Panglimakun

Ketika sudah berada di ruangan Jaksa Lee, Haechan segera duduk di bangku jaksa Lee dan bertingkah seakan-akan sedang memperbaiki komputer tersebut.

Diam-diam Lucy mencabut colokan kabel komputer tersebut, sehingga ketika Haechan mencoba menghidupkan komputernya tidak menyala.

“Ahhh sepertinya komputernya sudah terkena virus,” Ujar Haechan.

Sang sekretaris terlihat semakin panik. “Apa yang harus di lakukan?” Tanyanya.

“Apa kamu bisa menjaga-jaga jika jaksa Lee datang di depan?” Tutur Lucy. Sekretaris itu menyetujui lalu ia segera menjaga didepan pintu.

Haechan dan Lucy menatap kemenangan satu sama lain, ingin tertawa karena sang sekretaris sangat mudah di tipu.

Lucy kembali mencolok kabel komputer, lalu Haechan segera menghidupkan komputernya.

Dengan segera Haechan memasukan sebuah flashdisk, lalu ia mengcopy semua data yang ada di komputer tersebut.


Sang sekretaris yang terlihat panik, kini paniknya semakin bertambah karena melihat Jaksa Lee kembali.

Sang sekretaris segera memperlambat waktu, agar Jaksa Lee tidak mengetahuinya.

“Jaksa Lee saya ingin memberi jadwal anda,” ucapnya.

Jaksa Lee menatap sekretarisnya kebingungan, “bukannya tadi udah?” Tanya Jaksa Lee.

Sekretaris tersebut sangat ingin merutuki dirinya sekarang. Jaksa Lee hendak melangkahkan kakinya menuju ke dalam ruangan.

“Ahhhh benar saja,” ucap sekretaris nya spontan membuat jaksa Lee terkejut.

“Kenapa?”

“Ini hadiah ulang tahun adek Jaksa Lee, hari ini.”

Jaksa Lee mengambil bingkisan yang di beri oleh sekretarisnya, walaupun dirinya sedikit kebingungan.

“Oh iya, untung kamu ingat,” ucapnya sambil menepuk dahi.

Setelah itu ia segera masuk kedalam ruangannya. Beberapa saat kemudian Lucy dan Haechan keluar dari pintu samping ruangan tersebut. Dan berpamitan kepada sekretaris Jaksa Lee.

Sekretaris Jaksa Lee bernafas lega setelah melihat Lucy dan Haechan keluar.

Lucy dan Haechan sudah berada dekat dengan kantor kejaksaan. Mereka sekarang sedang menyamar menjadi tukang service komputer.

Komputer yang mereka jadikan target adalah komputer Jaksa Lee. Jaemin sendiri telah mengirimkan sebuah link ke komputer sekretaris Jaksa Lee.

Dengan begitu Lucy dan Haechan akan bertindak memanipulasi.

Setelah mendapatkan telepon dari sekretaris Jaksa Lee, mereka berdua segera masuk ke dalam kantor kejaksaan. Dan menghampiri ruangan Jaksa Lee. Kedatangan mereka berdua disambut panik oleh sekretaris Lee, dia sangat takut akan terjadi apa-apa dengan komputernya.

“Apa kalian yang akan menservis?” Tanya sekretaris Jaksa Lee dengan panik.

Lucy dan Haechan mengangguk, “iya benar, boleh saya cek terlebih dahulu?” Tanya Haechan.

Sekretaris Jaksa Lee memberi izin, lalu mereka berdua mengecek komputer yang ada di meja sekretaris Jaksa Lee.

Ketika Haechan sedang sibuk mengotak-atik komputernya, Lucy bertanya kepada Sekretaris Jaksa Lee. “Ahh apakah komputer kamu terhubung dengan komputer Jaksa Lee?” Tanya Lucy.

Sang sekretaris menggelengkan kepalanya. “Namun komputer kita tersambung dengan WiFi yang sama,” Jawabnya.

“Oooo..... Itu sangat bahaya, virus ini sangat bahaya dan kemungkinan sudah masuk ke komputer Jaksa Lee,” Ujar Haechan dengan nada melebih-lebihkan.

Sekretaris yang mendengar itupun semakin panik, dia sangat takut kalo komputer Jaksa Lee akan kenapa-kenapa.

“Apa bisa di perbaiki? Sebelum Jaksa Lee datang?”

Lucy dan Haechan mengangguk, “serahkan kepada kami,” ucap Lucy. Lalu mereka berdua berjalan memasuki ruangan Jaksa Lee.

Gue melihat ke sekeliling taman sekolah untuk memastikan bahwa Jeno sudah menunggu disana, gue memang sengaja Dateng telat, untuk memastikan kira-kira dia bakalan takut gak ya kalo rekaman suaranya ke sebar.

“Ahhh ketemu,” Ucap gue ketika netra mata gue melihat sosok Jeno yang sedang duduk di bangun taman sekolah.

Gue menghampiri Jeno yang sedang terduduk itu, dengan cepat gue langsung duduk disampingnya. Membuat dia sedikit kaget dan melihat ke arah gue dengan raut wajah yang sulit di artikan.

Gue mencoba memberanikan diri untuk memperkenalkan diri, sejujurnya agak takut tapi ya mau gimana lagi? “Ekhem, Jung Kirana anak pindahan baru aja pindah,” dehem gue. Jeno mengangguk lalu ia memperkenalkan dirinya secara singkat. “Jeno, Lee Jeno,” ungkapnya.

“Lo beneran Psikometri?” Tanya gue memastikan, siapa tau aja dia bohong kan?

Jeno melihat ke arah gue dengan tatapan dinginnya, “Menurut Lo?” Jawabnya dengan singkat.

Gue dengan berani mengambil sebelah tangan Jeno, dan menggenggamnya. “Lo lihat sesuatu?” Raut wajah Jeno kembali kaget atas perbuatan gue. Dia segera menarik tangannya lalu menjawab dengan singkat. “Gak.”

Gue mendecak kesal. “Berarti Lo bohong dong?” Kesal gue.

Jeno sama sekali tidak menjawab, melainkan terus menatap gue dengan wajah yang dingin.

Gue segera melihat sekeliling “binggo!*. Ada siswi yang akan lewat di depan mereka sebentar lagi. Dengan cepat gue menarik tangannya.

“Hehehe minjem ya,” Permisi gue ke siswi itu. Siswi itu adalah murid yang di bully habis-habisan kemarin.

Gue segera menarik tangan Jeno lalu menggenggamkan tangannya dengan tangan siswi tersebut.

“Lihat apa?” Tanya gue dengan penasaran.

Wajah dari siswi tersebut sekarang memerah, dia segera menarik tangannya karena malu. Siswi itu hendak melangkahkan kakinya, namun terhenti ketika mendengar suara Jeno.

“Jangan nangis tiap malem, fokus belajar, Lo gasalah, jangan pukulin kepala Lo ke dinding, masa depan Lo indah,” Kata Jeno, lalu membuat sang siswi berjalan dengan cepat menghilang dari hadapan kami.

Gue terkesima dengan aksi Jeno, lalu bertepuk tangan kencang, “owwooooooooo luar biasa,” puji gue.

“Sekarang percaya?”

Gue mengangguk, “yup.” Gue segera menarik tangannya menuju ke mobil.

Jeni sedikit kaget, namun dia tetap mengikuti arahan ku.

“Mau kemana?” Tanyanya.

“Ikut aja!”

Agent Irregular sedang berada di mobil menuju ke salah satu titik untuk menjalankan misi. Seperti biasa di mobil tidak pernah ada yang namanya diam, selalu dengan keadaan ribut dengan candaan mereka.

“Btw ngomong-ngomong nih ya, tumben Lucy duduk di tengah? Biasanya di depan bareng Jeno?” Tanya Renjun.

“Mama papa lagi marahan ya?” Celetuk Jaemin.

Jeno yang mendengar pertanyaan ngaur dari Renjun dan Jaemin hanya tersenyum dan fokus mengemudi.

“Jangan ngadi-ngadi deh kalian,” Bantah Lucy. “Orang lagi mau Deket sama winter kok,” Lanjut Lucy sambil memeluk Winter yang ada di sampingnya.

“Mama kalo marahan sama papa bilang ya? Winter gamau jadi anak gak ada orang tua ma,” Canda Winter sambil mempout bibirnya layaknya bayi.

Dengan segera Lucy menoyor kepala Winter dan juga melepas pelukannya. “Sama aja bloonnya.”

“Senyum-senyum aja pa dari tadi, jawab atuh beneran berantem?” Kini giliran Haechan yang berada di kursi penumpang depan, tepatnya berada disamping Jeno, bertanya kepada Jeno.

“Sekali lagi Lo manggil gue Papa, gue pastikan pintu mobil terkunci itu bisa buat Lo terjatuh karena gue tendang ya,” Jawab Jeno dengan pandangan yang masih fokus ke jalanan.

Suasana mobil penuh dengan tawa mereka sekarang, hal sepele seperti ini bisa membuat mereka tertawa. Seakan-akan tidak akan ada bahaya yang akan mendatangi mereka.

Mereka hanya bersikap seperti remaja biasa yang sedang mengalami masa pubertas, dan juga menemukan sahabat yang benar-benar tulus.

Lucy Pov

Sekarang gue udah ada di ruangan segala sesuatu untuk misi tersedia, dari senjata, alat pelindung diri semuanya deh.

Semua Agent Irregular lainnya masih sibuk mempersiapkan persiapan, tapi enggak dengan gue, gatau kenapa terlalu banyak pikiran yang menghantui otak gue.

“Kenapa luc?” Tanya Winter menghampiri gue.

Gue tersentak kaget karena suara winter, gue tersenyum seakan-akan tidak ada yang terjadi. “Gpp kok Wint,” Jawab gue, lalu melangkahkan kaki untuk mempersiapkan diri.

Gue mengambil rompi anti peluru, sebuah guns, dan sebuah pisau. Gue bukan tipe yang ribet dalam memakai senjata, karena gue yakin hanya dengan tangan gue udah bisa membuat seseorang lupa ingatan.

Setelah mempersiapkan diri, gue menghampiri Jaemin yang sedang berkutik dengan spider laptopnya, entah apa yang ia lakukan.

“Jae, ngapain?” Tanya gue.

“Nanam bibit sawi nih,” Ujar Jaemin membuat gue langsung menoyor kepala dia.

“Ya lihat atuh Lucy, ini lagi ngapain gue jadiin teh celup beneran lu ye.”

Gue hanya nyengir setelah mendengar jawaban Jaemin. Gue melihat Renjun yang sudah siap menghampiri gue dan Jaemin.

Dia duduk di samping gue, “Luc Lo tadi ngapain keluar teritorial 127'A?” Tanya Renjun membuat gue sangat shock.

“Hah? Lo tau darimana?” Tanya gue kebingungan. Renjun membuka mulut hendak menjawab namun di potong oleh teriakan Jeno.

“Sudah siap? Ayo berangkat,” Teriak Jeno.

Jaemin menghidupkan Televisi dan membuka sebuah channel berita.

Berita yang ada di tv membuat semua Agent Irregular kaget berserta kebingungan semakin menjadi-jadi.

Serumit ini kasus yang mereka hadapi, apakah mereka akan siap? Itu yang mereka pikirkan.

” Semua dana Korupsi di simpan di sebuah brankas, semuanya total 180 Jt Dollar,” Ucap Jaemin.

“What!” Winter tersentak kaget dengan jumlah uang tersebut.

“Selain dari jumlah uang tersebut, ada yang harus kita pikirkan, apakah Presiden Lee akan menjadikan alasan Virus dan Vaksin itu supaya dia tidak terlibat dengan kasus yang sekarang,” Ucap Haechan.

Jaemin mengangguk setuju dengan ucapan Haechan. “Benar sekali tujuan kita adalah,” ucap Jaemin terpotong. Lalu ia menampilkan sesuatu di virtual hologram nya. “Mencuri Vaksin dan uang,” Lanjutnya.

“Untuk apa?” Tanya Lucy.

“Who knows? Kita gak akan pernah tau tujuan dari misi yang di berikan kepada kita.”

Jeno bangkit dari duduknya lalu ia berjalan ke depan menghampiri Jaemin, “persiapkan diri kalian semua, senjata dan perlindungan diri, kita bergerak sebentar lagi,” Perintah Jeno.

Ketika mendengar perintah dari Jeno, semua Agent Irregular bergerak hendak mempersiapkan diri, namun tidak dengan Lucy. Ia masih melamun dan memikirkan, apa tujuan dari ini semua?

“Ada yang gak beres,” monolog Lucy, lalu ia berdiri dan menghampiri yang lain untuk mempersiapkan diri.

“10 tahun yang lalu, perusahan Umbrella mengeluarkan sebuah ancaman buat negeri,“ucap Jaemin menjelaskan.

“Umbrella?” Tanya Lucy kebingungan, nama yang familiar.

Jaemin menjentikkan jarinya, “Yaps, nama yang familiar bukan? Umbrella High School, Hotel Umbrella,” Jawab Jaemin.

“Berhubungan dengan misi yang kemarin?” Kini giliran Jeno yang bertanya.

Jaemin bergeleng. “Harap dengarkan dulu ya tuan-tuan, dan nyonya-nyonya.”

“Umbrella Group adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Medis, Hukum dan juga Pendidikan,” Jelas Jaemin. “Seperti yang kalian tau kita sudah mengetahui kebusukan di bidang Pendidikan.”

“Jangan bilang kalo di 2 bidang lagi memiliki kebusukan yang sama?” Tanya Renjun memotong penjelasan Jaemin.

Jaemin mengangguk, “Di bidang hukum, semua pejabat hukum dari umbrella Group sangat terkenal dengan kepintaran dan kecerdasannya. Semua kasus besar, tapi ada satu kebusukan disini.”

Semua Agent Irregular yang mendengar kebingungan, kebusukan apa?

“Mereka adalah pemakan yang haram, Suap di setiap kasus pasti terjadi. Terakhir ada satu Jaksa bernama Jaksa Lee, dia memegang sebuah kasus besar 5 tahun yang lalu sebelum masa penggantian presiden.”

“Wait, gue pernah baca presiden kita sekarang adalah Presiden Lee Donghae, pada masa kampanye dia menggelapkan dana kampanye, dan—”Lucy menggantung ucapannya.

“Dan?” Tanya Renjun.

“Dan dia sebelumnya adalah seorang dokter di lab Umbrella, pada saat sebelum dia mencalonkan diri sebagai Presiden dia mempresentasikan sebuah Vaksin yang katanya akan menyelamatkan dunia,” Jawab Haechan melanjutkan ucapan Lucy.

“Yaps bener sekali, itu masalahnya.” Kata Jaemin.

“Bagaimana seseorang bisa membuat vaksin tanpa mengetahui virusnya terlebih dahulu?” Jaemin bertanya kepada mereka semua.

Agent Irregular lainnya hanya menatap satu sama lain. Kecuali Jeno dia menatap lurus seakan sedang menghayal, entah apa yang sedang ia khayalkan.

“Dengan berarti Virus itu sudah ada? Dan siap menyebar?” Tanya Jeno terbangun dari khayalannya.

Semua Agent Irregular kaget dan kebingungan, entah apa yang akan mereka hadapi setelah ini.

Semua anggota Irregular Agent berkumpul diruang tengah untuk melihat file yang di kirim sistem. Dengan segera Jaemin membuka file tersebut, dan menyambungnya agar bisa terpantul di virtual hologram.

Dengan seksama seluruh Agent Irregular menyaksikan file video yang di kirim oleh sistem.

Video terus berputar, aneh itu yang di rasakan oleh semua Agent Irregular. Kebingungan setelah melihat video tersebut berputar di pikiran mereka.

“Misi main-main yang kemarin? Hahaha gue hampir di perkosa main-main kata dia,” Caci Winter.

“Filenya ada di Lo?” Tanya Jeno kepada Jaemin. Jaemin mengangguk, baru saja ia mendapatkan notifikasi file masuk.

“Mau bahas sekarang?” Tanya Jaemin kepada semua Agent Irregular.

“Tunggu apalagi,” Jawab Lucy. Dengan segera semua agent irregular mengambil posisi.

Dan Jaemin yang memimpin perkumpulan mereka, segera membuka file dan menjelaskan secara rinci kepada mereka.

Hari telah berganti, Kun waktu menunjukkan jam 6 pagi. Belum ada kegiatan apapun di Markas besar 127'A baik Irregular Agent ataupun Regular Agent.

Namun pikiran gabutnga Lucy, atau bisa di bilang kebiasaan aneh selalu saja melintas di otaknya. Kini dia sedang berada di luar markas dan hendak keluar dari komplek markas besar, hanya untuk buang bungkus permen.

Ketika sudah sampai di depan gerbang masuk Markas besar 127'A atau bisa dibilang batas masuk dan keluar teritorial 127'A, Lucy melihat seseorang yang sangat familiar baginya.

Pria tersebut sedang berbicara dengan 2 orang misterius, Lucy hanya bisa melihat jam tangan pria familiar tersebut.

“Siapa dia?” Monolog Lucy.

Karena merasa hanya perasaan Lucy saja yang aneh, mungkin saja itu orang lewat, di dunia ini bukan hanya dia saja yang hidup bukan. Dan lagi tempat keberadaan orang itu sudah di luar teritorial 127'A.


Lucy telah kembali setelah membuang bungkus permen ke depan pintu gerbang. Ia melihat Haechan yang sedang menelepon seseorang, namun ketika netra mereka berdua bertemu Haechan dengan panik segera menutup telepon tersebut.

“Kenapa panik?” Tanya Lucy.

Haechan hanya cengengesan, dan menggaruk leher belakangnya yang tak gatal. “Hehehe ada deh privacy!” Jawabnya singkat lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam markas.

“Aneh,” Gerutu Lucy, Ia pun langsung ikut masuk kedalam markas.

Di dalam markas, tepatnya di ruang kumpul semua ada disana, tengah sibuk dengan dunianya masing-masing.

“Loh Jae? Lo jam baru? Kemarin kayanya bukan Gucci deh, cieeee habis di beliin cewe ya,” Ucap Winter. Ucapan winter membuat netra Lucy melihat ke arah Jam Jaemin.

Muka Lucy sedikit shock, Jeno menepuk pundak Lucy. “Kenapa luc? Sakit?” Tanyanya. Lucy hanya menggeleng.

'Jae? Gak mungkin kan?' batin Lucy

Kmm