Panglimakun

Lucy hendak membuka pin pintu markas, namun secara tiba-tiba ia kaget karena kedatangan seseorang.

“Darimana aja Lo luc,” Tanya Haechan.

Lucy menatap keheranan tumben jam segini Haechan belum tidur?

“Gue habis dari rooftop, Jeno juga disana,” jawab Lucy. “Lo yang darimana?”

“Gue habis telponan tadi, gue masuk duluan ya,” Finish Haechan lalu segera masuk ke markas.

Aneh, gerak-gerik Haechan sanngat aneh, telpon? Sama siapa coba dia telponan? Pikiran itu berputar-putar di kepala Lucy.

“Ahh bodo lah,” gerutu Lucy lalu ia melangkah masuk kedalam markas.

Didalam, ruang tunggu markas Irregular telah di penuhi oleh mereka, entah gerangan apa yang membuat mereka terbangun dini hari.

“Kenapa?” Tanya Lucy.

Winter yang mendengar suara Lucy, dia lalu menghampiri Lucy dan memanyunkan bibirnya. Seolah-olah bayi yang sedang merengek kepada seorang Ibu.

“Masa kita gajadi liburan, lihat grub,” Rengek Winter.

Jeno baru saja memasuki markas dan menuju ruang tunggu, tanpa aba-aba ia langsung menyuruh Jaemin memperlihatkan data misi berikutnya.

Gue menjelaskan semuanya tentang masa lalu buruk gue kepada Jeno. Gue hanya berharap dia tidak jijik melihat gue setelah ini.

“Lo tau? Kenapa gue bisa terlalu semangat dengan misi kemarin?” Tanya gue, “Karena gue merasa korban harus selamat, mereka punya masa depan yang cerah kelak,” Lanjut gue.

Jeno tersenyum tipis, mungkin dia merasa kasihan atas yang menimpa gue?

“How about you Lucy? Lo punya masa depan yang indah kelak,” Tuturnya.

Gue tertawa miris atas tuturan Jeno, apa iya? Gue bakalan mendapatkan masa depan yang indah di masa depan?.

“Setelah di perkosa pada usia 10 tahun?” Tanya gue dengan nada rendah.

Jeno mengangguk lalu ia meluruskan pandangannya ke arah langit. “Hal yang sama terjadi di gue, di lecehkan oleh lelaki,” Ucapnya terpotong karena kekehan. “Seberapa menjijikkannya Luc Lo lihat gue sekarang? Setelah gue masuk Irregular Agent gue stop di pake sama laki-laki itu,” Lanjutnya.

Gue shock, jantung gue seakan mau berhenti, ternyata Jeno mengalami hal yang lebih berat daripada gue.

“Walaupun Lo masuk ke dunia kriminal yang kejam ini bukan karena kehendak Lo, tapi Lo harus menerima semua ini dari devil yang ada disini,” ucap gue.

Jeno sedikit kebingungan atas ucapan gue, dia menatap gue dan dengan spontan gue juga ikut menatapnya.

“Maksud Lo?”

“I know what I shouldn't know Jen, You know what I mean?” Gue tersenyum miring lalu melanjutkan ucapan gue. “Apapun keputusan Lo kelak, kita sahabat Lo, mereka keluarga Lo. Apapun pilihan Lo keduanya pilihan yang tepat Ir-A001 Lee Jeno.”

Gue bangun dari duduk gue lalu segera melangkahkan kaki untuk menuju kembali ke markas dan mencoba untuk tidur.

“Dia tau?” Monolog Jeno.


“Saya siap untuk memata-matai mereka,” ucap seseorang misterius yang sedari tadi mendengar percakapan Jeno dan Lucy.

“Good then, saya harap kamu tidak berkhianat,” kata seseorang dari balik telpon.

“I'm sorry,” gumam orang misterius itu ketika telponnya terputus.

Lucy Pov

Sekarang waktu menunjukkan pukul 1 malam, semua Agent Irregular telah terlelap beristirahat setelah misi yang sangat panjang.

Namun tidak dengan gue, terlalu banyak pikiran yang menghantui gue, sehingga memejamkan mata pun enggan.

Sekarang gue berada di rooftop markas 127'A. Melamun memikirkan hal yang tidak tau apa kejelasannya.

“Hei,” sapa seseorang memecahkan lamunan gue.

Gue membalikkan badan untuk melihat siapa orang tersebut, ternyata dia adalah Jeno. Gue tersenyum menyambut kedatangan dia.

Jeno duduk disamping gue dengan secangkir kopi di tangannya. “Not sleeping?” Tanyanya.

Gue menggeleng, “Not yet,” Jawab gue.

Jeno menganggukkan kepalanya lalu meneguk tegukan terakhir kopi yang ada di cangkirnya.

“Something's bothering you?”

“The past,” Gumam gue yang bahkan hampir tidak terdengar, namun ajaibnya Jeno bisa mendengar itu.

“Why? Kenapa dengan masa lalu?” Tanyanya memastikan.

Gue memicingkan mata ke arah yang tidak tertuju, lalu menganggukkan kepala lemah. “Hanya masa lalu yang buruk,” Jawab gue sambil tersenyum.


Tidak ada satupun obrolan antara kami berdua, keheningan berada di antara kami. Gue hanya melamun menatap bintang, dan Jeno melihat aneh tentang gerak-gerik gue.

“Apa tanggapan mu tentang Virginity?” Tanya gue tiba-tiba membuat Jeno shock.

Dapat gue lihat Jeno tidak tau untuk menjawab apa tentang pertanyaan gue. Gue terkekeh melihat ekspresi dia.

“Santai aja Jen,” ucap gue.

Agent Irregular telah berkumpul di markas mereka. Sekarang mereka sedang berbincang tentang siapa sebenarnya dua orang misterius itu.

“Jadi mereka beneran BIN, dan Lo tau darimana?” Tanya Lucy.

“Gue gak bisa memastikan, tapi gue yakin itu mereka, mereka yang dulu orang yang sama.”

“Orang yang sama?” Tanya Winter.

“Kalian tau kan Agent regular hampir pernah tertangkap negara? Dan satu orang dari mereka berkhianat, dan memilih bunuh diri.”

Kelima Agent Irregular lainnya hanya mengangguk. “Gue yakin dia gak mati, tapi dibawa sama mereka berdua.”

“Jadi maksud Lo, dia yang berkhianat berusaha menangkap kita semua?” Tanya Jaemin.

Dengan sedikit ragu Jeno tetap menganggukkan kepalanya.

“Jadi pihak mereka, bukan ingin mengambil misi kita? Tapi singkatnya menangkap kita?” Tanya Renjun sekali lagi memastikan.

“Untuk saat ini gue bisa bilang ya,” Jawab Jeno. Semua Agent Irregular kebingungan apa yang harus mereka hadapi sekarang ini.

Kini Agent Irregular dan Agent regular telah sampai dimana lokasi uang hasil penggelapan dan dan juga Human trafficking business yang dilakukan oleh keluarga Kim.

“Kerja bagus kalian semua,” Puji Taeyong kepada Agent Irregular.

“Terimakasih atas pujiannya,” Ucap mereka serentak.

“Bagian kalian secepatnya akan saya transfer ke Lucy, atau kalian mau cash?” Tanya Johnny.

“Transfer saja tuan,” Jawab Lucy.

Johnny mengangguk, lalu iya mempersilahkan Agent Irregular untuk pulang dan beristirahat.

“Yeayyy duittt,” seru Yuta lalu menghampiri tumpukan duit yang ada di hadapan mereka.

“Buset dah, giliran duit aja nongol batang hidungnya,” Protes Jaehyun kepada Yuta.

“Bodo amat,”


Agent Irregular telah kembali ke mobil, kini mereka sedang menuju perjalanan pulang ke markas.

Setelah ini mungkin mereka akan beristirahat panjang, atau mungkin liburan seperti yang di inginkan oleh Winter.

Namun perasaan mereka tidak enak, gelisah sepanjang perjalanan.

“Ada yang ngikutin kita lagi,” Ucap Haechan. Dengan cepat Jeno mempercepat jalan Mobil mereka.

Beberapa detik ketika video persentase itu diputar semuanya berjalan lancar.

Namun semua berubah ketika aksi Agent Irregular telah dimulai, seketika layar persentase berubah menjadi hitam lalu detik kemudian munculah sebuah judul 'CATATAN KRIMINAL KIM FAMILY'

Ruangan menjadi ricuh, ketika layar persentase berubah menjadi semua data catatan kejahatan keluarga Kim, dari Anggota Geng, Human trafficking, pemerkosaan, pembullyan, penggelapan uang, korupsi dan lain sebagainya.

Para wartawan yang ada di sana dengan segera meliput wajah keluarga Kim yang kini sedang panik. Begitu pula dengan Bella, dia tidak bisa menahan air mata ketakutannya.


Winter yang sedang berada di ruangan pengendali, ia segera mencolokkan sebuah kabel yang terhubung dengan sebuah hp.

Kini ruangan tersebut terdengar suara yang berasal dari hp winter.

“Jangan pernah takut, karena temen papa adalah Jaksa, keluarga kita tidak akan pernah salah dan di penjara, kita akan semakin kaya. Biar saja orang-orang miskin diluar sana semakin miskin. Lihat setelah beberapa banyak tindakan kriminal yang papa lakukan, semuanya tidak ada yang ketahuan.

Begitulah isi suara tersebut, dan di lanjut dengan audio yang pernah di rekam oleh Jeno mengenai kejahatan ibunya Bella kepada ibu Lia.

Jaksa agung yang tadi menyapa Keluarga Kim, ia segera berdiri dan menghampiri keluarga Kim.

“Ternyata kalian yang menjebak istri saya?” Marahnya, karena mengetahui bahwa Merekalah yang membuat istrinya atau Mama Lia di fitnah habis-habisan.

Semua pejabat yang berada di ruangan tersebut segera meninggalkan tempat itu dengan muka marah.

Begitupula dengan Keluarga Kim, mereka hendak melangkahkan kakinya keluar.

“1,2” ucap Lucy mengitung. “Tigaaaaaaaaa.”

Sayangnya keluarga Kim tidak bisa kabur, beberapa Jaksa dan polisi telah sampai, dengan segera mereka memborgol Bella dan kedua orang tuanya.

“Kuylah, balik mobil,” ajak Lucy. Jeno hanya mengangguk mengiyakan.

Bella dan kedua orang tuanya telah memasuki ruangan. Mereka di sambut oleh beberapa tamu yang telah datang.

“Wah pak Kim, apakah ini anak anda?” Tanya salah satu tamu yang menyambut mereka.

“Jaksa agung senang bertemu dengan anda, terimakasih telah menyempatkan waktu datang kemari, iya benar ini anak saya satu-satunya,” Jawab Pak Kim sambil menjabat tangan Orang yang di sebut dengan Jaksa Agung.

“Anaknya anda sangat cantik, sepertinya cocok dengan anak saya, bukan begitu?” Tanya Jaksa Agung itu, ia menatap Bella, dengan segera Bella menundukkan kepalanya.

“Bella Pak, Jika berkenan maka saya sangat senang jika bisa berteman dengan anak anda,” Jawab Bella seramah mungkin.

“Mari kita masuk, sepertinya acaranya sebentar lagi dimulai,” Ajak ibu Kim.

Mereka semua melangkahkan kakinya ke dalam ruangan, lalu duduk di bangku yang telah tersedia.

MC acara yang bertanggung jawab langsung mengambil alih.

“Selamat malam, selamat datang ke acara peresmian Kim beauty hospital,” ucap MC, lalu ruangan itu di penuhi dengan tepuk tangan meriah.

“Sangat meriah,” Ucap Lucy yang berada di belakang mereka semua.

“Dengan segala hormat, maka dari itu terlebih dahulu saya putarkan sebuah video pengenalan Kim Beauty hospital

“Start,” perintah Jeno kepada Haechan.

Haechan yang mendengar perintah dari Jeno, ia segera melancarkan aksinya.

“Start,” Gumamnya lalu mengetik hal yang harus di lakukan di spider laptopnya.

“Wuhuuuuuuuu,” ucap Haechan kesenangan, lalu ia segera bersorak ria dengan Jaemin dan Renjun yang ada di mobil.

Mereka telah sampai ke tujuan, tujuan terakhir aksi mereka adalah sebuah Hotel bernama Umbrella, sama seperti dengan nama sekolah neraka itu.

“Ok, Renjun, Haechan dan Jaemin kalian mantau dari sini, gue sama Lucy yang ke dalam dan winter Lo tau harus ngapain?” Seru Jeno.

Mereka semua mengangguk. “Iya Jen aman,” Ucap Winter.

“Inget kecepatan nomor 1,” ucap Lucy sebelum mereka turun dari mobil.


Jeno dan Lucy berjalan ke dalam Hotel, lalu mencari ruangan dimana mereka akan menjalankan aksi.

Di dalam ruangan tersebut sudah banyak orang yang berkumpul, dari Jaksa, polisi, wartawan, dewan, dokter, dan pejabat lainnya.

Tepat didepan ruangan tersebut bertuliskan 'Pengesahan Kim beauty hospital.'

Ya benar, ini adalah acara pengesahan rumah sakit kecantikan terbaru mama Bella, atau istri dari pak Kim sang kepala sekolah.

Setelah masuk kedalam ruangan tersebut, Jeno langsung menghampiri seorang perempuan pekerja lepas, yang sedang mengatur semua acara yang akan di mulai.

“Permisi, apa anda adalah pekerja lepas?” Tanya Jeno.

“Ahh, iya kenapa?”

“Saya melihat anda beberapa hari yang lalu di acara tv, membawakan berita cuaca. Dan sekarang anda sedang mengatur acara ini, senang bertemu dengan anda,” ucap Jeno sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan perempuan itu.

Selagi Jeno berbasa-basi dengan perempuan itu, Lucy berjalan ke sebuah meja dimana laptop untuk persentase tersedia. Dia segera memasukkan sebuah flashdisk disana.

“Terhubung,” Ucap Lucy pelan melalui Earphone yang tersambung ke Agent Irregular lainnya.

Haechan yang mendengar hal tersebut ia langsung menjalankan tugasnya. “Sebentar, tahan,” ucapnya.


Winter berjalan menuju kedalam hotel, sedari tadi ia menunggu diluar. Ia melihat keluarga Kim telah tiba, Bella, ibu dan ayahnya.

“Keluarga Kim telah tiba,” Lapor Winter melalui Earphone.

Mendengar laporan dari Winter, Lucy segera melirik ke arah Jeno yang masih saja berbicara dengan perempuan tadi.

Lucy membuat kode agar Jeno menyelesaikan pembicaraan mereka. Namun sepertinya Jeno tidak menangkap.

Karena kesal, Lucy segera berjalan mengarah ke Jeno dan menabrak badan Jeno.

“Ahh, kalo begitu kapan-kapan kita ketemu lagi, sampai jumpa lagi nona Shin,” pamit Jeno, lalu berjalan menghampiri Lucy.

“Lama bener Lo,” protes Lucy.

“Cantik,” Celetuk Jeno membuat Lucy menendang kaki kanannya.

Kini Agent Irregular sedang menuju ke sebuah tempat, untuk melaksanakan aksi selanjutnya.

Keadaan di dalam mobil ricuh akan candaan mereka, namun tidak dengan Lucy dia sedari tadi hanya diam dan memandang jalanan luar.

“Kenapa luc?” Tanya Jeno memecahkan lamunan Lucy.

Lucy menggelengkan kepalanya pelan lalu netranya menatap Jeno yang sedang mengemudi. “Gpp kok cuman ngantuk doang.”

“Sini tidur,” Ucapnya.

Lucy kebingungan atas ucapan Jeno, tidur dimana? Dia baru saja mencoba untuk tidur, namun tidak bisa dalam keadaan duduk.

“Dipangkuan gue sini,” Ucap Jeno sambil menepuk pahanya. Tanpa berpikir panjang Lucy langsung menjambak rambut Jeno, membuat Jeno meringis kesakitan.

“Aaaaaaa, iya iya canda buset dah,” Ringis Jeno.

Di belakang ke4 Agent Irregular lainnya melihat tingkah Lucy dan Jeno hanya tersenyum mengejek.

“Kayaknya kita udah lengkap nih seperti keluarga bahagia, Lucy Mama, Jeno Papa, gue anak bontot, Haechan anak pungut,” celetuk Winter dengan asal.

“Kenapa gue anak pungut?” Protes Haechan.

“Cocok soalnya,”

“Gak ya, gue gamau sama Jeno,” Bantah Lucy.

“Gue juga gamau sama Lo Lucy.”

“Halah-halah,” Ejek Jaemin dan Renjun berbarengan.

Kini mobil kembali ricuh dengan candaan mereka, Jeno dan Lucy yang masih berdebat, dan juga winter dan Haechan yang berdebat karena masalah anak pungut.

“Njun, lompat yuk?” Ajak Jaemin.

“Ndak duyu, mks smsm,” Ucap Renjun berhasil membuat satu toyoran mendarat di kepalanya.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya beberapa orang yang di telfon oleh pak Kim datang ke ruangan tersebut, mereka membawa 10 koper duit berukuran sedang dan menyerahkannya kepada Pak Kim.

“Sesuai perintah anda Tuan,” ucap salah satu dari mereka.

Pak Kim menghampiri Irregular Agent dan berkata, “Sesuai permintaan kalian, maka dari itu harap bakar semua bukti-buktinya.”

“Bisa saya cek dulu isinya?” Tanya Lucy. Pak Kim mengangguk lalu menyuruh anak buahnya untuk membuka koper duit tersebut. Setelah mengecek semuanya, Lucy meminta Alat yang menyimpan semua data tadi dari Jeno.

Jeno menyerahkan alat tersebut kepada Lucy, lalu menyalakan sebuah api di dekat tong yang ada diruangan tersebut.

“Senang berbisnis dengan anda tuan,” Ucap Lucy, lalu ia segera melemparkan alat yang berisi semua data tersebut ke tong yang sudah ada api menyala.

Haechan, dan Winter terkejut dengan perbuatan Lucy dan Jeno. Namun mereka belum bisa mengumpulkan keberanian untuk bertanya kenapa mereka melakukan ini?

Setelah melihat alat tersebut dibakar oleh Lucy, Pak Kim bernafas lega, dengan segera dia menarik rambut anaknya, Bella agar berdiri.

“Sekarang kamu ikut saya, bisa-bisanya kamu menghancurkan segalanya,” Bentak Pak Kim kepada Bella, lalu menyeret Bella keluar dari ruangan tersebut. Dan diikuti oleh anak buah pak Kim.

“Makasih,” Ucap Lia yang sedari tadi melihat aksi mereka.

Jeno, Lucy, Haechan dan winter melihat ke arah Lia. Jeno menyerahkan sebuah flashdisk kepada Lia. “Semuanya ada disitu, cuman ada satu file,” Ucap Jeno.

Lia mengangguk, lalu menundukkan kepalanya berpamit kepada mereka berempat. Setelah itu ia melangkahkan kakinya keluar.

“Aaaaaaaaa winter cayangggg, kamu gpp kan,” Ucap Lucy hendak memeluk Winter. Namun dengan segera Winter membalikan badan Lucy dan mencekik leher Lucy dengan lengannya.

Begitu juga dengan Haechan yang kini sudah berhasil meringkus Jeno.

“Maksud Lo apa hah? Barang bukti Lo bakar? Mau di penggal pala Lo sama Agent regular?” Tanya Winter dengan sedikit membentak.

Lucy hanya menyengir setelah melihat kekesalan winter. “Hehehehe mending kita angkut itu duit kan lumayan, nah nanti Lo tau dah jawabannya sendiri setelah buka hp ya?”

Winter melepas cekikannya, dengan sedikit mendorong Lucy. Lucy menelfon Jaemin dan Renjun agar segera menyusul mereka ke dalam, untuk mengambil semua duit yang ada.


Setelah mengangkut semua duit, kini mereka semua sudah ada didalam mobil, dengan posisi Jaemin yang menyetir, Renjun di kursi penumpang depan, Lucy dan Jeno di kursi penumpang tengah, dan Haechan, winter yang berada di kursi penumpang belakang.

“Jadi sekarang kita bawa Lucy sama Jeno kemana? Sungai biar bisa di lelepin, atau rumah sakit biar di suntik mati?” Tanya Jaemin.

“Suntik mati ide bagus,” Jawab Haechan.

Lucy dan Jeno hanya menatap saling kebingungan.

“GAK GITU!” Teriak Lucy