Ternyata

Aku keluar dari rumah menghampiri Pak Kim yang sudah menunggu di dekat mobil.
Aku mengembangkan senyum ke arah pak Kim. “Selamat pagi pak Kim,” sapa ku.
Pak Kim memberi senyuman khasnya lalu membuka pintu mobil. “Selamat pagi juga nona muda, silahkan masuk.”
Aku mengerucutkan bibir tak setuju dengan ucapan 'nona muda' dari pak Kim. “Hanya nona,” Protesku.
Pak Kim hanya tersenyum mendengar protesan dari aku, ia langsung menutup pintu dan segera masuk ke mobil, tentu saja di kursi pengemudi.
Aku melihat sekitar mobil, mataku tidak sengaja bertemu dengan sebuah sarung tangan hitam di bawah tempat duduk pengemudi.
“Ini sarung tangan pak Kim?” Tanyaku.
Pak Kim yang sedang mengemudi ia hanya menoleh melalui kaca spion. “Bukan non, itu punya Tuan Jaehyun,” Jawabnya.
Kak Jae? Kok kak jae punya sarung tangan. Seakan peka dengan kebingungan ku, Pak Kim menjelaskan kenapa bisa ada sarung tangan tersebut.
“Kemarin malam Tuan Jaehyun coba balapan gitu non, sesuai hobi dia pas muda, terus jatuh non lihat kan berdarah? Nah tangannya tergores, karena kebiasaan Tuan Jae hanya memakai satu sarung tangan, itu dia sarung tangannya,” Jelas Pak Kim panjang lebar.
Aku menganggukkan kepalaku, lalu menaruh sarung tangan itu di tas.





