Panglimakun

Dugg

Suara tendangan seseorang mendobrak pintu ruangan di sebuah gedung dimana Johnny di sekap oleh Jeno dan Lucy.

“Dimana kalian!” Teriak atasan Choi.

“Letakin duit itu tepat di depan vas bunga,” jawab Lucy.

Seseorang meletakkan sebuah koper besar berisikan duit, dan juga beberapa cek. Lucy segera menampakkan dirinya dan mengambil koper tersebut.

Bodyguard yang ikut dengan atasan Choi dengan serentak mengangkat pistol mereka. Membuat Lucy sedikit tersentak kaget.

“Tenang, saya hanya ingin duitnya,” tutur Lucy.

“Dimana Johnny?” Tanya Atasan Choi dengan sedikit menekan nada bicaranya.

“Lucy bawa duitnya ke mobil terlebih dahulu, kita di jebak. Jangan jawab, bertingkah seperti kita tidak berkomunikasi,” kata seseorang melalui Earphone. Orang itu adalah Jeno yang sekarang sedang berkelahi dengan Johnny.

Dugg

Suara tendangan seseorang mendobrak pintu ruangan di sebuah gedung dimana Johnny di sekap oleh Jeno dan Lucy.

“Dimana kalian!” Teriak atasan Choi.

“Letakin duit itu tepat di depan vas bunga,” jawab Lucy.

Seseorang meletakkan sebuah koper besar berisikan duit, dan juga beberapa cek. Lucy segera menampakkan dirinya dan mengambil koper tersebut.

Bodyguard yang ikut dengan atasan Choi dengan serentak mengangkat pistol mereka. Membuat Lucy sedikit tersentak kaget.

“Tenang, saya hanya ingin duitnya,” tutur Lucy.

“Dimana Johnny?” Tanya Atasan Choi dengan sedikit menekan nada bicaranya.

“Lucy bawa duitnya ke mobil terlebih dahulu, kita di jebak. Jangan jawab, bertingkah seperti kita tidak berkomunikasi,” kata seseorang melalui Earphone. Orang itu adalah Jeno yang sekarang sedang berkelahi dengan Johnny.

Dugg

Suara tendangan seseorang mendobrak pintu ruangan di sebuah gedung dimana Johnny di sekap oleh Jeno dan Lucy.

“Dimana kalian!” Teriak atasan Choi.

“Letakin duit itu tepat di depan vas bunga,” jawab Lucy.

Seseorang meletakkan sebuah koper besar berisikan duit, dan juga beberapa cek. Lucy segera menampakkan dirinya dan mengambil koper tersebut.

Bodyguard yang ikut dengan atasan Choi dengan serentak mengangkat pistol mereka. Membuat Lucy sedikit tersentak kaget.

“Tenang, saya hanya ingin duitnya,” tutur Lucy.

“Dimana Johnny?” Tanya Atasan Choi dengan sedikit menekan nada bicaranya.

“Lucy bawa duitnya ke mobil terlebih dahulu, kita di jebak. Jangan jawab, bertingkah seperti kita tidak berkomunikasi,” kata seseorang melalui Earphone. Orang itu adalah Jeno yang sekarang sedang berkelahi dengan Johnny.

“Andraaaa,” teriakku dengan heboh ketika melihat pak Jonathan masuk dengan Andra dan Nana di gendongannya.

Aku segera mengambil alih menggendong Andra, bayi dengan Hoodie kebesaran yang bikin dia makin imut, sama sekali tidak keberatan ketika aku gendong.

“Tolong jagain Andra ya Danita,” pinta Pak Jonathan. Aku mengangguk dengan cepat dengan pandangan masih fokus dengan andra. “Siap pak!” Ucap ku.

Aku melihat Nana yang cemberut ia langsung memeluk leher sang ayah, aku menyatukan alis kebingungan. “Daddy, kak Anin nda sayang Nana hueeeeee,” rengek Nana sambil menangis.

“Loh Nana, Kakak sayang kok sama kamu, nanti kita buat cake bareng-bareng ya?” Tawarku sambil menenangkan Nana.

“Udah jangan nangis, nanti buat cake sama Kak Anin mau hm?” Tanya Pak Jonathan ke putrinya.

“Janji?” Ucap Nana sambil mengulurkan jari kelingkingnya.

Aku mengangguk. “Janji,” balasku seraya menautkan jari kelingking ku ke jari kelingking Nana yang sangat kecil.

“Saya permisi, Andra jangan bawel ya,” pamit pak Jonathan.

“Ssiap Daddy, bye-bye,” ucap ku sambil meniru suara anak kecil dengan tangan memegang sebelah tangan Andra dan melambaikan tangan Andra ke pak Jonathan dan Nana.

Kirana terbangun ia melihat Jaehyun dengan muka paniknya. Dan juga Jeno dengan muka di tekuk, dapat ditebak mungkin Jeno habis di marahin oleh Jaehyun.

“Kak,” panggil Kirana dengan suara serak.

Jaehyun yang mendengar segera menoleh. “Kamu udah bangun sayang? Apa yang sakit? Dimana yang sakit?” Tanyanya bertubi-tubi.

Kirana tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. “Kakak gak marahin Jeno kan?” Tanya Kirana sambil melihat ke arah Jeno yang menatapnya.

Jaehyun menoleh ke arah Jeno sebentar, lalu menatap kembali adiknya. “Tadi sedikit doang,” jawabnya.

Sudah Kirana duga, Kirana hanya tersenyum mendengar jawaban dari Jaehyun. “Dokter Yuta, Kirana mau jumpa sama dokter Yuta,” Pinta Kirana. Jaehyun mengangguk lalu segera memencet bel yang ada di sebelah ranjang Kirana.

Pintu ruangan Kirana di rawat terbuka, Yuta baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut. “Halo Kirana, gimana udah enakan?” Tanyanya seraya tersenyum.

Kirana mengangguk. “Kak, Jen, Kirana mau ngomong sama dokter Yuta,” ucap Kirana.

“Iya, kalo ada apa-apa panggil kakak ya,” balas jaehyun seraya mengecup kening Kirana.

Kirana mengangguk lalu tersenyum ke arah Jaehyun dan Jeno.

“Kamu ikut saya, harus di sidang,” suruh Jaehyun sambil merangkul pundak Jeno.


“Kenapa Kirana?” Tanya Yuta.

“Dokter Yuta yang operasi Kirana 2 tahun yang lalu bukan?” Tanya Kirana kembali.

Yuta mengangguk. “Iya saya yang operasi kamu,” Jawabnya.

“Apa ingatan Kirana yang kembali itu adalah semua yang Kirana alami?” Tanya Kirana dengan tatapan sedikit takut.

“Yang kamu alami, dan yang kamu lihat. Semua ingatan itu akan bercampur, namun dengan perlahan kamu dapat membedakannya,” jawabnya dengan tenang. “Apa kamu mengingat sesuatu Kirana?” Lanjutnya bertanya.

Kirana mengangguk, mengalihkan pandangannya ke depan, yang tadinya menghadap Yuta. “Mama, Papa, bunuh, anak yang tidak di inginkan,” lirih Kirana dengan mata yang berkaca-kaca.

Yuta menatap adik sahabatnya itu dengan perasaan campur aduk. “Mau saya panggilkan dokter Kun?” Tawarnya.

Kirana segera menggelengkan kepalanya. “Rahasiakan semua ini ya Dok? Kirana takut, orang di sekitar kirana itu-” ucapan Kirana terjeda.

“Itu?” Tanya Yuta penasaran.

“Jahat,” sambung Kirana.

Yuta menghela nafas. “Jangan khawatir ya, sekarang kamu istirahat,” ucapnya sambil membenarkan selimut Kirana dan mengusap rambutnya pelan.

Klick

Suara pintu terbuka, Jendral baru saja membuka pintu apartemennya, kini ia masuk ke dalam apartemen dimana ia dan keluarga kecilnya tinggal.

Ia melihat sang buah hati sedang bermain di dunianya sendiri sambil mengoceh tidak jelas, namun itu sangat menggemaskan.

“Syifa sayang, ayah pulang,” sapa Jendra samgil menghampiri Syifa.

Syifa yang sadar dengan kepulangan ayahnya, ia segera menoleh ke ayahnya dan senyum dengan sangat lebar. “Yayah,” celotehnya.

Jendral segera menggendong buah hatinya dengan hati-hati, mencium pipi gembulnya yang sangat menggemaskan. “Beneran kamu manggil Yayah?” Tanyanya masih belum Percaya.

“Yayah,” celotehnya lagi sambil memainkan hidung jendral.

Zanna yang baru saja muncul di ruang tengah sambil membawa botol susu untuk Syifa sedikit kaget melihat ayah dan anaknya.

“Kamu udah pulang by, kapan?” Tanya Zanna.

“Come,” ucap Jendra merentangkan satu tangannya, dan satu tangan menggendong Syifa.

Zaffa sedikit keheranan, namun ia tetap datang dan masuk ke pelukan jendral. “Terimakasih atas semuanya, terimakasih,” ucap jendral seraya mengecup kening istrinya berkali-kali.

Zanna mendongakkan kepalanya melihat mata jendral berair, ia tersenyum menangkup pipi jendral. “Jangan nangis Yayah,” Kata Zanna menenangkan Jendral.

Namun perkataan Zanna semakin membuat air mata jendral mengalir, ia sedang menangis bahagia. Sangat bahagia dengan keluarga kecilnya sekarang.

“Aku di terima kerja sayang,” ucap jendral tiba-tiba. Zanna yang terkejut langsung memeluk pinggang jendral sangat erat.

“Oke sekarang jelasin apa yang beda?” Tanya Wendy ke aku ketika aku duduk di depan dia.

Hari ini jadwal aku Konsul, kalian tau ? Aku mengidap Arrhenphobia.

Arrhenphobia adalah ketakutan berlebihan, yang biasanya dialami oleh para wanita terhadap para pria. Penderita phobia ini akan ketakutan saat dekat ataupun bertemu dengan seorang pria. Bahkan dalam tingkatan cukup parah, mereka akan merasakan halusinasi dan rasa sakit dalam tubuhnya yang dia rasakan.

Sangat di sayangkan bukan? Itu sebabnya aku belum menikah sampai sekarang.

“Kamu tau kan, kalo aku tuh gabisa Deket sama cowo, bahkan ngomong aja gak berani kecuali sama Jendra,” Jawabku.

“Iya gue tau, kan itu tujuan Lo Konsul,” balasnya terlihat sedikit kesal.

“Tapi aneh.... Kemarin ketika aku berbicara dengan papa Nana, aku tidak merasa takut,” jelasku membuat Wendy sedikit kebingungan.

“Papa Nana?” Tanyanya.

Aku mengangguk. “Iya Papanya Nana anak kecil yang masuk ke toko ku,” aku menjelaskan semua kejadian yang aku alami kemarin.

Wendy mengangguk. “Lusa ko Dateng lagi kesini, kita lihat perkembangannya, jangan lupa minum obat,” perintah nya.

“Enak?” Tanyaku ke anak kecil yang menggemaskan ini. Ia memasukkan sesendok cake ke mulutnya.

“Enyak!” Jawabnya seraya tersenyum. Aku mengelus rambutnya, kok bisa ada anak se imut ini.

Kringgg

Suara lonceng menandakan seseorang memasuki toko ku. Aku melihat ke arah pintu, seorang lelaki dengan bayi di gendongan depan masuk ke toko dengan muka yang cemas.

“Astaga Nana, untung Daddy masang pelacak di kalung kamu,” ucapnya dengan cemas setelah sampai di meja kami. Ternyata dia adalah ayah dari anak ini, namanya Nana, nama yang cantik.

Aku berdiri dan menyapa pria tersebut. “Saya pemilik toko roti ini pak, tadi anak bapak masuk terus minta cake. Gpp kan pak?” Tanyaku.

Dia mengangguk, lalu duduk di depan Nana. “Enak ?” Tanyanya.

“Enyak dwaddy!” Jawabnya.

“Saya permisi pak,” pamit ku di jawab dengan anggukan oleh dia.

Kringgg...

Suara dari arah pintu yang menandakan ada yang masuk ke toko roti ku.

“Selamat siang, selamat datang ke Danita's Bakery,” Sapa ku ke pengunjung yang baru datang.

Namun tidak ada jawaban, bahkan tidak ada tanda-tanda orang masuk. Serem, bulu kudukku berdiri seketika.

Karyawan ku yang sedang membersihkan meja, memberi kode bahwa ada seseorang di depan sedang melihat-lihat cake yang ada di depannya. Aku melihat ke bawah, wah ternyata pelanggan ku kali ini seorang anak kecil yang sangat cantik.

Aku menghampirinya, lalu berjongkok untuk menanyakan tujuan kedatangannya. “Hei cantik, kamu sama siapa kesini?” Tanyaku sambil membelakangi rambutnya yang berantakan ke belakang telinganya.

“Mau cake,” jawabnya dengan nada yang sangat imut.

“Cake? Kamu mau cake apa cantik?” Tanya ku lagi. Ia melihat-lihat cake yang ada dengan mata indahnya.

Aku menggendongnya menunjukkan semua cake yang ada disini. “Do you have strawberry cake?” Tanyanya sambil menatapku.

Aku berfikir sejenak, mengingat stock cake yang ada disini. “Yah cake strawberry nya habis, How about a cheese cake?” Tanyaku menawarkan cake lain agar dirinya tidak kecewa.

“Eum!” Jawabnya dengan anggukan semangat. Aku tersenyum lalu memanggil karyawan ku yang sedang bersih-bersih. “Coba bilang, kak Rara mau cheese cake,” suruh ku ke anak kecil yang sedang aku gendong.

“Kakak Rara mawwu cake,” ucapnya mengikuti yang aku suruh.

Rara segera meninggalkan pekerjaannya, lalu mengambil sebuah cheese cake.

“Do you have Strawberry ice cream?” Tanyanya lagi. Aku mengangguk. “Coba minta ke kak Rara,” suruhku lagi.

“Kak Rara I want strawberry ice cream,” ucapnya dengan imut.

“Siap!” Jawab Rara.

Aku membawa anak kecil yang menggemaskan ini ke tempat duduk sambil menunggu pesanannya datang.

Yuqi, Lucas menatap Jeno, mereka kaget atas ucapan lucy. Mereka memang mengetahui bahwa presiden Lee adalah ayah Jeno, namun mereka tidak mengetahui apa tujuan presiden Lee memasukkan anaknya sebagai BIN di usia dini.

Maka dari itu mereka sangat terkejut ketika mengetahui bahwa alasan dari presiden Lee adalah menjadikan Jeno sebagai perisai.

Jeno mengangkat kepalanya. “Perisai tidak selamanya melindungi bukan? Bisa juga menyakiti diri sendiri jika salah dalam memakainya,” tutur Jeno tiba-tiba.

Lucy tersenyum seakan paham apa yang di maksud oleh Jeno. “Jadi apa rencana kita?” Tanya Lucy.

“Kita ambil duit itu, lalu kita tangkap semua tikus-tikus itu,” Jawab Jeno tegas. Disambut tawa oleh ketiga lainnya.