Panglimakun

Kini seluruh Agent Irregular sudah berada di sebuah rumah yang di jadikan tempat persembunyian Jeno, Lucas, Yuqi beserta Lucy beberapa hari ini.

“Ayo jelaskan kenapa Lo masih hidup,” tagih winter ke Lucy.

Lucy terkekeh pelan lalu mengangguk. “Gue jelasin dari awal.”

“Jadi kita udah tau rencana busuk atasan Choi, selama ini gue sama Jeno berantem hanya sandiwara karena semua kegiatan kita disadap oleh Agent Regular yang akan di laporkan ke atasan choi,” perjelas Lucy.

“Gue udah tau winter jadi mata-mata gue selama ini,” tambah Lucy membuat winter sedikit kaget.

“Dan gue sama Jeno juga udah tau rencana gue bakalan di siksa habis-habisan, dan semua ini kita rencanakan di bantu oleh,” kata Lucy terpotong.

“Oleh siapa?” Tanya Jaemin penasaran.

Lucy tersenyum tipis. “Leader Agent Regular,” jawab Lucy.

“Tuan Taeyong?!” Teriak mereka berempat serentak kaget.

“JENO ANJING!” Teriak seseorang dari dalam ruangan tersebut. Itu adalah Lucy, ia baru saja bangun dari tidurnya.

Jeno menghampiri Lucy yang berteriak. “Kenapa?” Tanyanya.

“Minum hehehe,” pinta Lucy membuat Jeno menghela nafas kasar.

Jeni mengambil sebuah gelas lalu ia memberikan gelas itu ke Lucy. Setelah minum Lucy bertanya kepada Jeno. “Gimana akting gue bagus gak?” Tanyanya.

“Kelewatan bagus,” Jawab Jeno sedikit dingin.

“Iya dong gue gitu,” Balas Lucy dengan bangga.

Jeno hanya terkekeh. “Masih sakit?” Tanyanya ke Lucy tentang keadaannya sekarang.

Lucy menggeleng. “Gak, gue kan strongggggg,” Jawab Lucy dengan senyum di bibirnya.

Jeno mengangguk. “Istirahat aja lagi, besok kita bahas gimana kelanjutannya,” tutur Jeno lalu ia berdiri hendak keluar dari ruangan tersebut.

“Jen,” panggil Lucy. Jeno menoleh ke Lucy. “Apa?” Jawab Jeno.

“Thank you.”

  • Kebenaran —2

“Gimana?” Tanya Jeno kepada Lucas dan Yuqi yang sedang mengotak-atik komputernya. Mereka sedang berusaha membobol sistem The Agent.

“Susah,” Jawab Lucas hampir menyerah.

“Bangsat,” umpat Lucas tiba-tiba.

Jeno dan Yuqi terlihat panik. “Kenapa?” Tanya Jeno dan Yuqi bersamaan.

“Ketahuan Lo masuk ke sistem, karena handphone Lo nyala, kayaknya harus membuat mereka tidak curiga,” perjelas Lucas.

“Sini Handphone-nya,” pinta Jeno, lalu ia segera menuju kesebuah perpustakaan.

FLASHBACK

Duggg

Suara hentakan kaki seseorang yang baru saja melompat dari luar ke dalam ruangan. Itu adalah Jeno, ia melompat kedalam ruangan dimana Lucy di siksa habis-habisan.

Ia melihat Lucy yang terkapar lemah, dengan darah yang berceceran dimana-mana. Dan dengan pistol yang berada tepat di mulut Lucy.

Jeno segera mengambil handphone lucy, lalu segera menghancurkan handphonenya.

“Masuk,” perintah Jeno melalui Earphone. Beberapa saat kemudian Lucas dan Yuqi memasuki ruangan yang sama.

Jeno segera mengambil pistol yang ada di mulut Lucy, ia membangunkan badan Lucy secara perlahan.

“Kan udah gue bilang jangan terlalu terbawa emosi,” ucapnya seraya memapah Lucy.

“Lo anjing, mulut Lo lemes,” gerutu Lucy.

Jeno mengode ke Yuqi untuk mengambil alih memapah Lucy. Dengan segera Yuqi memapah Lucy yang sangat lemah itu.

Jeno menghampiri Lucas lalu mereka membuka sebuah kantong jenazah. “Kayaknya baju Lucy harus di tukar, banyak bekas cambukan di baju Lucy, jadi biar tidak ada kecurigaan di mereka,” kata Lucas.

Jeno mengangguk. “Bener juga,” balas Jeno.

“Buka baju Lo,” ucap Jeno spontan membuat Lucy ternganga.

“Lo anjing,” umpat Lucy.

Jeno mendecak mendengar umpatan Lucy. Namun dengan pelan Lucy mendengarkan ucapan Jeno, ia membuka jaket yang ia kenakan. Tenang masih ada baju di dalamnya.

Jeno mengambil tas yang ia kenakan tadi, namun ia lempar ke sembarang arah. Ia mengeluarkan sebuah jaket, lalu mengenakannya ke badan Lucy.

“Nih,” ucap Jeno sambil melemparkan jaket Lucy.

Lucas segera mengenakan jaket tersebut ke mayat seorang wanita yang entah darimana mereka ambil. Mereka menempatkan mayat tersebut tepat dimana Lucy tertidur lemas tadi.

“Munduran,” suruh Jeno kepada Yuqi dan Lucy. Dengan perlahan Yuqi membawa dirinya dan Lucy sedikit menjauh.

“Lo apa gue?” Tanya Lucas ke Jeno.

“Gue,” Jawab Jeno dengan mantap.

Jeno segera mengambil pistol yang ia rebut dari tangan Lucy tadi. Ia mempoint tepat di kepala mayat wanita tersebut.

Dorrr

Suara tembakan memenuhi ruangan tersebut, kepala mayat wanita itu pecah, darah kemana-mana. Dapat di lihat mayat tersebut masih baru dari darah yang masih keluar saat di tembak. Dan belum ada tanda-tanda pembusukan.

Jeno meletakkan pistol tersebut di telapak tangan mayat tersebut, membuatnya terlihat seperti bunuh diri.

Lucas mengambil sebuah kertas, sesuai rencana mereka, ia segera mengambil darah Lucy yang masih ada di lantai. Dan menuliskan 'thank you -Lucy' dengan darah tersebut.

Lucas dan Yuqi kembali ke ruangan dimana Jaemin dan Renjun berada.

Ketika melihat mereka berdua masuk ke ruangan, Jaemin hendak berbicara namun dengan segera Lucas meletakkan jari telunjuknya di bibir, menandakan mereka untuk diam.

Yuqi segera membuat tanda bertanya 'dimana handphone kalian'. Awalnya Jaemin dan Renjun tidak ingin memberikan Handphone mereka, namun setelah di ancam oleh Lucas, mereka memberikan itu kepada Yuqi.

Dengan cepat Yuqi memecahkan handphone mereka berdua menggunakan pistol yang kosong tidak ada peluru.

“Lo gila?” Protes Renjun.

“Lo yang gila,” Balas Yuqi tak kalah nyolot.

“Lo berdua BIN? Temennya Jeno? Si pengkhianat? Mau nangkep kita terus ngasih kita terus kalian naik jabatan?” Kata Renjun dengan nada emosi.

Lucas dan Yuqi hanya terkekeh mendengar perkataan Renjun.

“Lo berdua di sadap, kalo Lo mau selamat, keluar dari ruangan ini di sebelah akan ada pintu, itu pintu tangga darurat. Di lantai dasar akan ada mobil yang menunggu kalian, mobil kosong tepat di depan pintu masuk-keluar tangga darurat,” perjelas Lucas. “Masuk ke mobil itu, duduk di paling belakang jika kalian ingin selamat,” Lanjut Lucas.

Renjun dan Jaemin hanya kebingungan, apa yang mereka maksud? “Darimana kami bisa percaya kalian?” Tanya Jaemin.

Lucas dan Yuqi yang hendak keluar mendengar pertanyaan Jaemin mereka menghentikan langkahnya. “Jangan percaya kami, percaya diri kalian sendiri,” balas Yuqi lalu mereka keluar dari ruangan tersebut.

Jaemin dan Renjun memasuki mobil yang di maksud oleh Lucas. Dengan perasaan enak tidak enak mereka memasuki mobil tersebut.

“Kalo di tangkap pasrah aja Jun,” Kata Jaemin.

Renjun mengangguk pasrah. Lalu mereka terkejut ketika melihat Winter memasuki mobil disusul oleh Haechan.

“Kalian di tangkep juga?” Tanya Renjun. “Sama Lucas?” Lanjut Renjun.

Haechan mengangguk lemah. “Yaudah atuh, kan kita udah prediksi ini, mati atau Penjara gak buruk juga,” Kata Jaemin.

“Masalahnya gue gak suka banget sama yang namanya Yuqi, songong banget,” Kesal Winter.

Tiba-tiba seorang pria masuk ke mobil dan duduk di kursi pengemudi, ia segera melepas topi yang ia kenakan. “Maaf ya rekan saya songong, dia cuman bercanda,” ucap pria tersebut.

Semua yang ada di mobil kaget kebingungan melihat dia. Dia adalah Jeno, Ya benar Jeno rekan, sekaligus Agent yang sangat handal dulu, ternyata dia adalah anggota BIN.

“Wah pengkhianat ternyata, gak nyangka ya kita di tangkap sama temen sendiri. Kira-kira Lo masuk penjara juga gak ya? Lo kan Agent dulu, ahhh kayaknya sih enggak kan orang dalem,” Sarkas Renjun.

“Siapa masuk penjara?” Tanya seorang wanita yang baru saja memasuki mobil mereka. Sama seperti Jeno ia melepas topi yang ia kenakan.

Agent Irregular sangat terkejut, bahkan sampai tidak bisa berkata-kata ketika melihat seseorang yang baru saja masuk ke dalam mobil.

“LUCY?!” teriak mereka serentak.

“The Agent bisa masuk penjara? Wah parah, jalan Jen kita buat keributan di penjara,” perintah Lucy dengan nada bercanda, membuat Jeno sedikit terkekeh.

“Siap !” Balas Jeno.

Keempat Agent lainnya masih terdiam, tidak bisa berkata-kata. Di satu sisi mereka senang, di satu sisi mereka bingung dengan keadaan sekarang.

Winter dan Haechan sedang berada di rooftop gedung dimana konferensi pers diadakan.

Dengan sebuah senapan Krebs costum ak-47 b&w di depan mereka yang sedang mempoint ke seseorang.

Kini senapan winter mempoint tepat di tubuh Jaksa Lee yang sedang berjalan dengan beberapa orang di sekitarnya.

“Shoot,” perintah Haechan.

Winter menarik nafas dalam-dalam, lalu ia dengan berani melepas tembakan dari senapan tersebut. Peluru mengenai tepat pada target, melukai lengan Jaksa Lee.

Semua orang yang ada di bawah sangat terkejut, mereka berusaha melindungi Jaksa Lee. Namun winter tak kalah kaget ketika melihat seseorang juga ikut melindungi Jaksa Lee disana.

“Jeno...” Gumamnya.


“Yohoooo sasaran yang tepat,” ucap seseorang yang baru saja memasuki rooftop dimana Winter dan Haechan berada. Dia adalah Lucas dengan Yuqi.

Winter dan Haechan terkejut, kenapa mereka bisa masuk kesini. Dengan cepat mereka berusaha untuk kabur. Namun percuma pintu di tahan oleh Lucas dan Yuqi.

Lagi-lagi Lucas mengisyaratkan mereka untuk diam dan tenang. Yuqi berusaha menjelaskan ke mereka untuk meletakkan handphonenya.

Winter dan Haechan yang sudah pasrah mereka dua meletakkan handphonenya, lalu di ambil oleh Yuqi.

Lalu Yuqi lagi-lagi menghancurkan handphone mereka. Tidak ada protes dari Haechan ataupun winter, mereka sudah pasrah dengan keadaan.

“Letakkan senapan kalian,” perintah Lucas. Dengan cepat Winter dan Haechan meletakkannya.

“Keluar, turun dengan tangga darurat, didepan tangga darurat akan ada sebuah mobil, disana sudah ada Renjun dan Jaemin, duduk di bangku tengah,” Perjelas Lucas memberi perintah.

“Apa kami di tangkap?” Tanya Winter.

“Penjara tidak buruk bukan?” Jawab Yuqi dengan tatapan meremehkan.

Winter sangat tidak suka dengan tatapan itu, ia segera melangkahkan kakinya keluar disusul oleh Haechan.

“Misi selesai,” Ucap Lucas.

“Selesai pala Lo lima.”

Lucas dan Yuqi kembali ke ruangan dimana Jaemin dan Renjun berada.

Ketika melihat mereka berdua masuk ke ruangan, Jaemin hendak berbicara namun dengan segera Lucas meletakkan jari telunjuknya di bibir, menandakan mereka untuk diam.

Yuqi segera membuat tanda bertanya 'dimana handphone kalian'. Awalnya Jaemin dan Renjun tidak ingin memberikan Handphone mereka, namun setelah di ancam oleh Lucas, mereka memberikan itu kepada Yuqi.

Dengan cepat Yuqi memecahkan handphone mereka berdua menggunakan pistol yang kosong tidak ada peluru.

“Lo gila?” Protes Renjun.

“Lo yang gila,” Balas Yuqi tak kalah nyolot.

“Lo berdua BIN? Temennya Jeno? Si pengkhianat? Mau nangkep kita terus ngasih kita terus kalian naik jabatan?” Kata Renjun dengan nada emosi.

Lucas dan Yuqi hanya terkekeh mendengar perkataan Renjun.

“Lo berdua di sadap, kalo Lo mau selamat, keluar dari ruangan ini di sebelah akan ada pintu, itu pintu tangga darurat. Di lantai dasar akan ada mobil yang menunggu kalian, mobil kosong tepat di depan pintu masuk-keluar tangga darurat,” perjelas Lucas. “Masuk ke mobil itu, duduk di paling belakang jika kalian ingin selamat,” Lanjut Lucas.

Renjun dan Jaemin hanya kebingungan, apa yang mereka maksud? “Darimana kami bisa percaya kalian?” Tanya Jaemin.

Lucas dan Yuqi yang hendak keluar mendengar pertanyaan Jaemin mereka menghentikan langkahnya. “Jangan percaya kami, percaya diri kalian sendiri,” balas Yuqi lalu mereka keluar dari ruangan tersebut.

Lucas dan Yuqi kembali ke ruangan dimana Jaemin dan Renjun berada.

Ketika melihat mereka berdua masuk ke ruangan, Jaemin hendak berbicara namun dengan segera Lucas meletakkan jari telunjuknya di bibir, menandakan mereka untuk diam.

Yuqi segera membuat tanda bertanya 'dimana handphone kalian'. Awalnya Jaemin dan Renjun tidak ingin memberikan Handphone mereka, namun setelah di ancam oleh Lucas, mereka memberikan itu kepada Yuqi.

Dengan cepat Yuqi memecahkan handphone mereka berdua menggunakan pistol yang kosong tidak ada peluru.

“Lo gila?” Protes Renjun.

“Lo yang gila,” Balas Yuqi tak kalah nyolot.

“Lo berdua BIN? Temennya Jeno? Si pengkhianat? Mau nangkep kita terus ngasih kita terus kalian naik jabatan?” Kata Renjun dengan nada emosi.

Lucas dan Yuqi hanya terkekeh mendengar perkataan Renjun.

“Lo berdua di sadap, kalo Lo mau selamat, keluar dari ruangan ini di sebelah akan ada pintu, itu pintu tangga darurat. Di lantai dasar akan ada mobil yang menunggu kalian, mobil kosong tepat di depan pintu masuk-keluar tangga darurat,” perjelas Lucas. “Masuk ke mobil itu, duduk di paling belakang jika kalian ingin selamat,” Lanjut Lucas.

Renjun dan Jaemin hanya kebingungan, apa yang mereka maksud? “Darimana kami bisa percaya kalian?” Tanya Jaemin.

Lucas dan Yuqi yang hendak keluar mendengar pertanyaan Jaemin mereka menghentikan langkahnya. “Jangan percaya kami, percaya diri kalian sendiri,” balas Yuqi lalu mereka keluar dari ruangan tersebut.

Lucas dan Yuqi sedang menunggu waktu Jaemin dan Renjun berlari ke arah mereka. Sudah sekitar 1 Jam mereka menunggu, sudah banyak kata-kata ngawur yang keluar dari mulut Lucas membuat yuqi ingin menjahit mulut dia segera.

“Kalo mereka gak lewat sini gimana?” Tanya Lucas ngasal.

Yuqi menghela nafas, karena ini udah kesekian kalinya ia mendengar pertanyaan ngasal dari Lucas. “Yakali kaga lewat cas, mau darimana mereka hah?” Kata Yuqi menanyakan kembali.

“Siapa tau aja loncat,” Jawab Lucas yang berhasil membuat Yuqi menoyor kepalanya.

Yuqi memicingkan matanya melihat apakah Renjun dan Jaemin sudah terlihat. Dan benar saja Renjun dan Jaemin terlihat berlari menuju arah mereka. “Lucas itu mereka siap-siap,” Perintah Yuqi.

“Dalam hitungan satu, dua—” hitung Lucas. “Tiga,” lanjutnya seraya menarik tangan Jaemin, dan Yuqi menarik tangan Renjun.


“Lu...” Belum sempat Jaemin melanjutkan omgongannya ia terlebih dahulu di bekap oleh Lucas.

“Sssttt diem diem dulu,” titah Lucas sambil membawa Jaemin kesebuah ruangan, begitupun dengan Yuqi membawa Renjun keruangan tersebut.

Setelah itu mereka berdua keluar dari ruangan tersebut, bertingkah seolah-olah sedang menunggu Jaemin dan Renjun untuk di tangkap.

“Apakah kalian melihat mereka?” Tanya seorang anggota BIN yang mengejar Renjun dan Jaemin.

Lucas menunjuk ke belakang mereka. “Belok kesitu kayaknya, saya gak lihat siapa-siapa disini.” Mendengar ucapan Lucas semua anggota BIN segera berlari ke arah yang di tunjuk Lucas.

“Bodoh,” Umpat Yuqi membuat Lucas tertawa terbahak-bahak.