Panglimakun

Aku keluar dari rumah menghampiri Pak Kim yang sudah menunggu di dekat mobil.

Aku mengembangkan senyum ke arah pak Kim. “Selamat pagi pak Kim,” sapa ku.

Pak Kim memberi senyuman khasnya lalu membuka pintu mobil. “Selamat pagi juga nona muda, silahkan masuk.”

Aku mengerucutkan bibir tak setuju dengan ucapan 'nona muda' dari pak Kim. “Hanya nona,” Protesku.

Pak Kim hanya tersenyum mendengar protesan dari aku, ia langsung menutup pintu dan segera masuk ke mobil, tentu saja di kursi pengemudi.

Aku melihat sekitar mobil, mataku tidak sengaja bertemu dengan sebuah sarung tangan hitam di bawah tempat duduk pengemudi.

“Ini sarung tangan pak Kim?” Tanyaku.

Pak Kim yang sedang mengemudi ia hanya menoleh melalui kaca spion. “Bukan non, itu punya Tuan Jaehyun,” Jawabnya.

Kak Jae? Kok kak jae punya sarung tangan. Seakan peka dengan kebingungan ku, Pak Kim menjelaskan kenapa bisa ada sarung tangan tersebut.

“Kemarin malam Tuan Jaehyun coba balapan gitu non, sesuai hobi dia pas muda, terus jatuh non lihat kan berdarah? Nah tangannya tergores, karena kebiasaan Tuan Jae hanya memakai satu sarung tangan, itu dia sarung tangannya,” Jelas Pak Kim panjang lebar.

Aku menganggukkan kepalaku, lalu menaruh sarung tangan itu di tas.

Jaehyun dan Johnny kini sudah berada di TKP beserta beberapa pihak kepolisian lainnya.

Mereka terheran karena TKP terlihat rapi, seperti tidak ada kejadian apapun disini. Hanya ada darah korban yang terciprat di dinding.

Johnny jongkok lalu ia mengambil sebuah potongan kain dan memasukkan ke dalam plastik yang di sediakan, agar bisa di cek, apakah itu sebuah bukti.

Johnny berdiri lagi dan menghampiri Jaehyun, ia memperlihatkan apa yang ia ambil tadi. “Potongan kain,” Ujarnya.

Jaehyun menoleh, dan melihat ke arah potongan kain tersebut. “Bisa saja milik korban, tidak mungkin milik pelaku dilihat dari tkp yang begitu bersih.”

Johnny mengangguk lalu ia memasukkan plastik yang berisikan potongan kain itu ke saku jaket yang ia pakai.

Ketika mereka sedang mengecek sedetail mungkin TKP, seorang petugas berteriak membuat semua terfokus kepada dia.

“Semuanya, saya menemukan sarung tangan,” teriaknya seraya mengangkat hasil penemuannya.

Johnny dan Jaehyun menghampiri petugas tersebut, lalu mereka segera mengecek sarung tangan yang di temukan.

“Ini bukti sangat penting, kalian simpan baik-baik,” perintah Jaehyun lalu ia pergi tanpa pamit.

Johnny yang kaget dan kebingungan atas tingkah Jaehyun dia hanya mengangguk. “Tanpa Lo suruh juga bakalan di jaga sih,” Monolog Johnny.

Lucy segera mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, tempat yang akan di tuju tidak dekat. Mau di gendong Hatari pun kemungkinan besa sampe kesana dalam waktu 10 menit itu mustahil. Lucy mempertaruhkan nyawanya demi winter, dia tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti sahabatnya.

Namun di dunia cerita ni yang mustahil bisa saja terjadi, Lucy sampai di tempat tersebut dalam waktu 7 menit, ia masih memiliki waktu 3 menit.

Lucy segera turun dari motornya, lalu ia masuk ke dalam gedung tinggi tersebut. Ia mengecek handphone melihat titik dimana winter berada.

Titik koordinasi dimana winter berada menunjukkan pada sebuah ruangan, dimana Lucy sudah berada di depan ruangan tersebut.

Lucy dengan segera membuka pintu ruangan tersebut tanpa menunggu lama. Namun ketika ia melangkahkan kakinya ke dalam, ia merasakan setrum yang sangat tinggi di tubuhnya. Ia menoleh ke belakang melihat seseorang menyetrum tubuhnya.

Lucy terjatuh di akibatkan oleh setruman tadi, samar-samar ia melihat beberapa orang yang ia kenal.

Lucy sedang menunggu kedatangan Agent Irregular lainnya keruang tengah, keadaan markas kali ini benar-benar sepi. Entah kemana mereka pergi.

Haechan datang ke ruang tengah menghampiri Lucy, namun ia terfokus dengan handphonenya.

“Hai,” sapa Haechan dengan mata yang masih fokus dengan handphone.

“Hai Chan,” Jawab Lucy.

Tak lama setelah Haechan datang, Renjun dan Jaemin menampakkan dirinya, Renjun segera duduk di samping Haechan.

“Hp terus lo, ngechat siapa sih,” Tanya Renjun membuat Haechan mematikan hp nya segera. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Jaemin melihat sekeliling, lalu ia menoleh untuk menatap Lucy. “Winter, Jeno mana?” Tanya Jaemin.

Lucy hanya menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak tau dimana keberadaan Jeno dan Winter.

Ting....

Suara notifikasi chat masuk dari hp Lucy, Lucy segera cek handphonenya. Ketika melihat isi pesan tersebut ia terlihat panik, lalu segera berdiri. “Lo bertiga disini aja ya,” perintah Lucy lalu ia segera berlari keluar entah kemana.

Ketiga Agent Irregular lainnya terlihat kebingungan melirik satu sama lain.

“Ntah,” tutur Haechan.

Lucy sedang menunggu kedatangan Agent Irregular lainnya keruang tengah, keadaan markas kali ini benar-benar sepi. Entah kemana mereka pergi.

Haechan datang ke ruang tengah menghampiri Lucy, namun ia terfokus dengan handphonenya.

“Hai,” sapa Haechan dengan mata yang masih fokus dengan handphone.

“Hai Chan,” Jawab Lucy.

Tak lama setelah Haechan datang, Renjun dan Jaemin menampakkan dirinya, Renjun segera duduk di samping Haechan.

“Hp terus lo, ngechat siapa sih,” Tanya Renjun membuat Haechan mematikan hp nya segera. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Jaemin melihat sekeliling, lalu ia menoleh untuk menatap Lucy. “Winter, Jeno mana?” Tanya Jaemin.

Lucy hanya menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak tau dimana keberadaan Jeno dan Winter.

Ting....

Suara notifikasi chat masuk dari hp Lucy, Lucy segera cek handphonenya. Ketika melihat isi pesan tersebut ia terlihat panik, lalu segera berdiri. “Lo bertiga disini aja ya,” perintah Lucy lalu ia segera berlari keluar entah kemana.

Ketiga Agent Irregular lainnya terlihat kebingungan melirik satu sama lain.

“Ntah,” tutur Haechan.

“Ada pertanyaan lagi?” Tanya Pak Johnny selaku bos di perusahaan ini kepada ku.

Aku menggelengkan kepala. “Tidak ada pak, semua sudah jelas,” Jawabku.

Pak Johnny hanyq mengangguk, dia membolak-balik berkas lamaran kerja yang aku bawa.

Jujur, tadi pada saat interview aku sangat gugup, jangan tanya gimana keadaanku gugup di campur kaget.

“Oke, besok bisa langsung kerja kalo gitu, selamat ya kamu di terima,” kata Pak Johnny sambil mengulurkan tangannya.

Eh? Aku diterima? Maksudnya langsung di terima?

Dengan perasaan, dan muka yang gak bisa di kontrol, gue reflek berdiri dan menjabat tangan pak Johnny. “Terimakasih pak, saya berjanji akan menjadi sekretaris yang baik.”

Raut muka Johnny terlihat sangat bahagia, senyum yang ia kembangkan sangat-sangat lebar. Ia sangat senang melihat sekretaris yang baru saja ia terima begitu bahagia.


Aku keluar dari ruangan pak Johnny dengan sangat-sangat bahagia, aku melihat Dika di depan sana.

“Hai Dika,” sapa ku, berhasil membuat Dika melayangkan sebuah pukulan di kepalaku.

“Pak Dika!” Tegasnya.

“Heleh karyawan biasa juga,” ejek Ku.

“Halah, gue bilang Johnny supaya Lo gak di terima jadi sekretarisnya baru tau rasa Lo,” ancam Dika.

Aku menatap mata Dika kebingungan. “Kan gue belum bilang gue di terima,” Tanya aku.

Dika terlihat gugup dan kalang kabut. “Hahaha itu anu, gue ada rapat bye,” pamit Dika seraya melangkahkan kakinya dengan cepat.

“Dikaaaaaaaaaaaa,” geram ku.

Kirana naik ke atas, maksudnya ke rooftop dimana Jeno berada. Setelah kedatangan Jeno ke rumah Kirana, yang membuat Jeno dan Winwin berkelahi dan Winwin memutuskan untuk pergi dari rumah Kirana dengan emosi yang membara.

Kirana melihat Jeno merem dengan heads earphone di telinganya. Kirana duduk di sebelah Jeno, membuat Jeno menyadari kedatangan Kirana, dan segera melepaskan earphone yang ia pakai.

Kirana mengambil sebuah kapas dan mengoleskan Betadine ke kapas tersebut, ia hendak mengobati muka Jeno yang terluka. Namun Jeno menahan tangan Kirana, tepatnya pada sebuah jam yang Kirana pakai.

“Kenapa di tahan?” Tanya Kirana kebingungan.

Bukannya menjawab, Jeno malah memejamkan matanya, ia merasakan sesuatu hal, benar saja ia menyentuh sebuah benda dan tentu saja ia akan melihat masa lalu dari benda tersebut dengan kemampuannya.

“Jam ini udah di sadap,”

“Sesuai perintah anda,”

“Good,”

Suara itu masuk ke dalam pikiran Jeno, melihat dua orang memakai baju serba hitam, namun salah satu di antara mereka berdua sangat familiar bagi Jeno.

Jeno tersentak sadar, dan ia segera melepaskan tangan Kirana yang sedari tadi ia pegang. Kirana keheranan, ada apa dengan Jeno?

Jeno mengetik sebuah pesan di handphone nya lalu ia menunjukkan kepada Kirana. Lepas Jam-nya

“Loh kenapa?” Tanya Kirana.

Jeno menempatkan jari telunjuknya di bibir menyuruh Kirana untuk tidak bersuara.

Lepaskan saja cepat! Jeni mengetik pesan lagi di handphonenya dan menunjukkan ke Kirana.

Kirana segera melepaskan Jam yang ia pakai, lalu ia serahkan ke Jeno. Dengan cepat Jeno menggapai sebuah batu yang berada di dekatnya, lalu menghancurkan jam itu seketika.

“Lo di sadap,” Kata Jeno yang membuat Kirana kaget bukan main

Hai perkenalkan namaku Raania atau biasa dipanggil Ran oleh beberapa temanku. Aku adalah seorang Sarjana Manajemen, aku baru saja lulus tahun ini. Sekarang sih sedang menganggur, tapi baru saja diberi informasi lowongan pekerjaan oleh sahabatku Dika.

Kini aku sudah berada di sebuah perusahaan. Perusahaan yang sangat mewah dan besar, apakah aku bisa menjadi seorang sekretaris disini? Yang penting usaha dulu deh.

Aku melangkahkan kakiku masuk kedalam perusahaan tersebut, perusahaan besar yang bernama Johfam group.

Ketika sedang berjalan dengan santai di dalam perusahaan itu, aku melihat seorang pria memakai kemeja putih dengan segelas kopi di tangannya.

Pria tersebut fokus dengan handphone nya sehingga tidak melihat dari depan ada beberapa wanita yang berjalan tanpa melihat sekitar.

“Awas,” pekik ku dengan nada kecil. Namun sia-sia pria tersebut di tabrak oleh salah satu wanita yang berjalan dari depannya.

Wanita tersebut hanya membungkuk meminta maaf setelah itu melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan pria itu.

Aku menghampiri pria tersebut, keadaannya berantakan. Kemeja putih yang ia kenakan menjadi kotor terkena tumpahan kopi.

“Anda gpp? Gak panas? Ada yang melepuh?” Tanyaku.

Pria tersebut sedikit tersentak dengan kehadiranku, ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Ini kopi hangat,” Jawabnya.

Aku mengeluarkan sebuah sapu tangan dari kantong celanaku. “Ini,” ucapku sambil menyerahkan sapu tangan itu ke pria tersebut.

Pria tersebut menerima sapu tangan aku, ia segera mengelap kemeja yang terkena tumpahan kopi tadi.

“Makanya kalo jalan tuh jangan ke hp matanya, lihat jalan. Kan jadi kotor tuh,” omel ku membuat pria yang aku omelin tertawa kecil.

Pria tersebut menganggukkan kepalanya. “Iya terimakasih, kamu mau melamar pekerjaan?” Tanyanya.

Ahhh benar saja, aku melihat jam tangan yang kini menunjukkan jam 8.20, yang seharusnya aku sudah berada disana Jam 8.00, dapat dipastikan aku sudah telat.

“Telat, anu hati-hati ya!” Ujar ku lalu segera lari menjauh dari pria tersebut.

“Untung boss nya disini,” monolog pria tersebut, yang menyebutkan dirinya sebagai boss.

“Masuk,” kata Johnny ketika melihat Lucy membuka pintu mobilnya.

Sebelum masuk Lucy membungkuk memberi salam, lalu ia segera masuk dan duduk di kursi penumpang.

Johnny menyalakan mesin mobil, dan ia menjalankan mobilnya perlahan, Lucy hendak bertanya namun ia sangat takut untuk angkat suara.

Johnny sedikit menoleh kearah Lucy, ia melihat Lucy yang gugup memainkan tangannya, membuat Johnny mengangkat senyumannya sedikit.

“Sudah sembuh?” Tanya Johnny.

Lucy kaget mendengar suara Johnny, ia segera menoleh ke arah Johnny. “S—sudah tuan....” Jawab Lucy dengan nada yang sedikit bergetar.

“Santai saja Lucy,” suruh Johnny melihat Lucy yang sangat panik dan kaku sekarang.

“I—iyya tuan, kita mau kemana?” Tanya Lucy dengan hati-hati.

Johnny menoleh ke arah Lucy sedikit. “Ke supermarket beliin kamu permen,” ucapnya dengan santai.

'Gila nih manusia satu,” batin Lucy.

Lucy hanya mengangguk, keheningan kembali melanda mereka, kini Lucy hanya memandang jalanan luar melalu jendela. Dan Johnny yang sedang fokus menyetir.

“Siapa Pengkhianatnya?” Tanya Johnny memecahkan keheningan.

Semua Agent Irregular telah berkumpul diruangan rapat seperti perintah Jaemin.

Dan sekarang Jaemin sedang menjelaskan apa yang akan mereka hadapi, dan apa yang akan mereka lakukan di misi ini.

Semua agent terlihat serius menyimak semua penjelasan Jaemin, namun tidak dengan Jeno.

Dia tidak sama sekali menyimak, hanya saja melamun entah apa yang ia lamunkan.

“So gimana paham?” Tanya Jaemin ketika selesai menjelaskan semuanya.

Semua Agent Irregular mengangguk paham, kecuali Jeno, ia masih saja melamun.

“Gue berharap ketua kita bisa di andalkan ya sedari tadi melamun terus, yaudah gue pamit nanti malam kalo ada apa-apa gue update ke kalian,” tutur Jaemin lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang rapat.

Keluarnya Jaemin diikuti oleh Agent Irregular lainnya selain Lucy dan Jeno. Atmosfir ruang rapat sedari tadi sangat tidak nyaman, setelah hanya tinggal mereka berdua, atmosfir ruangan semakin aneh.

Lucy melipatkan tangannya di depan dada, ia menatap tajam ke arah Jeno yang ada di hadapanny. Beberapa menit kemudian ia berdiri dari duduknya hendak keluar. Namun langkah kaki Lucy terhenti ketika mendengar suara dari Jeno.

“Lo bilang ke mereka?” Tanya Jeno membuka suara.

Lucy mendesis, ia menjawab pertanyaan Jeno tanpa menoleh ke arahnya. “No, cuman diri Lo sendiri yang buat mereka curiga, leader yang biasa aktif jadi diam.”

Lagi-lagi Jeno terdiam, pikirannya benar-benar tidak bersih sekarang.

“Memang sulit Jen, tapi paman Lo Jaksa Lee, dan papa Lo Lee Donghae, mereka dua-duanya bersalah. Ketika Lo bergerak dengan kita, kita hanya mengejar duit mereka, nyawa tidak akan terancam, tapi kalo Lo bergerak sama BIN, gue yakin mereka tidak segan buat nembak mati paman sama papa Lo,” jelas Lucy lalu ia melangkahkan kakinya menuju pintu.

Jeno merasa kesal dengan ucapan Lucy, ia berteriak, “BIN tidak seburuk apa yang kamu pikirkan Lucy, dan aku akan pastikan kalian gak akan dapat hasil dari misi ini,” pekik Jeno.

Lucy terkekeh mendengar apa yang baru saja Jeno ucapkan, ia menolehkan kepalanya menatap Jeno, lalu berkata, “I D O N T Care Lee Jeno,” ujar Lucy dengan sedikit mengeja, lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.

Jeno yang emosi dan merasa kesal, ia memukul-mukul meja rapat dengan kuat.

“Arrghhhh bangsat.”