Panglimakun

Winter yang baru saja masuk ke markasnya, segera mengecek keadaan Lucy.

“Kamu jaga dia, saya harus ke perkumpulan,” perintah Johnny. Winter mengangguk, detik kemudian Johnny menghilang dari hadapan winter, sudah di pastikan dengan cepat Johnny melangkahkan kakinya ke markas perkumpulan.

Johnny masuk ke ruangan dimana semua Agent sedang berkumpul, namun ketika ia melangkahkan kakinya hendak menuju ke Agent lain. Dengan cepat dua bodyguard atasan Choi menendang Johnny dan membuat Johnny jatuh tersungkur.

Kini Johnny di buat berlutut dengan tangan di pegang lurus oleh kedua bodyguard atasan Choi.

Atasan Choi berjalan menghadap Johnny dengan muka marahnya. Ia sangat marah dengan kejadian yang baru saja terjadi.

“Ini yang kamu sebut Agent? Lemah,” sarkasnya dengan tangan yang merogoh saku jasnya.

Johnny hanya bisa menunduk lemah, ia melihat atasan Choi mengeluarkan sebuah pistol dari saku jasnya. Pistol yang ada di tangan atasan Choi kini mempoint tepat di depan kepala Johnny.

“Kamu tau? Saya tidak pernah semarah ini,” ucapnya.

Johnny hendak membuka suara, namun ia kembali membungkam mulutnya karena atasan Choi menarik pelatuk pistolnya.

“Jika anda membunuh dia, maka anda membunuh diri anda sendiri, saya tidak segan untuk memposting semua kebusukan anda ke publik tuan,” ancam Taeyong. Tangan Taeyong menunjuk Doyoung yang tengah memegang sebuah iPad dan bertulisan posting pada layarnya.

Atasan Choi menoleh ke arah Taeyong, “oh iya?” Tanyanya dengan nada mengejek.

Dorrr.....

Suara tembakan itu memenuhi satu ruangan, membuat semua yang ada di ruangan itu shock.

Masih di pelukan Johnny, Lucy tidak membalas pelukan yang Johnny berikan, ia masih setia memegang telinganya.

Rasa sesak di dadanya semakin menjadi ketika ia mendengar suara-suara aneh di kepalanya.

Semua kejadian yang tidak mau lagi Lucy ingat, dengan perlahan masuk ke otaknya, ia ingat semuanya.

Ingatan itu membuat Lucy teriak sangat kencang karena bukan hanya dadanya tapi kepalanya sangat sakit.

“Lucy kamu harus kuat...”

*“Hai gadis manis hari ini om pake ya...”

“Lucy cuman kamu satu-satunya harapan papa sama Mama...”

“Lucy kamu kuat, terimakasih ya...”

Lucy semakin merasakan sakit, sangat sakit dia tidak bisa menahannya lagi, semakin banyak suara-suara itu masuk ke kepalanya. Bahkan ia tidak bisa mendengar kata-kata dari Johnny.

Lucy mencoba membuka matanya, ia mendongakkan kepalanya menatap mata Johnny. Ia melihat Johnny berkata sesuatu, namun ia tidak bisa mendengar, lagi dan lagi potongan kejadian masa lalu masuk ke otak Lucy, membuat ia kembali berteriak dan menutup telinganya.

It's okay cantik, ini permen...”

Johnny sekuat tenaga menenangkan wanita yang ada di dekapannya. Ia tidak tau apa yang terjadi kepada agentnya.

“Permen permen,” pinta Lucy tiba-tiba. Johnny segera mengambil permen yang ada di saku jasnya, dan ia segera memasukkan permen itu ke dalam mulut Lucy.

Johnny menangkup kedua pipi Lucy, lalu ia merapikan rambut Lucy dan menyapu air mata yang tidak henti keluar dari matanya.

“Sssstt, udah ya, tenang ada saya disini.”

Jeno hendak melangkahkan kakinya keluar menghampiri Lucy, namun ia ditahan oleh seseorang.

“Biar saya saja,” ucap Johnny.

Lucy keluar dari ruangan tersebut lalu terduduk lemah di pintu ruangan. Ia masih tetap memegang telinganya, dan rasa sesak di dadanya tidak bisa di bohongi, sangat sakit.

“Sakit, s—sakit.....” Lirih Lucy sambil menepuk dadanya dengan kuat berharap rasa sakit itu pergi.

Johnny yang baru saja keluar dan membuka pintu ruangan tersebut, ia melihat ke sekitar memastikan keberadaan Lucy.

Sorot mata Johnny menemukan Lucy yang terduduk di samping pintu ruangan, ia langsung jongkok dan menenangkan Lucy.

“Hei tenang, tenang,” kata Johnny sambil menepuk pundak Lucy.

Kata-kata Johnny tidak bisa membuat Lucy tenang, Lucy semakin panik. Sangat panik.

“Jangan, kamu siapa, JANGAN!” Teriak Lucy.

Johnny menarik tangannya yang sedari tadi menepuk pundak Lucy, ia menghela nafas kasar lalu berkata, “Saya boss kamu, kemarin, sekarang, esok dan sampai kapanpun.”

Lucy menoleh sedikit ke arah Johnny, namun ia segera menarik pandangannya lagi, memeluk kedua tangannya ketakutan.

“Jangan,” ucap Lucy terisak-isak.

“Come closer, saya gak akan nyakitin kamu,” Ujar Johnny sambil merentangkan tangannya.

Lucy menggelengkan kepalanya tidak mau mendekat, namun dengan paksa Johnny menarik Lucy kedalam pelukannya.

Aneh bukan merasa takut namun pelukan dari Johnny membuat Lucy tenang sedikit.

Namun ketenangan itu berakhir ketika Lucy mendengar suara-suara yang masuk ke dalam otaknya.

Pria yang baru saja masuk keruang markas, melangkahkan kakinya mendekat ke arah Agent Irregular dan Agent regular.

Agent regular yang melihatnya segera bangkit dari duduk, dan menundukkan kepalanya menyapa pria tersebut.

Agent Irregular yang melihat segera mengikuti, kecuali Lucy dia masih merasakan sesak di dadanya.

“Halo para Agent, perkenalkan saya Choi Siwon, panggil saja saya Atasan Choi,” sapa pria yang bernama atasan Choi tersebut.

Mereka semua kembali menunduk dan menyaut sapaan atasan Choi.

“Selamat datang atasan Choi,” Ucap mereka serentak.

Atasan Choi segera duduk di bangku paling depan membelakangi pintu masuk, dimana sebelah kiri ada Agent Irregular, dan sebelah kanan ada Agent regular.

Lucy terjatuh dari tempat duduknya, semua orang yang ada di ruangan tersebut terlihat kaget. Entah apa yang terjadi kepada lucy.

“Lucy, Lo kenapa? Lucyy,” Jeno hendak menggapai tangan Lucy namun tidak bisa.

Lucy menyeret badannya kebelakang dengan tangan yang berada di telinganya. “Jangan, jangan ada yang mendekat,” Lirih Lucy dengan suara bergetar.

Air mata Lucy turun dengan deras, dadanya masih terasa sesak, ia berusaha berdiri walaupun tidak bisa.

“Jangan mendekat!” Teriak Lucy, lalu ia segera bangun dan berlari keluar.

Agent Irregular berjalan menuju markas di mana para Agent regular telah menunggu.

Setelah masuk ke dalam markas, Agent Irregular menyapa Agent regular dengan sopan, lalu mereka duduk di bangku yang tersedia.

Johnny membuka suara atas keheningan yang ada di ruangan tersebut. “Bagaimana apa rencana kalian semua setelah ini?” Tanya Johnny.

“Setelah ini kami akan meringkus Jaksa Lee, setelah itu mencari keberadaan vaksin,” Jawab Jeno.

Johnny mengangguk, “atasan kita akan datang dalam—” ucapan Johnny terpotong ketika pintu markas terbuka dan menampakkan sesosok pria dengan tubuh tegap dan beberapa bodyguard masuk kedalam ruang markas.

“Fuck.....” Lenguh Lucy sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.

“Luc Lo Gpp?” Tanya winter memastikan, setelah melihat Lucy.

Lucy menggelengkan kepalanya, “s—sakit....” Lirih Lucy yang masih menepuk-nepuk dadanya.

Agent Irregular telah bersiap-siap menggunakan baju formal mereka, sebentar lagi mereka akan bertemu dengan dia yang dibilang 'atasan'.

Lucy sedang duduk di sofa seraya bermain game, tiba-tiba saja Winter menghampirinya.

“Luc, Lo kok bebeapa hari ini murung terus,” ucap winter setelah duduk di samping Lucy.

Mendengar ucapan winter, Lucy dengan segera melarikan handphone nya, lalu menoleh ke arah winter. “Gak ada kok, cuman resah aja siapa tau gue mati tertembak setelah ini,” Canda Lucy.

Winter mendesis mendengar candaan Lucy, “Yang ada gue duluan,” Tutur winter lalu segera bangun dari duduknya dan pergi entah kemana.

Lucy tersenyum miring, “sorry,” gumamnya.


Disisi lain Agent regular telah berkumpul di markas besar, mereka sedang menunggu waktu berkumpul tiba.

Johnny yang sedari tadi resah entah apa yang ia pikirkan, segera menelepon seseorang.

“Halo, gimana?” Ucapnya setelah orang yang ia telpon mengangkat.

“Tidak ada kemajuan lagi?”

”........”

“Yasudah, tetap pantau, pastikan dia benar-benar tidak curiga sama kamu.”

”.......”

“Saya tutup,” finishnya, lalu ia segera duduk bersama Agent regular lainnya.


Lucy keluar dari ruangan hendak menuju toilet, ia melihat Jeno yang baru saja keluar dari toilet.

“Hai Jen,” Sapa Lucy.

Mendengar sapaan Lucy, Jeno sedikit terkejut lalu ia dengan segera memasukkan handphonenya kedalam kantong celananya dengan panik.

“Eh i—iya,” jawab Jeno.

“Kenapa panik?”

“Gpp, gue duluan ya,” Pamit Jeno lalu ia melangkahkan kakinya.

“Aneh,” monolog Lucy.

Lucy dan Haechan sedang menunggu mobil Agent Irregular menjemput mereka. Kini hanya ada suara angin lewat di antara mereka. Hening tidak ada satupun percakapan, Lucy yang melamun ntah memikirkan apa. Dan Haechan yang segan untuk berbicara.

Haechan mendehem agar menarik perhatian Lucy. “Ada masalah luc?” Tanyanya.

Lucy terbuyar dari lamunannya, lalu Lucy menoleh ke arah Haechan dan netra saling ketemu. “Beberapa hal mungkin,” jawab Lucy.

Haechan menghela nafas pelan, lalu ia tersenyum lembut ke arah Lucy. “Malam dimana Lo nanya gue habis ngapain, dan gue jawab gue lagi nelpon. Itu gue nelpon Jeno,” Ujar Haechan menjelaskan.

Lucy menatap mata Haechan kebingungan. Lalu ia terkekeh pelan, “Iya Chan, gue udah tau dari Jeno,” jawab Lucy seraya tersenyum.

“Apapun yang terjadi nanti, kita sahabat kan Luc? Sekecil apapun perasaan kita satu sama lain, ada sedikit perasaan kasihan dan menganggap kalian keluarga,” Ucap Haechan tiba-tiba.

Lucy mengangguk, tidak bisa di pungkiri suatu saat pasti akan ada dari mereka yang berkhianat. Beginilah sistemnya, tidak ada yang beneran keluarga, apalagi sahabat.

“Itu mereka,” tunjuk Haechan ketika melihat mobil Agent Irregular.

Gue mengajak Jeno untuk duduk di ruang tamu hendak menjelaskan kronologi orang tua gue meninggal.

Namun baru saja gue mendudukkan diri, rumah kembali di datangi tamu. Ternyata itu adalah Kak Jae dan temen-temennya.

“Kak Jaeeee,” sapa gue sambil berlari dan memeluk kak Jae.

Kak jae yang paham dia langsung merentangkan tangannya, dan mendekap gue di pelukannya. “Hai princess lagi pacaran yaaaaa,”

“Ihhh enggaaakkk,” gue mempout kan bibir gue kesal.

Gue melepaskan pelukan Kak Jae, lalu menyalim Kak Jo dan Kak Doyoung. “Halo kak, itu ada temen aku namanya Jeno,” ucap gue memperkenalkan Jeno.

“Loh Jeno?” Kata Kak Doyoung.

“Kakak kenal?” Tanya gue.

Jeno segera berdiri dari duduknya dan menghampiri gue, “dia Abang gue,” Jawab Jeno membuat gue shock.

Gue mengajak Jeno untuk duduk di ruang tamu hendak menjelaskan kronologi orang tua gue meninggal.

Namun baru saja gue mendudukkan diri, rumah kembali di datangi tamu. Ternyata itu adalah Kak Jae dan temen-temennya.

“Kak Jaeeee,” sapa gue sambil berlari dan memeluk kak Jae.

Kak jae yang paham dia langsung merentangkan tangannya, dan mendekap gue di pelukannya. “Hai princess lagi pacaran yaaaaa,”

“Ihhh enggaaakkk,” gue mempout kan bibir gue kesal.

Gue melepaskan pelukan Kak Jae, lalu menyalim Kak Jo dan Kak Doyoung. “Halo kak, itu ada temen aku namanya Jeno,” ucap gue memperkenalkan Jeno.

“Loh Jeno?” Kata Kak Doyoung.

“Kakak kenal?” Tanya gue.

Jeno segera berdiri dari duduknya dan menghampiri gue, “dia Abang gue,” Jawab Jeno membuat gue shock.

Setelah sampe dirumah gue segera menarik Jeno ke dalam rumah. Gatau kenapa muka Jeno sedari tadi melongo saja. Apa yang salah?

“Kenapa?” Tanya gue membuat Jeno berhenti melongo.

“Gak,” Jawab Jeno dengan tegas.

Gue mengambil sebuah gelas di meja dekat pintu masuk, lalu memberikan gelas itu ke Jeno.

“Coba pegang, ada tanda-tanda gak?” Perintah Gue. Jeno menghela nafas panjang karena perintah gue.

“Bukan gitu caranya, Lo harus ngasih tau dulu kronolginya baru kita bisa nyari tau,” Jelasnya membuat gue ber-O ria.