Luka yang kurindukan
Hai aku Revan, temani hari ku yang singkat ini ya? Tenang hari ini aku tidak akan kemana-mana atau macam-macam. Hari ini, temani aku menemui gadisku, iya gadis yang sangat ku cintai.
Aku melirik ke arah jam tangan ya ku pakai, waktu menunjukkan Jam 14.03, tanggal 14 bulan Maret, waktu dan tanggal yang cantik bukan?
Di waktu yang cantik ini, gadis ku yang tak kalah cantik juga berulang tahun, dia sangat menunggu hari ini. Dia selalu mengungkit tanggal ini, bawel dan selalu bermanja agar aku memenuhi keinginannya.
Keinginannya ku tepati, aku berjalan dengan bunga mawar orange di tanganku. Gadis cantik ku sendiri yang memintanya, ia pernah berkata di pelukanku, “ Revan tau? Makna dari mawar orange adalah semangatnya seseorang, kehangatan cinta seseorang dan yang menerimanya. Langit ingin Revan memberi semangat Revan, dan kehangatan Revan ke Langit, seperti langit memeluk Revan saat ini, hangat.”
Itu ucapan dia, dia memelukku ketika dulu, hangat, sangat hangat. Tapi aku tidak memberikan kehangatan yang sama untuk gadis ku saat itu.
Kini aku sampai dimana gadis ku telah menunggu kedatangan aku, aku tersenyum melihat ke arah dia. Sangat bahagia rasanya melihat ia kembali setelah sekian lama. Aku mendudukkan diriku mensejajarkan diriku dengan dia.
Lagi-lagi aku mengembangkan senyum ketika melihat gadis cantik ku. “Hai, selamat ulang tahun cantik, sesuai permintaan kamu bunga mawar orange,” Ucap ku lalu meletakkan bunga yang kubawa di atas tanah yang kini menjadi kuburan gadis cantik ku.
Aku mengelus batu nisan yang bertuliskan Langit De'luka , senyum ku berubah menjadi datar ketika melihat namanya. “Seperti nama kamu, kamu menyimpan luka sendirian,” ucap ku lagi dengan nada rendah. Sama sekali tak bisa ku bendung gumpalan air berasal dari mataku, meluncur secara bebas membasahi pipiku.
Tidak, tidak bisa, aku segera menyeka air mata yang jatuh membasahi pipiku, aku tidak mau air mata penyelesalan ini jatuh ke tempat tidur gadis cantik ku.
Aku duduk di samping batu nisan yang bertulisan nama gadis cantik ku, mata yang kubiarkan menatap lurus entah kemana.
“Kenapa? Kenapa kamu menyimpan semuanya sendirian langit? Maaf aku terlalu egois, sifat dingin ku, sifat kasar ku membuat kamu semakin terluka,” monologku dengan nada sangat menyesal.
Dadaku terasa sesak, air mata yang terjun deras di pipiku semua terjadi begitu saja ketika mengingat semua kejadian dulu.
Aku yang bodoh ini menyia-nyiakan gadis cantik bernama Langit De'luka, aku tidak pernah membalas pelukannya, senyuman manis yang ia kembangkan untuk aku. Aku tidak pernah menggengam tangannya ketika berjalan, aku selalu berjalan di depannya.
Semakin di ingat, semakin sakit pula rasa di dadaku. “Kenapa Langit? Kenapa kamu pergi!” Teriakku.
Tangisku semakin tersedu-sedu, aku kembali mengingat di malam itu, tanggal 14 bulan Februari hari dimana seharusnya kita merayakan hari jadi kita yang ke-100.
Gadisku telah menyiapkan semuanya di rumahku, ingin membuat suprise ketika aku pulang dari kegiatanku.
Namun apa yang aku lakukan? Aku pulang bersama seorang wanita lain, dengan pautan bibir satu sama lain masuk ke dalam rumah.
Perempuan itu adalah sahabat gadis cantikku, aku egois sangat egois.
Aku memeluk batu nisan yang bertulis nama gadis cantik ku. “Kenapa kamu yang pergi langit? Kamu harusnya hukum aku!” Pekik ku.
“Bangun langit, biarkan sekali saja aku membalas pelukan mu, aku menyesal, aku menyesal...” Jeritku sedikit demi sedikit jeritanku menciut, berubah menjadi tangisan penyesalan.
Hari yang indah ditanggal yang indah, aku memutuskan menemani gadis cantikku seharian penuh.
“Selamat beristirahat gadis cantikku, kamu luka yang aku rindukan, datang ke mimpi ku, izinkan aku untuk memelukmu untuk yang terakhir kali,” ucapku ketika matahari sudah pamit, aku berdiri dari dudukku.
“Aku pamit ya sayang? Temani aku saat pulang, dan saat aku terlelap nanti, terimakasih selamat tinggal Langit De'luka,” Pamitku kepada gadis cantik yang sedang beristirahat disana.






