Panglimakun

Gue jalan ke arah kamar adek, kok bisa adek tidur sendiri padahal masih kecil. Itu kemauan kita, biar adek sedikit mandiri, kita masih pantau adek dari baby monitor, jadi masih aman.

Pas gue ngebuka pintu kamar, bener aja gue ngelihat Johnny lagi berbagi cerita sama adek, mana adek ekspresi nya menghayati banget.

“Jo ih udah malem, di tidurin, besok-besok aku aja deh yang tidurin,” Kesel gue mengambil alih buat nidurin adek.

“Ihhh kamu mah, orang si adek lagi curhat sayang,” Jawabnya ngasal.

Jawaban dari Johnny membuat hasrat gue ngegantung dia di jemuran kembali kambuh.

Gue menatap dia tajam, untung aja takut, akhirnya dia menciut diam.

Setelah beberapa menit, gue berhasil buat adek tidur. Pelan-pelan gue selimuti.

Gue berjalan ke arah Johnny yang lagi santai di di sofa kamar adek. “Ayo balik,” Ajak gue.

“Kasihan adek,” rengek dia.

Dengan cepat tangan gue narik telinga dia, lalu nyeret badannya ke luar. “Iya atuh sayang, jangan kdrt,” Keluh dia.

Waktu udah keluar dari kamar, gue langsung ngelepasin tangan gue di telinga dia. “Ihhh makanya jangan ngeselin!” Gue natap tajam mata dia.

Johnny malah senyum lalu ngecup bibir gue. “Ayo ke kamar,” tuturnya sebelum ia ngegendong badan gue.

Sebenarnya gue gak marah, tapi kesel doang. Syeriusss syumpah.

Elvano tidak bercanda ketika ia bilang akan menghabisi Kenzo.

Sekarang tepat di lapangan luas sekolah, mereka berkelahi, Elvano tidak memberi ampun. Walaupun ia melihat Kenzo sudah tidak berdaya lagi, dengan darah yang sudah berceceran dimana-mana, ia tetap menyerangnya habis-habisan.

Pertarungan itu di saksikan oleh seluruh murid yang ada di sana, begitupun dengan Kayla, tidak maksudnya Queen, ia melihat dengan tatapan yang sangat menikmati.

Namun tiba-tiba Laura berlari ke tengah lapangan, dengan cepat ia memisahkan Elvano yang hampir membuat Kenzo kehilangan nyawanya.

“Stop!” Jerit Laura.

Lalu Laura melangkahkan kakinya menghampiri Kayla, no tentu tidak, yang akan ia hadapi adalah Queen, bukan cewe polos namun cewe yang mempunyai seribu ide licik di otaknya.

Dengan cepat Laura mencengkram rahang Queen. “Maksud Lo apa jalang?” Tanya Laura sedikit membentak.

Queen sedikit melemahkan tatapannya. “Kak El, help me, Kayla takut,” Rengek Queen dengan nada bicara seperti Kayla.

Mendengar hal itu Elvano segera melepaskan tangan Laura yang mencengkram rahang Queen. Ia mendorong badan laura, sehingga Laura terhuyung ke belakang.

“Lo urus bajingan itu, jangan urusin gadis gue,” Peringat Elvano lalu ia segera menarik tangan Queen untuk pergi dari sana.


Elvano tidak bercanda ketika ia bilang akan menghabisi Kenzo.

Sekarang tepat di lapangan luas sekolah, mereka berkelahi, Elvano tidak memberi ampun. Walaupun ia melihat Kenzo sudah tidak berdaya lagi, dengan darah yang sudah berceceran dimana-mana, ia tetap menyerangnya habis-habisan.

Pertarungan itu di saksikan oleh seluruh murid yang ada di sana, begitupun dengan Kayla, tidak maksudnya Queen, ia melihat dengan tatapan yang sangat menikmati.

Namun tiba-tiba Laura berlari ke tengah lapangan, dengan cepat ia memisahkan Elvano yang hampir membuat Kenzo kehilangan nyawanya.

“Stop!” Jerit Laura.

Lalu Laura melangkahkan kakinya menghampiri Kayla, no tentu tidak, yang akan ia hadapi adalah Queen, bukan cewe polos namun cewe yang mempunyai seribu ide licik di otaknya.

Dengan cepat Laura mencengkram rahang Queen. “Maksud Lo apa jalang?” Tanya Laura sedikit membentak.

Queen sedikit melemahkan tatapannya. “Kak El, help me, Kayla takut,” Rengek Queen dengan nada bicara seperti Kayla.

Mendengar hal itu Elvano segera melepaskan tangan Laura yang mencengkram rahang Queen. Ia mendorong badan laura, sehingga Laura terhuyung ke belakang.

“Lo urus bajingan itu, jangan urusin gadis gue,” Peringat Elvano lalu ia segera menarik tangan Queen untuk pergi dari sana.


Kenzo duduk di rooftop gedung mewah milik ayahnya. Gedung besar yang di penuhi oleh orang-orang dengan pangkat yang di segani oleh masyarakat.

Ada yang berasal dari perusahaan swasta, bahkan negeri. Dan yang lebih mencengangkan adalah istri dan anak dari presiden juga ikut hadir dalam acara tersebut.

Kenzo sangat suka keramaian, namun tidak sekarang. Keramaian yang ia maksud adalah ocehan yang keluar dari mulut Kayla, ataupun candaan dari teman-temannya.

“Ken,” panggil Laura ketika menghampiri Kenzo.

Kenzo tersadar dari lamunannya. “Hai,” sahut Kenzo.

Laura merangkul tangan Kenzo, Kenzo sedikit tersentak namun ia sama sekali tidak menolak. “Kenapa sih?” Tanya Laura.

Kenzo menggeleng. “Gpp lar,” Jawab Kenzo singkat.

“Ken kebun di depan gedung ini baru di siram pake vitamin ya?” Tanya Laura.

Kenzo hanya menggeleng tidak tahu. “Tapi kok bau bensin ya?” Sambung Laura.

Bersamaan dengan ucapan Laura itu, sebuah goresan merah panas seketika membakar seluruh kebun di depan gedung. Api itu seakan-akan siap melahap gedung beserata isi-isinya.

Seluruh tamu undangan yang ada di dalam gedung itu kelihatan panik dan segera mencari pintu keluar. Begitupun dengan Kenzo dan Laura.


“Kok cepet banget sih?” Tanya Daffa ke Tristan.

Tristan mengangguk. “Itu korek bukan sembarang korek, itu bensin bukan sembarang bensin,” Jawab Tristan dengan santai.

“Jadi apa?”

“Korek dan bensin yang diiringi rada dendam,” Finish Tristan lalu dia segera menaiki mobilnya lagi.

Daffa hanya tertawa mendengar jawaban sang Abang tadi. Ia ikut menaiki mobil, dan mereka segera pergi dari sana ketika misi telah selesai.


Kayla melangkahkan kakinya ke ke dalam sekolah, ia baru saja balik dari kantin sendirian. Namun tanpa Kayla sadari di lantai atas Laura, Poppy dan beberapa murid lainnya telah menunggu kedatangan Kayla.

Langkah Kayla semakin mendekat. Dan dalam sekejap Laura menumpahkan seember pewarna yang di beri bau amis darah di dalamnya.

Mereka semua tertawa, tertawa melihat pewarna tersebut tumpah mengenai tubuh Kayla.

“Hahahahaha, harusnya darah nya lebih banyak bukan? Yang kemarin itu masih dikit,” Tutur Laura mengejek Kayla dari lantai atas.

Tidak ada yang menolong Kayla, mereka hanya menonton kejadian tersebut bahkan ada yang menertawakan Kayla. Begitupun dengan Kenzo, ia hanya melihat Kayla dari jauh. Perasaan yang ia terima campur aduk, ia merasa Kayla berhak mendapatkan ini.

Sejahat apapun Laura, Kayla tidak boleh untuk membunuh seseorang.

“Makanya cantik, gak usah sok polos ya? Kalo mau jadi pembunuh ya pembunuh aja, gue jijik lihatnya.” Luara meninggalkan tempat tersebut di ikuti oleh beberapa temannya.

Namun tidak dengan Poppy, ia melihat Kayla dengan perasaan yang tidak enak, ia takut namun tidak tau apa yang membuatnya takut.


Setelah mendapatkan laporan dari beberapa siswa, Elvano dan anak warriors lainnya tentu saja kecuali Kenzo menghampiri Kayla yang mematung dengan keadaan basah di tumpahi pewarna.

“Kayla, hei Kayla,” panggil Elvano panik melihat keadaan Kayla.

Kayla sedikit demi sedikit menggerakkan bibirnya. “Kayla takut susu, merah,” gumam Kayla dengan pelan namun masih bisa di dengar.

Dengan segera Elvano menggendong badan Kayla. “Semuanya cabut, jumpa di basecamp. Gue bawa mobil,” Perintah Elvano ke anak-anak warriors lainnya lalu ia segera berlari ke parkiran, dengan Kayla yang ada di gendongannya.

Anak warriors lainnya mengangguk, lalu mereka segera ke kelas untuk mengambil tas mereka masing-masing tidak lupa dengan tas Kayla, lalu mereka berlari ke parkiran dan menyusul Elvano yang sudah duluan mengebutkan mobilnya.

Kenzo hanya melihat semuanya dari jauh, ia merasa kesal. Namun ia juga merasa marah.

“Sebenarnya apa yang gue hadapi sekarang?” Tanyanya pada dirinya sendiri.


Januar, Tristan, Marva, Jack, dan juga Daffa sudah berada di sebuah gedung di mana biasanya mereka berkumpul.

Gedung yang dari luar tampak normal, namun siapapun yang masuk kedalam akan menjumpai 2 nasib, yaitu kematian atau maaf.

Di sekeliling ruangan tersebut seperti layaknya gedung biasa, terdapat hiasan-hiasan yang memperindah interior ruangan.

Namun yang membuat perbedaan ruangan gedung itu dengan gedung yang lainnya adalah interior ruangan yang di hias menggunakan organ tubuh manusia. Tidak hanya organ tubuh tapi tengkorak kepala yang tersusun rapi di setiap sudut.

“5 orang yang menginginkan Kayla mati,” Ucap Marva membuka pembicaraan.

Tristan mengangguk, ia segera mendekati ke lima gadis yang sudah di ikat menggunakan rantai yang menjulur ke atas.

“Hai nona-nona cantik,” sapanya.

“Siapa kalian?” Tanya salah satu dari mereka dengan nada ketakutan.

Tristan sedikit tersenyum. “Siapa kita? Bisa di bilang malaikat maut? Atau.” Tristan menghentikan ucapannya, ia mengode para bodyguard mereka.

“Atau Lucifer yang berasal dari neraka,” sambung Tristan bersamaan dengan para bodyguard yang membawa masuk 5 anak kecil ke dalam ruangan yang sama.

“No!” Teriak gadis-gadis yang ada di depan Tristan ketika melihat bahwa yang baru saja dibawa masuk oleh para bodyguard Tristan adalah adik-adik mereka.

Januar tertawa melihat kehisterisan yang mereka buat. “Kalian ingin adik kita mati bukan?” Tanya Januar.

Mereka sedikit kebingungan, namun beberapa detik kemudian mereka sadar, bahwa mereka ingin Kayla mati. “Kami hanya bercanda,” Sahut salah satu dari mereka.

Januar mengangguk. “Kami juga bercanda, kami ingin adik-adik kalian mati seperti kalian ingin adik kita mati,” ucap Januar dengan tegas dengan langkah perlahan menuju salah satu anak kecil yang ada di hadapan mereka.

Benar saja, para bodyguard menempatkan anak-anak kecil itu tepat di depan gadis-gadis itu, sesuai dengan urutan adik-adik mereka.

Januar berhenti ketika sampai di belakang seorang anak laki-laki. “Tapi yang bereda dari kami adalah, kami bercanda secara nyata, dan kalian bercanda dengan candaan,” Sarkas Januar lalu dengan cepat Januar mengiris leher anak laki-laki yang ada di depannya.

Anak laki-laki itu tewas di tempat, darah yang berceceran dimana-mana.

“No!” Jerit sang kakak dari anak laki-laki itu.

“Bunuh saya, bunuh saya!” Raungnya.

Januar menggeleng. “Tidak akan gadis cantik, kami ingin kalian merasakan apa yang di rasakan oleh gadis cantik kami di rumah,” Sangkal Januar. “Gadis polos yang harus menerima hinaan atas fitnah kalian,” lanjutnya dengan nada yang sedikit rendah, membuat siapapun yang mendengarnya akan merasakan takut yang amat dalam.

“Lanjutkan, saya tidak ingin melihat wajah-wajah menyedihkan mereka,” Perintah Januar lalu ia melangkahkan kakinya keluar.

Dengan senang hati mereka melaksanakan perintah Januar, satu persatu adik dari gadis-gadis yang berani membenci Kayla telah di siksa habis-habisan di depan mereka.

Tidak kenal ampun, araster Zone tidak akan merasa kasihan kepada siapapun yang berani berurusan dengan Kayla.


Elvano tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Ia menggenggam tangan gadis yang sangat ia sayangi sedari tadi.

Sudah hampir 2 jam ia menunggu Kayla bangun, namun belum ada tanda-tanda.

Dokter bilang tidak perlu khawatir, tusukan yang Kayla dapat tidak merusak organ dalamnya, bahkan Kayla tidak mengalami pendarahan. Kayla hanya mengalami shock, kemungkinan dia akan sadar dalam beberapa jam.

“Bangun sayang.” Kata itu yang di keluarkan oleh Elvano sedari tadi. Bahkan sesekali matanya mengeluarkan air membasahi pipinya.

Ceklek

Suara pintu terbuka, di ambang pintu menampakkan Aksa, Johan, Haris, dan Raka yang baru tiba di rumah sakit.

Mereka segera menghampiri Elvano yang ada di sebelah Kayla yang belum siuman.

“El,” panggil Aksa seraya menepuk pundak Elvano.

Elvano tersadar kehadiran mereka, ia hanya menyambutnya dengan senyuman.

“Kenzo beneran gila El,” Ucap Johan. Elvano hanya tersenyum, sudah ia duga.

“Mau gimana lagi,” Sahutnya dengan nada rendah.

“Warriors bubar.” Aksa menghela nafasnya setelah mengeluarkan kata itu.

Elvano sedikit terkejut. “Kenapa?” Tanya Elvano.

“Bahkan Kenzo nyerang Haris El, Abang Kayla, malah ngatain ini semua salah Kayla. Dia kemakan omongan gila Laura,” Jawab Raka dengan emosi.

Elvano berusaha menahan emosinya, bisa-bisanya ia menyalahkan Kayla, apa dia tidak tau seberapa sayangnya Kayla ke dia?

Bahkan sampai sekarang Kayla masih sayang ke dirinya, Kayla hanya mengasihani Elvano, dia berusaha menghargai perasaan Elvano. Namun ia berbohong pada dirinya sendiri, bahwa Kenzo lah satu-satunya yang ia sayang.

Raka berdiri tepat di samping Kayla, ia menatap lembut wajah Kayla. “Dia udah berjuang keras,” Gumam Raka.

Mereka semua menatap Raka, seakan-akan bertanya, berjuang keras karena apa?

Raka menghela nafas, ia mendudukkan dirinya di bangku tepat di samping ranjang Kayla, dia berhadapan dengan Elvano.

“Gue bakalan ceritain semua, mungkin Haris udah tau apa yang di derita Kayla, dan apa tujuan Kayla.” Mereka semua mengangguk dan mendengarkan penjelasan Raka semuanya.

Raka menjelaskan dari pertama, ketika Kayla memutuskan untuk sekolah di sini, Januar sudah melihat semua data diri anak warriors.

Tanpa sepengetahuan Kayla, ia menyewa seorang mata-mata dan itu dirinya, Raka lah yang memata-matai Kayla selama ini.

Dia menjaga Kayla dari jauh, bahkan ia tau semua perbuatan yang Kayla lakukan. Tidak di sangka bahwa masalah ini kemana-mana.

“Gue berusaha cari informasi tambahan dari Laura, dan gue serahin ke Bang Janu,” Ucapnya membuat mereka semua terdiam.

Mereka semua berusaha mencerna penjelasan dari Raka, kecuali Haris tentu saja ia telah mengetahui semuanya.

Raka lanjut menjelaskan semuanya, ia menjelaskan dari Kayla yang mempunyai alter ego, sampai perbuatan yang di lakukan oleh Queen pribadi lain dari Kayla. Tentu saja mereka semua shock, di balik tubuh mungil, muka yang polos dari Kayla tersimpan sejuta rahasia yang bisa menghancurkan bumi.

Raka menatap mata Kayla. “Kenapa dia milih Lo El? Karena dia percaya Lo, dia butuh Lo. Kayla tidak percaya diri atas dirinya sendiri, gue paham yang dia alami, karena itu terjadi pada adik gue,” lirih Raka. “Tapi haris dan abang-abangnya yang lain berhasil buat Kayla bertahan, berbeda dengan gue, gue kehilangan adek gue,” Sambungnya.

Elvano tidak bisa menahan lagi emosinya ia sangat benci terhadap Kenzo, jika ia tau ini dari dahulu, maka ketika pertemuan pertama mereka, ia takkan membiarkan Kenzo yang memeluk Kayla dengan erat.

Elvano berdiri dari duduknya ia hendak keluar namun di tahan oleh Johan dan Aksa. “Emosi gak ada gunanya El, mereka lebih berkuasa, bantu Kayla, gue yakin Kayla bakalan nerima bantuan dari kita,” Kata Raka.

Elvano kembali duduk ia mengelus pelan tangan kanan Kayla. “Maaf,” lirihnya.


Januar dan Tristan berjalan beriringan ketika sampai di sebuah bangunan tua di Spanyol.

Mereka baru saja mendapatkan laporan bahwa ada satu kelompok yang menyerang.

Ketika Januar dan Tristan masuk ke dalam bangunan tersebut, alangkah terkejutnya mereka melihat beberapa dari kelompok itu sudah terpapar lemah, bahkan ada yang terpisah dengan kepalanya. Semuanya itu di lakukan oleh adik-adik mereka.

“Good job,” Puji Tristan lalu segera menembak seseorang yang berusaha menyerang Thomas dari belakang.

Thomas yang sadar menatap Tristan. “Terimakasih,” Ucapnya. Lalu ia berdiri di atas tubuh orang itu, tangan kanan yang memegang pisau lumayan besar ia gunakan untuk merobek baju orang itu.

“Tidak sopan,” Sarkas Thomas lalu ia menggunakan pisau yang sama untuk menyayat perut orang yang sudah mati di bawah dia. Perbuatan ia menyebabkan perut orang itu sobek, hingga organ tubuhnya kelihatan. “Saya tidak suka orang sopan,” Sambung Thomas.

Januar mengeluarkan sebuah smirk di bibirnya, ia sangat bangga melihat Abang dan adik-adiknya berhasil melawan kelompok aneh yang menyerang mereka.

War antara mereka di lakukan dengan membabi-buta, Jack tidak segan-segan memukul kepala lawannya dengan sebuah palu sehingga kepala lawan yang ia hadapi pecah dan berceceran dimana-mana.

Begitupun dengan Yuda dan Jeffery, mereka tidak segan-segan untuk memutilasi lawan mereka, seperti sekarang dengan pedang kebanggaan Yuda ia memotong anggota tubuh lawannya dengan habis, aksi itu di bantu oleh Jeffery.

Lawan yang araster Zone hadapi sekarang bukan lawan yang kecil, bahkan dengan 8 orang pun mereka mendapatkan luka walaupun sedikit.

Januar berhasil membuat bos mereka berlutut lemah membelakangi dia. “Siapa kalian?” Tanya Januar dengan nada mengintimidasi.

Orang tersebut terkekeh meremehkan pertanyaan Januar. “Sepertinya kamu sudah tau Januar,” Jawabnya.

Dengan cepat Januar menyayat leher orang itu, membuat dia tewas seketika. “Bang Janu awas!” Teriakan Daffa membuat Januar membalikkan badannya.

Dorr

Suara tembakan berhasil memenuhi ruangan di mana mereka berada.

Peluru tersebut mendarat tepat di perut Januar, membuat Januar jatuh.

Dengan penuh amarah, Tristan menghabisi orang yang baru saja menembak Januar. Dengan begitu kelompok yang menyerang mereka telah habis di bantai.

Araster Zone berlari menghampiri Januar, tidak perduli rasa sakit yang mereka terima.

“Jaga Kayla ya.” Ucapan itu yang keluar dari mulut Januar sebelum ia benar-benar memejamkan matanya.

Tristan mengambil tongkat baseball yang ada di tangan Marva, memukul-mukul tongkat tersebut di perut Januar. “Gak usah drama, Lo pake pelindung peluru,” Gerutu Tristan.

Dengan tampang tidak berdosa nya Januar tersenyum membuat adik-adiknya dan kedua abangnya mengeluarkan semua senjata yang mereka pakai tadi, dan mengarahkan ke Januar.

“Yaudah lebih baik mati,” Ucap Januar lalu berakting seakan-akan sudah mati terbunuh.

Kayla berjalan sendirian menyusuri koridor sekolah, namun tiba-tiba ia di tarik oleh Laura.

Kayla ditarik dengan paksa menuju perpustakaan.

“Kak pelan-pelan,” Keluh Kayla karena Laura menariknya dengan sangat kencang.

Dengan kuat Laura mendorong Kayla sehingga tubuh kecil Kayla menabrak dinding perpustakaan.

“Lo murahan!” Teriak Laura mencaci Kayla.

Kayla sedikit kebingungan kenapa Laura tiba-tiba mencaci-maki dirinya. “Salah Kayla apa kak?” Tanya Kayla perlahan, karena ia sangat takut sekarang.

Perlahan Laura mendekat ke Kayla. Kayla melihat tangan kanan Laura memegang sebuah pisau namun ia berusaha untuk tetap tenang.

Kayla benar-benar takut, dia tidak bisa melawan sekarang, dia trauma dengan keadaan ini.

“Lo masih nanya hah?!” Tanya Laura seraya menarik rambut Kayla.

Kayla meringis kesakitan, ia memohon ke Laura agar di lepas, bahkan ia berteriak membuat seisi perpustakaan melihat ke arah mereka.

“Lo itu sebaiknya mati aja!” Geram Laura. Kayla melihat tangan kanan Laura mendekat kearahnya. Tangan yang memegang sebuah pisau.

Dengan sekuat tenaga Kayla mendorong Laura sehingga Laura terjatuh.

Tepat di mana Laura terjatuh anak-anak warriors melewati mereka, Kenzo melihat Kayla yang mendorong Laura dengan sekuat tenaga.

“Lo apaan-apaan sih Kay?” Tanya Kenzo dengan nada sedikit membentak.

Kayla gelagapan ia tidak tau harus menatap apa. “Kak kay-”

“Gue salah milih Lo Kay, Lo kalo ada masalah sama gue selesain jangan kayak bocah!” Teriak Kenzo lalu ia membawa Laura pergi dari sana.

“Darah!” Teriak seorang siswi ketika melihat perut Kayla yang keluar darah.

Benar, ketika Kayla mendorong Laura, pisau yang ada di tangan Laura berhasil menancap tepat di di perut bagian kiri Kayla. Ketika Laura terjatuh akibat dorongan Kayla, pisau itu terlepas dan masih ada di tangan Laura. Namun sayangnya Kenzo tidak melihat sama sekali.

“Kayla!” Elvano segera menghampiri Kayla yang sudah terjatuh lemah.

Kayla memegang perutnya yang terus menerus mengeluarkan darah.

Raka dan Aksa keluar dari perpustakaan untuk mencari bantuan, sedangkan Haris dan Johan mengejar Laura yang sudah di bawa oleh Kenzo.

“Cantik, sayang bertahan ya? Jangan gitu dong,” Ucap Elvano berusaha menenangkan Kayla.

Air mata Kayla jatuh bebas membasahi pipinya. “S-sakit,” lirih Kayla lalu ia mata ia benar-benar terpejam.

Elvano panik sepanik mungkin, ia menggoyangkan badan Kayla. “Kay jangan gitu dong Kay bangun!”


Di lain sisi, dimana araster Zone sedang bertarung dengan kelompok yang menyerang mereka. Sekuat tenaga mereka mempertahankan hak mereka, dan menghabisi kelompok itu dengan membabi-buta.

Dorr

Suara tembakan berhasil memenuhi ruangan di mana mereka berada.

Peluru tersebut mendarat tepat di perut Januar, membuat Januar jatuh.

Dengan penuh amarah, Tristan menghabisi orang yang baru saja menembak Januar. Dengan begitu kelompok yang menyerang mereka telah habis di bantai.

Araster Zone berlari menghampiri Januar, tidak perduli rasa sakit yang mereka terima.

“Jaga Kayla ya.” Ucapan itu yang keluar dari mulut Januar sebelum ia benar-benar memejamkan matanya.


Kayla dan Elvano Benar-benar menyelesaikan masalah mereka dengan baik-baik. Mereka saling jujur satu sama lain, dan begitupun dengan Kayla, ia meminta untuk El membuat dia semakin sayang kepada dirinya bukan semakin benci.

“Jangan marah lagi ya?” Rengek Elvano ke Kayla.

Kayla terkekeh lalu ia mengangguk. “Iya kak, jangan cemburu-cemburu lagi ya?” Elvano mengangguk, ia hendak memeluk Kayla namun tidak bisa.

“Kalo berani meluk adek kita, jangan harap pulang dengan badan utuh,” ancam seseorang. Suara itu berasal dari luar, suara Jack yang terdengar sangat keras sampai ke dalam kamar Kayla.

Benar, mereka memantau Kayla melalui cctv yang mereka pasang sebelum kedatangan Elvano ke rumah Kayla.

“Hehehe.” Kayla terkekeh. “Maaf ya kak,” Ucap Kayla.

Elvano menghela nafas. “Iya.” Ia tersenyum lalu mengusap rambut Kayla perlahan.


“Sepertinya kita harus menjodohkan Laura dan Jauzan secepatnya ledoardo,” Ucap seseorang ke Ledoardo.

Mereka sedang berada di ruangan kerja ledoardo, sedari tadi membicarakan tentang bisnis mereka.

“Saya tidak bisa memaksa Jauzan Bram,” Sahut Ledoardo pasrah.

Orang yang bernama Bram itu menghela nafas. “Jika begini saya yakin kamu akan mengkhianati saya, seperti kamu mengkhianati de'luca.

Ledoardo tersenyum miring. “Dia berbeda dengan kamu, dia tidak berhak mendapatkan kekayaan itu, ya walaupun dia berusaha keras. Dia harus menyerahkan semuanya ke saya, dan lihat bahkan anaknya pun tidak ada yang berani sama saya,” Katanya dengan ringan.

Bram terkekeh. “Bahkan kau sangat tamak ledoardo, setelah korupsi di sekolah, harta orang lain, dan menutup kejahatan di sekolah, apa saya bakalan yakin kamu tidak akan mengkhianati saya?” Tanya Bram lagi.

Ledoardo mengangguk. “Cukup lakukan tugas kamu Bram, kalo kamu mau mereka di jodohkan. Lakukan segera, saya akan mengancam Jauzan.” Perkataan Ledoardo barusan di tanggapi dengan tawa oleh Bram.

Kedua manusia yang sudah mengkhianati sahabatnya, dan mengambil harta sahabatnya, mereka tidak pernah bersalah. Bahkan setelah kejahatan yang mereka lakukan di sekolah.

Tentu saja kejahatannya bukan hanya sekedar korupsi dan menerima suap, tapi mereka juga lelaki berhidung belang yang haus akan kekayaan.