Panglimakun

Kini para Agent Irregular telah berada di bandara mereka akan segera kembali ke negaranya setelah mendapat perintah. Namun ada yang aneh kemana winter?

“Kemana winter?” Tanya Jaemin dengan sedikit panik.

Haechan dan Renjun melihat ke sekitar, mereka juga baru sadar bahwa Winter tidak ada disana.

Mereka hendak mencari, namun sial, panggilan penerbangan mereka telah tiba, mau tidak mau mereka harus meninggalkan winter.

Renjun dan Haechan berjalan di depan, di ikuti oleh Jaemin di belakang. “Win, win masih aja nekat Lo,” monolog Jaemin sambil tersenyum miring.

Agent Irregular telah sampai di China, mereka sudah berada di sebuah gedung dimana titik terakhir presiden Lee berada.

Dugg

Seseorang baru saja menabrak Winter. “Hati-hati dong,” protesnya.

Orang tersebut mengangkat kepalanya lalu tersenyum ke arah winter. “Sorry,” ucapnya.

“Lucy!” Kaget winter. Lucy segera meletakkan jarinya di depan bibir menyuruh agar winter tidak berteriak.

Lucy mengeluarkan sebuah botol kecil berisikan cairan. Ia mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan.

'vaksinnya sudah ketemu, besok kita ketemu di pelabuhan Shanghai'

Setelah itu Lucy segera berjalan menghilang dari hadapan Agent Irregular.

“Kita harus lapor?” Tanya Jaemin.

Renjun menggeleng. “Kayaknya jangan, takut malah dia dalam bahaya,” Jawab Renjun

Jaemin dan Haechan mengangguk, kecuali winter, ia melamun tidak tau sedang memikirkan apa.

Flashback

2 tahun yang lalu

“Jadi gimana keadaan Kirana?” Tanya Jaehyun ke Yuta selaku dokter betah otak yang menangani operasi Kirana.

“Dia tidak bisa mengingat apapun,” Jawab Yuta.

Raut wajah jaehyun terlihat sangat khawatir. “Kenapa?”

Yuta menghela nafas berat. “Lobus frontal dan temporalnya rusak dalam kejadian itu,” perjelas Yuta.

“Didalam lobus temporal terdapat hipokampus, sentuhan pada hipokampus bisa menyebabkan gangguan memori,” lanjut Yuta.

Jaehyun memejamkan matanya seakan tidak menerima apa yang baru saja terjadi terhadap adiknya.

“Dia mengenali benda sehari-hari yang ada di sekitar, berarti ini menunjukkan bahwa kondisi sementara yang di sebabkan oleh operasi,” perjelas Yuta lagi. “Butuh waktu sebelum otaknya kembali berfungsi normal, kita tunggu saja, jangan ada paksaan,” lanjutnya.

“Sampai kapan?” Tanya Jaehyun.

“Saya tidak bisa memastikan, kita tunggu 2 tahun lagi,” Jawabnya.

Jaehyun menyandarkan punggungnya kasar di kursi yang ia duduki. “Dia kuncinya,” gumam Jaehyun.

“Hai, sorry tadi gue habis dari toilet,” ucap seseorang yang baru saja menghampiri Jaehyun, Yuta, dan Kirana di meja makan. Ia adalah Kun atau dokter Kun.

Sesungguhnya di depan Kirana sekarang adalah orang-orang yang sangat di hindari olehnya, ia masih bisa menerima kejahilan seorang Kak Johnny, dan kedinginan Kak Doyoung.

Namun entah mengapa jika berhadapan dengan kedua dokter sekaligus sahabat kak Jaehyun ini membuat Kirana takut.

“Apa kabar Kirana?” Tanya Kun.

Kirana tersadar dari lamunannya. “Tidak,” ucap asal Kirana.

Kun menyatukan alisnya keheranan. “Tidak?”

Kirana salah tingkah ia baru saja tersadar atas apa ucapannya tadi. “M-maksud Kirana baik,” ucap Kirana.

Kun dan Yuta hanya terkekeh, mereka sudah paham dengan tingkah Kirana sekarang, bukan pertama kali Kirana bertingkah seperti ini.

“Jadi Kirana, apa kamu sudah ingat semuanya?” Tanya Yuta tiba-tiba membuat Kirana tersentak.

Jaehyun yang melihat tingkah Kirana, segera memberi kode ke Yuta untuk tidak menanyakan hal itu terlebih dahulu.

“Kalian mau sampai sih nyuruh Kirana ingat ingat ingat?!” Teriak Kirana. “Apa yang harus Kirana ingat hah!” Lanjut Kirana dengan nada marah seraya berdiri dari duduknya. “Kirana gak paham!” Jerit Kirana setelah itu ia segera berlari keluar dari restoran.

“Tunggu disini dulu ya bro, biar gue kejar,” ucap Jaehyun dijawab anggukan oleh Yuta dan Kun.

“Masih aja takut,” tutur Yuta tiba-tiba. Kun hanya memberikan senyum yang tidak bisa di artikan.

Kini Jaehyun dan Kirana sedang berada di sebuah restoran mewah. Mereka sedang menikmati hidangan makan malam yang ada di depannya.

“Habis ini kita kemana kak?” Tanya Kirana di sela-sela makannya.

Jaehyun yang fokus makan menoleh ke Kirana. “Makan dulu jangan ngomong Kirana,” suruhnya disaut anggukan oleh Kirana.


Kirana dan Jaehyun telah selesai makan malam, mereka masih di tempat yang sama. Sedang menunggu kedatangan teman Jaehyun.

“Emang siapa sih temen kakak?” Tanya Kirana penasaran.

“Nanti juga tau,” Jawab Jaehyun.

Kirana sudah bosan menunggu, Jaehyun hanya terkekeh melihat ekspresi sang adik yang kebosanan.

“Hei bro, sorry tadi masih ada jadwal operasi,” sapa seseorang yang baru saja datang.

Kirana dan Jaehyun menoleh ke orang tersebut. “Oh hai Yuta, santai dimana Kun?” Tanya Jaehyun kepada Yuta yang baru saja sampai.

“Toilet,” jawabnya singkat lalu menoleh ke arah Kirana yang menatap dirinya dengan tatapan aneh.

“Apa kabar Kirana?” Tanyanya ke Kirana.

“B-baik,” Jawab Kirana dengan gugup.

“Kenapa dek? Yuta gak gigit,” canda Jaehyun di saut kekehan oleh Yuta namun tidak oleh Kirana.

Dug dug dug.....

Suara langkah kaki memasuki sebuah ruangan dimana sudah ada seorang wanita dengan tangan di ikat disana.

“Hai gadis manis,” sapa seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.

“S-ssiapa kamu,” balas sang wanita dengan terbata-bata karena ketakutan.

Pria tersebut membelai pipi sang wanita dengan pelan. “Aku? You don't know who I am?” Tanyanya. Wanita itu menggeleng pelan.

“Padahal banyak berita di luar sana yang menyebutkan ku,” ucap pria itu memotong pembicaraannya seraya mendekatkan bibirnya ke telinga si wanita. “Head Hunter,” lanjutnya seraya menjauhkan diri.

Wanita itu berteriak histeris setelah mendengar siapa pria yang ada di hadapannya.

Plakkk...

Satu tamparan keras mengenai pipi sang wanita, membuat wanita tersebut terbaring di kasur.

“Arghhh,” ringis wanita tersebut.

“Apa di mata mu aku terlihat menyeramkan?” Tanya pria yang menyebut dirinya head Hunter tersebut.

“Sangat,” jerit wanita tersebut dengan nada ketakutan.

Pria tersebut sedikit kesal dengan jawaban si wanita, ia meludah ke sembarang tempat. Lalu menaiki kasur dimana wanita itu terbaring.

Pria tersebut mencengkram leher wanita itu dengan kuat membuat sang wanita merintih kesakitan. “Mari kita selesaikan,” kata sang pria.

“L-llepas,” mohon sang wanita sambil memukul tangan pria tersebut.

Pria tersebut tidak menghiraukan permohonan sang wanita, ia mencengkram leher sang wanita semakin kuat.

Wanita itu sedikit demi sedikit melemah, ia tidak bisa bernafas karena cekikan dari pria tersebut. Perlahan kesadaran sang wanita menghilang, dengan cepat pria yang menyebut dirinya sebagai head Hunter tersebut mengambil sebuah pisau.

Sreegggg

Ia menggores pisau tersebut di leher sang wanita. “Saya tidak suka wanita dengan suara keras,” ucapnya. Detik selanjutnya ia mengiris leher wanita itu sampai terputus antara kepala dan badannya.

Pria tersebut tertawa sangat puas. “Saya sangat senang ketika jati diri saya kembali,” monolognya.

Sudah sekitar 2 Jam Jeno dan Lucy menunggu para Agent pergi dari sini. Ketika mobil para Agent bergerak Lucy hendak membangunkan Jeno yang sudah terlelap. Namun Jeno duluan bangun karena telefon yang berbunyi.

“Halo,” sapa Jeno ke penelepon.

Lucy mengode untuk mengspeaker panggilan tersebut.

“Halo nak...” Jawab sang penelepon.

Lucy dan Jeno terlihat kaget mendengar ucapan sang penelepon.

“Siapa?” Tanya Jeno kebingungan.

“Ini papa, Lee Donghae, kamu gimana di BIN? Selamatin papa ya?” Balas Sang penelepon yang mengaku sebagai presiden Lee alias papa Jeno.

Jeno menghela nafas kasar, hendak menutup telepon namun segera di cegah oleh Lucy.

“Tembok, panda, bambu, sampai jumpa nak,” Finish Presiden Lee setelah itu panggilan telepon terputus.

“China,” ucap Jeno dan Lucy serentak, Jeno segera menjalankan mobilnya.


Para Agent telah sampai kembali di markas, dalam perjalan Agent Irregular menyudahi akting merek, dan sadar kembali.

Satu persatu Agent turun dari mobil, dan melangkahkan kakinya menuju markas masing-masing.

Kecuali Johnny ia berjalan di belakang winter seakan-akan ingin menagih sesuatu. Ketika para Agent menghilang dari hadapan mereka Johnny segera menahan langkah kaki winter.

“Ibu kamu masih hidup, ini fotonya,” ujar Johnny tiba-tiba.

Winter dengan spontan membalikkan badannya, melihat sebuah foto di tangan Johnny. Winter hendak mengambil foto tersebut namun segera di masukkan kembali ke dalam saku oleh Johnny.

Johnny merendahkan badannya mensejajarkan bibir dengan telinga winter. “Lakukan tugas mu dengan baik gadis cantik ibumu menunggu kepulangan mu,” bisik Johnny dengan nada rendah namun sedikit tajam seakan-akan sedang mengancam. Detik kemudian ia melangkahkan kakinya menjauh dari winter.

Winter mengambil handphone-nya yang berada di saku, lalu membuka sebuah roomchat, roomchat tersebut adalah roomchat Irregular Agent.

“Sorry....” Lirihnya lalu memasukkan kembali handphonenya kedalam saku celana yang ia kenakan dan segera beranjak menuju markas Irregular Agent.

“Ini kita beneran di buang?” Celetuk Renjun dengan polosnya.

“Ya Lo pikir?” Judes Winter.

Terjadi adu tatapan mata antara Renjun dengan winter seakan-akan siap menyantap satu sama lain.

“Jadi kita harus ngapain?” Tanya Haechan kebingungan.

“Kan katanya disuruh acting kayak anak di buang,” jawab Jaemin dengan ringannya.

Winter mengalihkan pandangannya menyudahi adu tatapan maut dengan Renjun. “Emang di buang itu gimana ya?” Tanya Winter.

“Gini,” balas Renjun serasa menarik tangan Haechan lalu mendudukkan Haechan di tengah jalan. “Gimana? Cocok kan?” Lanjutnya.

Jaemin dan Winter mengacungkan kedua jempol mereka, dan tersenyum bangga.

“Lo ngajak ribut?” Ancam Haechan.

“Hehehehe,” kekeh Renjun sambil mengejek.

Jamein melihat sebuah mobil menghampiri mereka. “Itu Agent Regular cepat akting anak di buang,” perintah Jaemin membuat mereka duduk di tengah jalan dan akting lemah seperti benar-benar baru saja di buang.


Agent regular turun dari mobil, Johnny, Taeyong, Yuta dan juga Doyoung menghampiri Keempat Agent Irregular yang sedang melancarkan akting mereka.

“Kenapa bisa jauh sekali mereka terdampar?” Tanya Yuta.

Mendengar pertanyaan Yuta, Doyoung menghampiri Yuta lalu membisikkan sesuatu. “Masih mending disini, coba bayangin mereka terdampar di laut, apa tidak disuruh jadi mermaid kita?” Jawab Doyoung sambil berbisik.

“Memang ada mermaid cowo?” Tanya Yuta kembali. Doyoung hanya mengangkat kedua bahunya.

“Kira-kira perbuatan siapa?” Tanya Taeyong ke Johnny.

“BIN,” Jawab Johnny dengan singkat.

Taeyong menghela nafas kuat, lalu ia berjongkok berhadapan dengan Haechan. “Angkat mereka ke mobil,” suruh Taeyong sambil berdiri.

Doyoung dan Yuta yang sedang ribut dan kebingungan dengan mermaid, segera melaksanakan perintah dari Taeyong.


Di lain sisi Jeno dan Lucy masih berada disana, dari jauh mereka melihat Para Agent. Jeno menoleh menatap Lucy yang sedang menatap lurus ke arah sana.

“Turun aja,” tuturnya tiba-tiba.

“Ngajak gelud?” Balas Lucy.

Jeno hanya terkekeh, lalu ia menyandarkan tubuhnya di kursi. “Bangunin gue kalo mereka udah kelar,” suruh Jeno yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Lucy.

Kirana dan Jeno sedang berada di mobil menuju perjalanan pulang.

“Jadi udah mau cerita?” Tanya Jeno memecahkan keheningan di mobil.

Kirana menoleh melirik Jeno yang sedang fokus menyetir. “Iya mau,” Jawab Kirana.

“Jadi ceritanya, 2 tahun yang lalu papa mama di temukan meninggal jatuh dari rooftop atap rumah,“Jelas Kirana. “Gak ada siapa-siapa disana, padahal jelas banget kan itu rumah Kirana, setelah terjadi hal itu rumah langsung di tutup. Tapi gak ada tanda-tanda penyusup masuk,” lanjut Kirana.

Jeno mengangguk sesekali menoleh ke arah Kirana yang sedang bercerita. “Terus?”

Kirana menghela nafas. “Terus kasus itu di anggap kasus pembunuhan. Dan pada saat itu 2 hari kemudia Kirana jatuh dari tangga, Kirana lupa ingatan ringan,” balas Kirana.

Tangan Kirana terlihat bergetar, ia terlihat sangat ketakutan. Seperti ada trauma di dalam dirinya.

Jeno memberhentikan mobil karena tepat di lampu merah, ia menggengam sebelah tangan Kirana, sedikit menenangkan. “Ada lagi?” Tanya Jeno dengan lembut.

Kirana menggelengkan kepalanya. “G-gak ada, Kirana takut,” lirih Kirana dengan nada lemah, air mata lolos dari matanya.

Jeno mengelus pelan telapak tangan Kirana. “It's okay, pelan-pelan aja, Lo juga sambil pemulihan ke psikolog kan?”

Kirana menjawab dengan anggukan. Ia memalingkan pandangannya ke arah luar jendela. Dengan kepala bersender di jendela mobil.

Lampu jalanan berubah menjadi hijau membuat Jeno lanjut fokus menyetir dengan satu tangan, dan satu tangan masih menggenggam tangan Kirana.

“Jadi kenapa Tuan Taeyong nyuruh kalian semua ini?” Tanya Jaemin.

“Ya simpel aja, karena dia sudah tau kebusukan atasan Choi, dan dia tidak mau kita juga kena. Singkatnya mereka mau sudahi semua ini,” jawab Jeno.

“Dan itu juga alasan kenapa mereka tidak cek DNA jasad Lucy lebih dalam?” Tanya Winter.

Lucy mengangguk. “Benar sekali, Tuan Taeyong yang hasut Tuan Johnny,” Jawab Lucy.

Winter menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Apa jangan-jangan Lo udah tau?”

“Ssssttt.... Gue tau semua,” jawab Lucy dengan senyuman.


“Jadi tugas kita apa?” Tanya Renjun.

“Tugas kita mencari dimana keberadaan Presiden Lee, lalu memancing Atasan Choi, lalu menyerahkan mereka berdua ke BIN,” Jawab Jeno.

“BIN memberi kebebasan untuk kita, jika kita bisa menyelesaikan ini,” tambah Lucy.

Mereka mengangguk paham. “Bagaimana dengan Agent Regular?” Tanya Haechan.

Lucy menghela nafas panjang lalu menggelengkan kepalanya. “Kalo mereka ketangkap pada saat kita akan menyerahkan presiden Lee dan juga atasan Choi, maka...” Ucap Lucy seraya memotong ucapannya.

“Maka?” Tanya Jaemin.

“Maka mereka juga harus di tangkap atas semua perlakuan mereka selama ini,” lanjut Lucy dengan nada sedikit melemah.