuk memanggil seseorang di luar.

Tristan tersenyum ke arah adiknya. “Jangan takut kalo gak salah,” ucap Tristan menenangkan Kayla.

Kayla mengangguk dan membalas senyuman abangnya.

“Ini Fitri teman dari Dewi yang menjadi korban kemarin,” kata Miss Ema setelah masuk dengan seorang siswi yang gelagatnya sedikit panik.

Kayla melihat siswi tersebut lalu memberikan senyuman manis. “Miss saya yakin dia kemarin pas di bawa megang susu, saya yakin Miss,” keluh Fitri dengan panik.

Miss Ema menenangkan Fitri lalu membawanya duduk di sebelah dirinya. “Apa benar kamu memegang susu saat itu?” Tanya Miss Ema ke Kayla.

Kayla lagi-lagi mengangguk. “Di depan perpustakaan ada Vending machine, Kayla beli di situ Miss,” Jawab Kayla.

Fitri menatap Kayla dengan tatapan tajam. “No! Itu punya Dewi, kamu memegang susu strawberry punya Dewi!” Bentak Fitri.

Tristan menatap Fitri dengan tatapan tajam mengintimidasi. “Jangan sampai tuduhan bodoh mu itu membuat saya marah,” ancam Tristan membuat Fitri menciut.

“Tenang semuanya,” Ucap Miss Ema. “Apa benar itu punya dewi?” Tanya Miss Ema lagi.

Kini Kayla menggeleng dengan yakin. “Kayla membeli susu vanilla, Kayla memberinya ke ezo,” Jawab Kayla.

“Ezo?”

“Kenzo Jauzan,” Jawab Tristan.


“Iya benar, saya tidak suka susu strawberry dan kemarin Kayla menawarkan saya Susu vanilla,” Ungkap Kenzo ketika di tanya oleh Miss Ema.

Miss Ema mengangguk. “Kamu boleh keluar,” ucap Miss Ema mempersilahkan Kenzo untuk keluar.

Kenzo menatap Kayla, begitu juga dengan Kayla. Kenzo hendak memegang bahu Kayla namun di urungkan karena tatapan tajam dari Tristan seakan-akan siap untuk memanggangnya. “Semangat!” Seru Kenzo menyemangati Kayla.

“Iya ezo,” Jawab Kayla.

Kenzo melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. “Jadi gimana?” Tanya Tristan ke Miss Ema.

“Apa benar itu Kayla Fitri?” Kini Miss Ema bertanya ke Fitri yang sedang menunduk.

“Dewi gak suka susu vanilla, dia akan muntah-muntah,” Jawab Fitri dengan suara yang pelan.

Tristan tertawa sinis mendengar jawaban Fitri. “Cukup adik saya Haris yang saya diamkan ketika kalian diam melihat dia di bully,” ucap Tristan dengan nada rendah mengancam. “Jika kalian berani menuduh Kayla dan memperlakukan Kayla sama buruknya seperti murid yang lain-”

“Kak,” panggil Kayla menenangkan Tristan. Namun Tristan malah membelai rambut sang adik, dan berdiri dari duduknya.

“Jangan harap sekolah kalian akan aman,” ancam Tristan lalu menarik Kayla pergi dari ruangan tersebut.


!(https://i.imgur.com/C4ewMYQ.jpg)

Kayla beserta Harus menahan tawa di belakang pintu melihat raut wajah Kenzo yang sedang di sidang oleh Januar dan juga Tristan.

“Jemput dek kasihan,” suruh Haris dengan suara pelan.

Kayla terkekeh lalu ia segera keluar. “Permisi ini tamunya adek,” Ucap Kayla seraya menarik tangan Kenzo.

“Adek!” Seru bang Januar.

“Kakak!” Ucap Kayla mengikuti gaya bicara Januar.

Januar memang tidak bisa marah kepada sang adik yang satu ini. “Awas macem-macem ya,” ancam nya dengan tatapan tajam ke Kenzo.

Kenzo mengangguk. “Dua macam bang,” jawabnya membuat Tristan siap-siap melempar sendalnya.


“Kan udah di bilang jangan kesini!” Ketus Kayla ke Kenzo.

Kenzo mengacak rambut Kayla gemes. “Nenek lampir buat kamu kesel hm?” Tanyanya.

Kayla tersenyum tipis, namun ia segera menunjukkan raut wajah kesal. “Eum! Mawwu Kayla gigit tuh nenek lampir, masa prince nya Kayla di tarik-tarik,” Ucap Kayla seraya memperagakan seolah-olah ia akan menggigit nenek Lampir tersebut.

“Kak Laura nenek lampir!” Lanjutnya membuat Kenzo tertawa.

“Dari dulu gak berubah, makin gemes aja Lo, pacaran yok?” Cetus Kenzo membuat Kayla terdiam.

Namun mereka di kagetkan akan sesuatu. “Heh heh heh!” Seru abang-abang Kayla, dengan perkakas satu-satu di tangan mereka.

Ada yang bawa sendal sampai panci dapur. Kayla segera mendorong Kenzo ke rombongan Araster Zone. Kenzo menatap Kayla kebingungan.

“Kayla mau bobo, ezo aja di marahin ya kakak byeeeee,” ucapnya.

Jack merangkul Kenzo. “Sama gue aja gimana pacarannya?” Tanya Jack membuat Kenzo bergidik ngeri.


Ceklek

Kayla membuka pintu ruang kerja Januar, ia melihat sang kakak sedang membaca berkas-berkas yang ada di depannya.

Januar melihat ke arah pintu, melihat sang adik yang sedang berdiri dan menunduk ketakutan. “Come,” ucapnya.

Kayla menutup kembali pintu ruang kerja tersebut, ia berjalan ke depan sang kakak, dan duduk di bangku yang di depan meja kerja Januar.

“Am i scaring you, little girl?” Tanya Januar kepada sang adik dengan suara rendah.

Kayla sangat takut dengan sang kakak, apalagi tatapannya yang sangat tajam itu. “Iyya,” Jawab Kayla dengan pandangan yang masih kebawah.

“Apa kakak di bawah situ?” Tanya Januar.

Kayla menggeleng lalu mengangkat kepalanya dan menatap mata tajam sang kakak. “I'm sorry,” lirih Kayla dengan nada yang terdengar sangat imut.

Januar tersenyum mendengar suara imut sang adik, dia sama sekali tidak berniat untuk membuat sang adik takut. “Mana tangan adek?” Tanya Januar.

Kayla mengangkat kedua tangannya, meletakkan di meja kerja Januar. Januar meraih tangan mungil sang adik, lalu mengecupnya bergantian. “Tangan ini, tidak boleh sedikitpun berdarah, atau kena darah. Tangan ini sangat berharga bagi Kakak-kakak kamu, karena kita sayang sama kamu,” ucap Januar dengan lembut, membuat hati Kayla sedikit tenang.

Kayla mengangguk. “Bukan Kayla kakak,” Ucap Kayla seakan sedang mengakui sesuatu.

Januar mengangguk. “I know sweet heart, besok Kak Tristan yang ke sekolah oke?”

“Ottay!” Seru Kayla semangat, sekarang dia tidak takut lagi dengan Januar.

Januar merentangkan kedua tangannya. “Hug me please,” mohon nya kepada sang adik.

Kayla tersenyum lebar lalu berdiri dan menghampiri Januar. Ia masuk ke dalam pelukan sang kakak, pelukan yang sangat nyaman dan aman.

“Kamu yang paling berharga buat kakak,” ucap Januar seraya mengecup kening sang adik.

Kayla mendongakkan kepalanya menatap Januar. “I know,” jawabnya dengan sombong membuat Januar terkekeh.

Ceklek

Kayla membuka pintu ruang kerja Januar, ia melihat sang kakak sedang membaca berkas-berkas yang ada di depannya.

Januar melihat ke arah pintu, melihat sang adik yang sedang berdiri dan menunduk ketakutan. “Come,” ucapnya.

Kayla menutup kembali pintu ruang kerja tersebut, ia berjalan ke depan sang kakak, dan duduk di bangku yang di depan meja kerja Januar.

“Am i scaring you, little girl?” Tanya Januar kepada sang adik dengan suara rendah.

Kayla sangat takut dengan sang kakak, apalagi tatapannya yang sangat tajam itu. “Iyya,” Jawab Kayla dengan pandangan yang masih kebawah.

“Apa kakak di bawah situ?” Tanya Januar.

Kayla menggeleng lalu mengangkat kepalanya dan menatap mata tajam sang kakak. “I'm sorry,” lirih Kayla dengan nada yang terdengar sangat imut.

Januar tersenyum mendengar suara imut sang adik, dia sama sekali tidak berniat untuk membuat sang adik takut. “Mana tangan adek?” Tanya Januar.

Kayla mengangkat kedua tangannya, meletakkan di meja kerja Januar. Januar meraih tangan mungil sang adik, lalu mengecupnya bergantian. “Tangan ini, tidak boleh sedikitpun berdarah, atau kena darah. Tangan ini sangat berharga bagi Kakak-kakak kamu, karena kita sayang sama kamu,” ucap Januar dengan lembut, membuat hati Kayla sedikit tenang.

Kayla mengangguk. “Bukan Kayla kakak,” Ucap Kayla seakan sedang mengakui sesuatu.

Januar mengangguk. “I know sweet heart, besok Kak Tristan yang ke sekolah oke?”

“Ottay!” Seru Kayla semangat, sekarang dia tidak takut lagi dengan Januar.

Januar merentangkan kedua tangannya. “Hug me please,” mohon nya kepada sang adik.

Kayla tersenyum lebar lalu berdiri dan menghampiri Januar. Ia masuk ke dalam pelukan sang kakak, pelukan yang sangat nyaman dan aman.

“Kamu yang paling berharga buat kakak,” ucap Januar seraya mengecup kening sang adik.

Kayla mendongakkan kepalanya menatap Januar. “I know,” jawabnya dengan sombong membuat Januar terkekeh.

Semua mata para murid Neo Zen High school, tertuju pada Kayla yang baru saja turun dari mobil antaranya.

Hari ini Kayla di antar oleh Januar, karena Tristan sedang ada perkejaan. Walaupun semalam Tristan bersikeras ingin mengantar Kayla karena ia sangat khawatir kepada Kayla.

“Kakak, Kayla mau ke Kak Haris sama Kak ezo di sana,” Ujar Kayla Ke Januar seraya menunjuk rombongan warriors.

Januar mengangguk, lalu mengacak gemas rambut sang adik. “Yaudah sana, kakak ke kantor guru dulu ya. Hati-hati adek,” ucapnya mengizinkan Kayla.

Kayla langsung berlari ke arah warriors yang sedari tadi juga ikut melihat Kayla. “Hai Kak Haris, Hai kak Ezo,” Sapa Kayla ketika sampe di sana.

“Hai neng geulis,” sapa Aksa, namun sapaan Aksa di cuekin oleh Kayla. Raka dan Johan yang melihat itu tidak dapat menahan tawanya.

“Makanya jangan sksd,” bisik Johan sambil menyikut tangan Aksa. Aksa hanya bisa memberikan ekspresi kekesalannya karena di ejek oleh Johan.

“Hai adek,” sapa Haris balik.

“Kenapa mata semua orang lihat ke Kayla ya Ezo?” Tanya Kayla sambil mendongakkan kepalanya menatap mata Kenzo.

Kenzo melihat ke sekitar dan benar saja, semua mata menuju ke Kayla. “Karena kamu cantik,” Jawab Kenzo dengan tenang seraya mengacak rambut Kayla.

Teman-teman Kenzo bergidik ngeri dengan ucapan Kenzo barusan, namun berbeda dengan Kayla dia malah terlihat senang.

“Hai kak El, hai kak Raka, hai kak Johan,” Sapa Kayla satu persatu seraya melambaikan tangan.

“Hai Kayla,” jawab Raka dan Johan berbarengan.

“Hai adek,” Jawab Elvano kemudian.

“Kok gue gak di sapa?” Tanya Aksa berbisik ke Johan.

Johan mengangkat bahunya. Haris menghampiri Aksa lalu berbisik sesuatu ke dirinya. “Fyi aja nih, dia gak suka di sapa duluan. Kesannya Lo pedofil,” ucap Haris ke Aksa, membuat Aksa kaget.

Aksa menatap ke arah Kayla, namun Kayla tidak mau menatap balik ke arahnya. “Gimana dong ini,” lirih Aksa ke Haris dan Johan.

“Gatau,” ucap mereka berbarengan.


“Hai Ken,” sapa seorang cewe yang baru saja sampai di rombongan mereka. Cewe tersebut langsung merangkul tangan Kenzo. Kayla yang melihat itu menatap Kenzo dengan tatapan tidak suka.

Kenzo yang sadar ia segera melepas tangannya dari cewe tersebut. “Hai Laura,” sahutnya.

Cewe bernama Laura tersebut merasa keheranan. Lalu ia mengalihkan pandangannya menatap Kayla. “Anak baru?” Tanya Laura.

Kayla tersenyum kearah Laura. “Aku Kayla kak,” ucap Laura memperkenalkan diri. “Laura,” Jawab Laura singkat.

“Itu temen gue Poppy,” lanjutnya memperkenalkan temannya.

“Hai kak Poppy, nama kakak kayak dog,” cetus Kayla blak-blakan membuat Warriors tertawa.

Kayla menatap Haris. “Iyakan kak? Kayak dog papa,” sambungnya.

Haris mengangguk sambil menahan tawa.

“Sumpah nih anak annoying banget sih, gue Jambak ya?” Bisik Poppy ke Laura. Laura hanya menatap Poppy sesaat, tidak menghiraukan ucapan Poppy.

Kayla yang melihat Laura dan Poppy berbisik ia berkata. “Kalo kata Papa gak boleh berbisik di kalangan rame, nanti timbul ke salah pahaman.”

Perkataan Kayla membuat semua yang ada disitu tertawa. Namun tidak dengan Poppy dan Laura, ia sangat kesal dengan kehadiran Kayla.

Kayla hanya tersenyum menunjukkan ekspresi polosnya melihat raut wajah Poppy yang kesal terhadap dirinya.



Jaehyun, Johnny, dan Juga Doyoung sekarang berada di sebuah ruangan tertutup milik Jaehyun. Mereka sedang berdiskusi tentang kasus head Hunter yang lagi heboh belakangan ini.

“Jadi maksud Lo ini pembunuh yang sama, tapi dengan motif yang berbeda?” Tanya Doyoung ke Johnny ketika Johnny selesai menjelaskan.

Johnny mengangguk. “Dari beberapa kasus yang dulu ia lakukan, pasti dia selalu memenggal kepala korban. Namun di kasus Acha dan juga Jaemin, dia tidak melakukan itu. Seakan-akan ada tujuan lain dari dirinya,” Jawab Johnny.

Jaehyun menyimak penjelasan Johnny dengan seksama, bahkan ia tidak berbicara sedikitpun. Berbeda dengan Doyoung yang selalu menanyakan sekecil apapun pertanyaannya.

“Darimana lo bisa memastikan itu?” Tanya Doyoung lagi.

Jaehyun menghela nafas kasar, tangannya berada di meja dengan satu tangan memainkan pulpen. “Pada saat menginvestasi ada yang namanya duga-menduga. Dan kita akan mencari apa dugaan itu benar? Dengan cara mengumpulkan bukti-bukti yang ada,” Jawab Jaehyun, Johnny mengangguk setuju.

Doyoung menatap kedua sahabatnya bergantian, dia kelihatan gelisah. “Gue gak paham, itu urusan kalian. Gue pamit,” pamitnya lalu beranjak dari ruangan tersebut.

Johnny tersenyum miring melihat tingkah Doyoung. “Lo pernah iri sama seseorang kaga Jae?” Tanya Johnny seraya menarik bangku lalu duduk di bangku tersebut.

Jaehyun mengalihkan pandangannya menjadi menatap Johnny. “Tidak,” Jawabnya singkat.

Johnny mengangguk. “Seandainya sarung tangan itu masih ada,” keluh Johnny.

Ucapan 'sarung tangan' yang keluar dari mulut Johnny membuat Jaehyun teringat akan sesuatu.

“Gue duluan,” pamit Jaehyun lalu meninggalkan Johnny sendirian.

Johnny terkekeh lalu ia merogoh kantongnya sebuah sarung tangan yang di taro didalam plastik. “Selamat,” monolognya.

Aku tertidur menatap langit-langit kamar ku, namun sesuatu teringat dalam pikiranku. Tentang dia, Taeyong orang yang yang sangat sayangi.

Flashback

Hari ini hujan, aku sedang berteduh di halte bus. Sedang menunggu kedatangan bus tentu saja. Karena aku sadar diri, aku jomblo dan tidak ada yang akan menjemput ku.

Sekarang sudah larut malam, jujur aku sangat takut. Aku takut akan menjadi korban kejahatan, namun aku tetap berdoa agar di jauhi dari bahaya.

“Hai,” sapa seseorang yang baru saja duduk di sampingku. Jujur aku sangat kaget dan juga takut, namun di lihat dari penampilannya dia orang baik.

Aku merogoh tas sampingku, mengambil sesuatu di dalam sana. “Ini pake,” ucap ku ke orang itu seraya menyerahkan sebotol minyak kayu putih.

Orang itu sedikit kaget dan menatap mataku. “Biar hangat, oh iya kenalin aku Jo, nama lengkap nanti aja kalo udah kenal lama,” ujarku memperkenalkan diri.

Orang tersebut mengambil minyak kayu putih pemberianku, lalu ia menuangkannya ke telapak tangannya. “Taeyong, panggil senyaman kamu,” Jawab orang itu yang bernama Taeyong.

Aku berbincang dan bercanda gurau dengan Taeyong, siapa sangka dia seseorang yang humoris? Bahkan ada saja candaan dari dirinya yang membuat diriku tertawa.

Tidak terasa hari semakin larut, namun bus tujuanku tak kunjung datang. Aku mulai gelisah, mana sekarang sangat dingin.

“Mau saya antar?” Tawarnya sukses membuat ku terkejut.

“Antar?” Tanyaku kebingungan.

Dia tersenyum ke arahku. “Saya bawa mobil, namun saya parkir disana,” Jawabnya seraya menunjuk sebuah mobil tidak jauh dari mereka. “Saya turun karena lihat kamu sendirian, tadi ada orang yang lihatin kamu dari jauh,” Sambungnya.

Ucapan dia membuat aku sangat terkejut, jadi dari tadi dia berusaha menjaga ku. “Kenapa?” Tanyaku pelan.

“Cinta tidak ada alasan Jo, ayo saya antar keburu kamu beku disini,” Jawabnya membuat aku mematung. Namun aku tetap mengikuti dia ke mobilnya.

Dan yang membuat aku kaget lagi adalah, dia membuka jaketnya dan melindungi kepala ku sepanjang perjalanan agar tidak terkena hujan. Bahkan ia mengantarku sampai ke depan pintu mobil.

Setelah di dalam mobil ia menghidupkan penghangat di mobilnya, lalu menjalankan mobil tersebut.

“Biar saya saja yang sakit, kamu jangan,” tuturnya tiba-tiba.

Flashback off

Aku menjerit dan berguling-guling di atas kasur mengingat kejadian dulu. Dia benar-benar menjadikan ku seorang ratu di hidupnya, dia selalu bilang sangat beruntung mendapatkan ku.

Namun nyatanya aku lah yang sangat beruntung. Terimakasih Taeyong.