Panglimakun

“Dulu presiden Lee dan juga atasan Choi bersahabat dari kecil,” kata Lucy menceritakan semuanya dari awal.

“Sampai suatu hari, mereka mencoba untuk membuat sebuah eksperimen, dimana atasan Choi yang bertanggung jawab atas pembuatan virus, dan presiden Lee yang bertanggung jawab dengan pembuatan vaksin,” lanjutnya.

“Virus? Jika Vaksin berada di presiden Lee maka virus itu ada atasan Choi?” Tanya Yuqi.

Lucy menggeleng. “Tidak ada yang tau dimana keberadaan virus tersebut. Presiden Lee mengetahui bahwa virus tersebut masih ada di atasan Choi, namun kejadian 5 tahun yang lalu membuat lab mereka hancur kebakar,” Jawab Lucy.

“5 tahun yang lalu dimana komandan Winwin di ambil oleh BIN? Dan terjadi perang antara Presiden Lee dengan atasan Choi?” Kini Lucas yang bertanya.

Jeno hanya mendengar dan memahami semua pembicaraan mereka. Lucy mengangguk. “Presiden Lee berkhianat ingin menjadi presiden, dan menjalankan semua rencana buruknya, penggelapan dana, korupsi, dll yang di wakilkan oleh Jaksa Lee,” Jawab Lucy.

“Tanpa presiden Lee ketahui, bahwa atasan Choi telah membentuk Agent rahasia,” ucapan Lucy terjeda. “Walaupun dengan terpaksa,” lirih Lucy dengan nada rendah.

“Terpaksa?” Tanya Lucas penasaran.

Lucy mengangguk. “Dan tanpa sepengetahuan atasan Choi, presiden Lee memasukkan anaknya ke BIN, agar bisa jadi perisai di masa depan,” lanjut Lucy sambil melihat ke arah Jeno yang menunduk melamuni sesuatu.

“Maksud Lo ?” Tanya Lucas ke Yuqi.

Yuqi menatap Lucy sebentar lalu ia mengalihkan pandangannya entah kemana. “Gue rasa Lucy bisa jelasin?” Tanya Yuqi ke Lucy sambil tersenyum.

Lucy mengangguk paham. “Setelah kejadian dimana pertama kali gue dan para Agent Irregular, ketemu sama atasan Choi, ingatan gue semuanya kembali, trauma gue dan apa yang terjadi ke gue selama ini,” jawabnya.

Jeno, Lucas, dan Yuqi mendengar baik-baik penjelasan dari Yuqi. “Gue baru ingat bahwa gue adalah adik dari tuan Jo, bos dari 127'A atau bos dari semua Agent,” tuturnya.

Jeno mengelus tangan Lucy sebelah membuat Lucy menoleh ke arahnya. “It's okay, jelasin semuanya,” ucapnya menenangkan Lucy.

Lucy mengangguk dan tersenyum. “Apa kalian mau mendengar semua cerita pahit ini?” Tanya Lucy.

Jeno, Lucas, dan Yuqi mengangguk siap. “Untuk rencana kedepannya, kita harus tau apa yang terjadi di masa lalu,” Jawab Yuqi.

Flashback

Setelah mengantar para Agent Irregular ke tempat tadi, dan setelah mendapat telepon dari seseorang yang mengaku sebagai presiden Lee. Lucy dan Jeno kembali ke markas mereka. Dimana Yuqi dan Lucas sudah menunggu.

Setelah sampai Jeno mendapat telepon dari seseorang, kemungkinan saja itu adalah komandan Winwin kata Lucas.

“Jadi gimana?” Tanya Lucy ke Jeno yang baru saja berbicara dengan seseorang melalui telepon.

Jeno duduk di sofa dimana Lucy, Lucas, dan Yuqi berada. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan. Mukanya terlihat gelisah setelah mendapatkan telepon.

Jeno menghela nafas agar tenang. “Ternyata duit dari hasil suap, dan kejahatan yang di lakukan Jaksa Lee, semuanya sudah di ambil pihak 127'A,” Jawabnya terjeda. “Mungkin aja Agent regular yang mengambil atau atasan Choi,” Lanjutnya.

Lucy mengulum bibirnya terlihat raut wajah yang sangat kesal mendengar penjelasan dari Jeno.

“Mau mereka apa sih? Duit? Vaksin?” Tanyanya bertubi-tubi.

“Kekuasan,” tutur Yuqi tiba-tiba.

“Kamu itu harusnya mati.”

“Mama gamau kamu lahir.”

“Kamu cacat, kamu anak yang bodoh.”

“Kamu bukan anak papa.”

“Papa gak pernah nganggep kamu.”

“Kamu anak haram! Hasil perbuatan haram mama kamu sama lelaki lain.”

“Saya benci sama kamu!”

“Bunuh.... Gak ada yang sayang....... Bunuh....”

“Jangan!” Teriak Kirana.

Ia baru saja terbangun dari tidurnya. Lebih tepatnya pingsan. “Lo Gpp?” Tanya Jeno membantu Kirana mendudukkan badannya.

Kirana memegang kepalanya. Sakit, suara-suara aneh yang ada di mimpinya tadi, suara apa itu?

“Takut,” lirih Kirana sambil menatap Jeno.

Jeno menenangkan Kirana, membawa Kirana ke dalam dekapannya. “Ada gue disini takut kenapa hm?” Tanyanya.

Kirana menutup kedua telinganya menggunakan tangan. “Kak Jae Kirana takut!” Jerit Kirana membuat seluruh orang yang ada di IGD terkejut.


Jeno segera menelepon Jaehyun, hendak mengabari kabar Kirana sekarang.

“Halo kenapa Jen?” Buka Jaehyun.

“Bang Jae, ini Kirana,” balas Jeno sedikit panik.

“Kirana kenapa? Santai Jen, pelan-pelan,” ucap Jaehyun.

Jeno menarik nafas panjang, lalu menghembus kasar. “Kirana masuk rumah sakit bang, gue kirim lokasinya ya segera kesini,” ucap Jeno segera menutup telepon. Ia sangat takut sekarang, sangat takut di marahi oleh Jaehyun dan juga sangat takut terjadi apa-apa terhadap Kirana.

“Kamu itu harusnya mati.”

“Mama gamau kamu lahir.”

“Kamu cacat, kamu anak yang bodoh.”

“Kamu bukan anak papa.”

“Papa gak pernah nganggep kamu.”

“Kamu anak haram! Hasil perbuatan haram mama kamu sama lelaki lain.”

“Saya benci sama kamu!”

“Bunuh.... Gak ada yang sayang....... Bunuh....”

“Jangan!” Teriak Kirana.

Ia baru saja terbangun dari tidurnya. Lebih tepatnya pingsan. “Lo Gpp?” Tanya Jeno membantu Kirana mendudukkan badannya.

Kirana memegang kepalanya. Sakit, suara-suara aneh yang ada di mimpinya tadi, suara apa itu?

“Takut,” lirih Kirana sambil menatap Jeno.

Jeno menenangkan Kirana, membawa Kirana ke dalam dekapannya. “Ada gue disini takut kenapa hm?” Tanyanya.

Kirana menutup kedua telinganya menggunakan tangan. “Kak Jae Kirana takut!” Jerit Kirana membuat seluruh orang yang ada di IGD terkejut.


Jeno segera menelepon Jaehyun, hendak mengabari kabar Kirana sekarang.

“Halo kenapa Jen?” Buka Jaehyun.

“Bang Jae, ini Kirana,” balas Jeno sedikit panik.

“Kirana kenapa? Santai Jen, pelan-pelan,” ucap Jaehyun.

Jeno menarik nafas panjang, lalu menghembus kasar. “Kirana masuk rumah sakit bang, gue kirim lokasinya ya segera kesini,” ucap Jeno segera menutup telepon. Ia sangat takut sekarang, sangat takut di marahi oleh Jaehyun dan juga sangat takut terjadi apa-apa terhadap Kirana.

“Halo,” sapa Lucy ke sang penelepon.

”..........”

“Hah? Bin udah disini? Kok cepet?” Balas Lucy.

”.......”

“Bahkan udah merekam semua yang terjadi?” Ujar Lucy sambil menunjukan ekspresi terkejut.

”........”

“Oke see u Jen,” Finish Lucy, lalu memasukkan handphonenya lagi ke dalam saku.

“Gimana udah denger?” Tanya Lucy ke atasan Choi.

“Arrghhh, apa mau kamu?” Tanya atasan Choi kembali.

Lucy berfikir sebentar. “Duit, duit yang kalian curi dari Jaksa Lee,” Jawabnya.

Lucy mengambil sebuah chip dari tasnya lalu memasang chip tersebut di baju Johnny. “Chip ini bakalan gue aktifin besok malam, bawa semua duit itu ke tempat dimana chip ini terlacak,” perintah Lucy.

“Hai sorry telat,” sapa seseorang yang baru saja loncat dari sebuah container menghampiri Lucy.

“Hai Jen, gpp,” balas Lucy.

“Komandan saya bakalan datang dalam 1 menit, jika kalian ingin selamat, gunakan 1 menit itu untuk pergi,” ancamnya.

Atasan Choi dengan segera melangkahkan kaki menjauh dari sana, di ikuti oleh semua bodyguard dan juga winter.

Taeyong tersenyum ke arah Lucy, Jeno dan juga Johnny sebelum ia mengikuti langkah atasan Choi.

“Apa yang.... Kalian kasih ke saya,” tanya Johnny dengan lemah.

Lucy melepaskan borgol yang ada di lengan Johnny, ia segera jongkok mensejajarkan posisinya dengan Johnny.

“Obat tidur, selamat tidur, Lucy tau bang Jo udah berjuang keras selama ini. Sekarang istirahat walaupun cuman berapa jam,” jawabnya lalu memberi kode ke Jeno agar membawa Johnny.

Johnny tidak bisa mendengar dengan jelas jawaban dari lucy. Namun ia merasa sedikit berhalusinasi. “Bang... Jo,” gumamnya seraya tersenyum, sebelum kesadarannya benar-benar hilang.

“Halo,” sapa Lucy ke sang penelepon.

”..........”

“Hah? Bin udah disini? Kok cepet?” Balas Lucy.

”.......”

“Bahkan udah merekam semua yang terjadi?” Ujar Lucy sambil menunjukan ekspresi terkejut.

”........”

“Oke see u Jen,” Finish Lucy, lalu memasukkan handphonenya lagi ke dalam saku.

“Gimana udah denger?” Tanya Lucy ke atasan Choi.

“Arrghhh, apa mau kamu?” Tanya atasan Choi kembali.

Lucy berfikir sebentar. “Duit, duit yang kalian curi dari Jaksa Lee,” Jawabnya.

Lucy mengambil sebuah chip dari tasnya lalu memasang chip tersebut di baju Johnny. “Chip ini bakalan gue aktifin besok malam, bawa semua duit itu ke tempat dimana chip ini terlacak,” perintah Lucy.

“Hai sorry telat,” sapa seseorang yang baru saja loncat dari sebuah container menghampiri Lucy.

“Hai Jen, gpp,” balas Lucy.

“Komandan saya bakalan datang dalam 1 menit, jika kalian ingin selamat, gunakan 1 menit itu untuk pergi,” ancamnya.

Atasan Choi dengan segera melangkahkan kaki menjauh dari sana, di ikuti oleh semua bodyguard dan juga winter.

Taeyong tersenyum ke arah Lucy, Jeno dan juga Johnny sebelum ia mengikuti langkah atasan Choi.

“Apa yang.... Kalian kasih ke saya,” tanya Johnny dengan lemah.

Lucy melepaskan borgol yang ada di lengan Johnny, ia segera jongkok mensejajarkan posisinya dengan Johnny.

“Obat tidur, selamat tidur, Lucy tau bang Jo udah berjuang keras selama ini. Sekarang istirahat walaupun cuman berapa jam,” jawabnya lalu memberi kode ke Jeno agar membawa Johnny.

“Lakukan,” perintah seseorang melalui Earphone. “Baik,” jawab Lucy dengan nada kecil.

Perlahan Johnny mendekati Lucy, namun fokusnya melemah, efek benturan yang baru saja terjadi membuat Johnny lengah.

Lucy tidak menyia-nyiakan kesempatan, dengan cepat dan lihai ia menendang lengan Johnny, pistol yang ada di tangannya terlempar ke sembarang tempat.

“Fuck....” Umpat Johnny. Johnny hendak melawan namun di karenakan kondisinya yang lengah. Kini keadaan berbalik.

Lucy berhasil melumpuhkan Johnny, Johnny ia buat duduk berlutut berhadap rombongan atasan Choi.

Sregg

Lucy memborgol kedua tangan Johnny di belakang badannya. Kini posisi Johnny benar-benar terancam.

“Hei, gimana masih mau vaksinnya?” Tanya Lucy sambil mengejek.

Atasan Choi merasa kesal dengan ejekan Lucy, ia memberi aba-aba kepada para bodyguardnya untuk maju. Namun sayang langkah para bodyguard harus terhenti.

“Vaksinnya udah ada di jarum suntik ini, bagaimana kalo kita suntikan langsung ke manusia? Kayaknya seru,” ucap Lucy sambil mengarahkan jarum suntik tersebut ke leher Johnny.

“Jangan berani-berani kamu,” geram atasan Choi.

“Wopsieeeeeee,” tutur Lucy ketika cairan dari jarum suntik itu sudah masuk sepenuhnya ke tubuh Johnny.

Johnny terlihat sangat lemah, bahkan untuk membuka mata ia sudah tidak sanggup.

“Nah sekarang kalo mau vaksinya ambil aja di darah kaki kanan Lo,” lontarnya dengan lidah menjulur menandakan sedang mengejek.

Atasan Choi semakin geram dengan tingkah Lucy, ia mengepalkan tangannya, bahkan mukanya sampai memerah. “Tangkap jalang itu Taeyong,” perintah atasan Choi ke Taeyong.

“Baik tuan,” balas Taeyong menerima perintah. Taeyong melangkahkan kakinya menghampiri Lucy.

“Hopppp, tunggu dulu ada telepon,” tahan Lucy, membuat kaki Taeyong berhenti.

“Berani-beraninya kamu menantang saya,” murka Johnny ke Lucy.

Lucy memundurkan badannya sedikit demi sedikit. “Ngapain takut Lo manusia bukan tuhan,” tangkas Lucy.

Johnny semakin marah mendengar ucapan Lucy. “Dimana sopan santun kamu?” Tanyanya.

“Gue gak pernah di ajarin sopan santun, keluarga gue udah mati,” jawab Lucy dengan santai. Johnny semakin murka ia melayangkan tangannya untuk menumbuk lucy. Namun sayang Lucy sangat lihai, dengan cepat ia menghindar.

Perkelahian di mulai, mereka saling menjatuhkan pukulan, tonjokan satu sama lain.

Dugg

Dengan satu tendangan Johnny berhasil terlempar sedikit jauh oleh Lucy. Lucy tertawa terbahak-bahak seakan-akan mengejek. “Look, masa kayak gitu mau rebut vaksin dari gue?” Tutur Lucy melihat ke arah rombongan atasan Choi.

Johnny terbangun, ia mengusap bibirnya yang dialiri darah. “Jangan harap saya akan mengasihani kamu, karena kamu perempuan,” marahnya.

“Gue gak pernah minta di kasihani, terlebih lagi sama Lo,” jerit Lucy. Dengan murka Johnny menendang perut Lucy. Kesialan ada di pihak Lucy ia tak sempat menghindar, Lucy terlempar punggungnya mengenai sebuah container di belakangnya.

“Arghhhh shit,” ringisnya.

Atasan Choi yang melihat itu tertawa puas, namun tidak dengan Taeyong dan Winter. Mereka tau bahwa yang sedang berkelahi sekarang adalah Johnny dan Lucy, yang merupakan saudara kandung.

Johnny berjalan menghampiri Lucy yang terduduk lemah, ia mengeluarkan sebuah pistol dari saku jasnya.

“Serahkan sekarang,” pinta Johnny dengan tangan mempoint pistol tepat di depan kepala Lucy.

Hari yang ditunggu telah tiba, dimana Lucy sedang menunggu kedatangan para Agent Irregular di pelabuhan shanghai.

Winter menampakkan diri, dengan segera Lucy loncat dari atas container yang ada di pelabuhan tersebut.

Namun sialnya di belakang winter sudah ada beberapa bodyguard, berserta Johnny, Taeyong dan Juga Atasan Choi menghampiri winter.

“Ohhh shit...” Umpat Lucy sambil berjalan ke belakang sedikit demi sedikit.

“Ohh lihat siapa yang ada di depan kita, ternyata dia belum mati,” cibir atasan Choi.

Semua yang ada disana terlihat shock melihat Lucy, namun tidak dengan winter.

“Apa kamu mau kembali? Atau kamu ingin membuktikan bahwa kamu adalah Agent yang benar dengan melakukan misi sendirian?” Tanya atasan Choi. “Kalo begitu berikan vaksin itu ke saya,” pinta atasan Choi.

Lucy menyatukan alisnya. “Vaksin?” Tanyanya. “Aaaaaa ini?” Ucap Lucy sambil mengeluarkan sebuah botol yang berisikan cairan yang di duga vaksin itu.

“Sini ambil,” tantang Lucy ke atasan Choi.

Atasan Choi melirik ke arah winter seakan-akan menyuruh winter merebur vaksin itu dari tangan Lucy.

Winter melangkahkan kakinya, namun tertahan. “AA aaaa aaa masa cewe? Kena jempol gue aja mati,” ucap Lucy merendahkan winter dengan tatapan dan senyuman mengejek.

“Eummmm siapa yang seru,” kata Lucy sambil berjalan ke kiri dan ke kanan. Kaki Lucy berhenti lalu mengatakan, “Lo sini maju,” tunjuk Lucy ke seseorang.

Johnny merasa kaget, karena orang yang di tunjuk adalah ia. “Cepat ambil!” Perintah Atasan Choi. Dengan berat hati Johnny melangkahkan kakinya menuju Lucy.

Lucy melemparkan tas nya ke sembarang tempat, mengambil ancang-ancang siap untuk berkelahi.