Panglimakun

Sekarang waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Dimana orang-orang tengah terlelap di tidurnya, namun tidak untuk Kayla ah tidak maksudnya Queen.

Kini ia tengah berdiri di sebuah patung yang ada di sekolahnya. Patung ledoardo yang menjabat sebagai Direktur utama di sekolah ini. Dan juga sebagai ayah dari Kenzo Jauzan cowo yang dulu pernah Kayla sayang.

Queen tersenyum. “Bisa-bisanya anda berdiri tegak dan meminta hormat padahal anda tengah berdiri di lahan seseorang yang sudah meninggal,” Ucap Queen. “Sudah meninggal anda bunuh,” Sambungnya.

Queen sudah meminta bantuan dari kakak-kakaknya terlebih dahulu untuk mematikan semua cctv yang ada di sekolah. Kini dia aman bergerak.

Tangan Queen memegang sebuah palu, matanya terus menatap patung itu dengan tajam. “Seharusnya anda yang ada di kuburan, bukan papa!” teriak Queen.

Dengan amarahnya Queen mengayunkan palu tersebut dengan kuat mengenai badan patung tersebut. Patung ledoardo seketika jatuh, hancur setengah badan.

Queen tersenyum miring. “Bahkan patung anda tidak sekuat papa, tapi kenapa anda berbuat curang dengan merampas semua yang papa punya.” Lagi-lagi Queen mengayunkan palu yang ada di tangannya.

Kini patung Ledoardo benar-benar hancur setengah badan di buat oleh Queen. Queen tertawa terbahak-bahak ketika melihat aksi yang dia lakukan tadi.

“Itu baru permulaan ledoardo, kelak saya akan menghancurkan diri anda seperti saya menghancurkan patung ini,” Queen beranjak dari sana. Tidak lupa ia menuliskan sebuah ancaman yang sama seperti sebelum-sebelumnya.

'Jangan abaikan kehadiran saya Q.N'


Dorr

Kayla mengangetkan Johan yang baru tiba di kantin.

“Aksa anak setan!” Teriak Johan kaget.

Kayla tertawa karena Johan. Johan menghela nafas karena melihat bahwa Kayla lah yang mengagetkannya barusan.

“Tumben Lo cepet banget ke sekolah?” Tanya Johan.

Kayla tersenyum polos. “Pengen aja, kakak kok cepet banget ke sekolah? Itu yang di tangan kakak apa?” Tanya Kayla, ia melihat Johan menenteng sebuah tas yang lumayan besar.

Johan hendak menjawab namun terpotong oleh seseorang. “Han, cirengnya di taro aja di situ, kamu belajar aja. Mbak bisa sendiri,” Ucap seseorang.

Orang itu adalah mbak Ina, penjual cireng langganan murid di sekolah.

Kayla sedikit kebingungan, ada hubungan apa Johan sama mbak Ina?

Johan segera meletakkan tas itu seperti yang mbak Ina suruh, lalu ia menarik tangan Kayla menjauh dari sana.

Mereka menuju ke taman belakang. “Jangan bilang siapa-siapa ya,” kata Johan dengan sedikit khawatir.

Kayla mengulum bibirnya. “Emangnya kenapa?” Tanya Kayla.

“Mbak Ina itu ibu gue, memang di sini dia selalu menyebut dirinya mbak. Supaya gue gak malu,” Jawab Johan.

Kayla sedikit terkejut dengan fakta yang baru saja ia dengarkan. Kayla mengangguk. “Kak Johan malu ya kalo semisalnya ezo dan kawan-kawan tau kalo kak Johan anak yang jualan cireng?” Tanya Kayla jujur.

Johan menghela nafas. “Bukan malu, gue takut gak punya kawan selain mereka. Gue takut mereka malu sama gue, kalo gue gak sama mereka gue udah jadi bahan Bullyan di sekolah ini,” Jawabnya dengan pelan namun masih bisa di dengar oleh Kayla.

Kayla tersenyum lalu ia menepuk pundak Johan pelan. “Tapi cepat atau lambat harus jujur ya, pasti mereka Nerima kak Johan apa adanya, Kayla ke kelas dulu ya! Byeee,” pamit Kayla lalu segera berlari ke kelasnya.

Johan lupa, ia lupa menanyakan kenapa Kayla datang ke sekolah sepagi ini? Apa mungkin yang selama ini ia lihat itu Kayla?


Kayla membawa Kenzo yang sudah tergeletak lemah di depan gerbangnya, tentu saja Kayla tidak sendirian.

Keadaan Kenzo benar-benar kacau, bercak darah dimana-mana, bukan seperti habis berkelahi. Tapi lebih seperti habis di siksa.

Kenzo tidak sadarkan diri, namun dia dengan setianya menggenggam tangan Kayla. Sesekali dia juga menggumamkan nama Kayla beserta kaya 'sorry'.

Kenzo di obatin oleh dokter pribadi keluarga Kayla. Bahkan sang dokter sangat-sangat terkejut dengan keadaan Kenzo.

“Luka cambukan dimana-mana,” Ucap Sang dokter setelah selesai mengobati punggung Kenzo yang penuh dengan luka cambukan.

Januar dan Tristan sedikit kebingungan, darimana dia mendapat luka cambukan itu.

“Terimakasih dok,” Ucap Tristan lalu ia mengantar dokter itu keluar.

“Kakak tinggal di luar, habis ini biarin Kenzo istirahat, kamu tidur juga,” Perintah Januar ke Kayla.

Kayla mengangguk mengiyakan perintah sang kakak.

“Kay sakit,” lirih Kenzo dengan suara yang hampir seperti bisikan.

Kenzo tidur dengan posisi miring menghadap Kayla yang duduk di sampingnya. “Ezo kenapa bisa begini? Siapa yang nyakitin Ezo?” Tanya Kayla seraya mengusap pelan rambut Kenzo.

“Papa, gue di tarik paksa ke rumah papa,” jawabnya dengan terbata-bata. “Di sana ada Laura, yang jawab chat Lo Laura. Gue di siksa habis-habisan karena tidak bisa jaga Laura,” Sambungnya dengan air mata menetes di pipinya.

Kayla tidak heran, Kenzo pernah bilang bahwa jangan pernah bingung kalo ia nangis, karena ia juga manusia, ketika Lo nemuin gue sedang nangis, maka gue lagi di situasi yang sangat menyedihkan Kay. Perkataan itu sangat-sangat di ingat oleh Kayla.

Kenzo menceritakan semuanya, ia tidak pernah menyukai Laura, itu semua hanya suruhan dari papanya. Ledoardo sang papa dari Kenzo sudah mengikat sebuah janji dengan papa Laura, dan mereka harus saling menguntungkan satu sama lain.

Atas kejadian kemarin, papa Laura hampir saja membongkar sebuah rahasia dari papa Kenzo, dan ia merasa di khianati oleh papa Kenzo karena Kenzo yang perlahan menjauhi laura. Maka dari itu Kenzo di siksa habis-habisan oleh papanya.

Hati Kayla terasa sangat sakit mendengar semua cerita Kenzo, ia baru saja menerima cinta dari sahabat Kenzo sendiri. Apa Kenzo akan menerima kenyataan ini?

“Kay, jangan benci gue. Tunggu beberapa waktu lagi ya, gue juga mau hidup bebas Kay, maafin gue yang labil. Gue sayang sama Lo Kay, hanya cara gue aja yang salah Kay.” Ucapan Kenzo itu membuat Kayla meneteskan air mata.

“Ezo tidur ya, Kayla mau tidur di kamar sendiri, selamat tidur ezo!” Seru Kayla dengan bersemangat lalu ia segera berlari keluar dan memasuki kamarnya.


Kayla terduduk lemah di depan pintu kamarnya. Apa yang baru saja ia hadapi? Ia terbawa suasana, ia pikir bahwa Kenzo adalah penjahat sesungguhnya di hidupnya, tanpa mengetahui betapa kelam hidup Kenzo.

Kayla memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. “Cinta emang buat sakit Kay, fokus ke tujuan Lo!” Monolog Kayla, tidak Queen. Queen yang sedang menguasai dirinya sekarang walaupun itu di dalam kesadaran Kayla sendiri.


Kayla dan Elvano sedang berjalan-jalan, sekarang mereka berada di sebuah taman. Taman yang indah di kala malam hari.

“Cantik,” Ucap Elvano.

Kayla tersenyum. “Bintang emang cantik,” Jawab Kayla.

“Lo.” Kayla sedikit Salting mendengar kata 'lo'. “Lo cantik Kay,” Sambung Elvano.

“Ihh apaan sih kak!” Protes Kayla, kini pipi Kayla benar-benar memanas.

“Ciee Salting.” Elvano terkekeh melihat muka Kayla yang benar-benar merah seperti tomat.

“Lo percaya cinta pada pandangan pertama Kay?” Tanya Elvano tiba-tiba.

Kayla mengangguk. “Percaya!” Jawabnya tegas.

“Itu yang gue rasain Kay, gue cinta pada pandangan pertama ketika melihat Lo, gue lihat Lo di spanyol. Gue lihat Lo kesakitan, sangat ingin gue datang dan memeluk Lo Kay. Tapi gue selalu kalah cepat dari Kenzo,” Jawab Elvano.

Jawaban Elvano berhasil membuat Kayla terdiam seribu bahasa. “Gue juga kalah saat merebut Laura, tapi gue sadar Kayla gak sebaik yang gue kira. Dan Lo Kay, gue juga kalah cepet dari dia,” Sambungnya.

“Itu artinya ada seseorang yang akan menggantikan kak Laura untuk kakak,” Jawab Kayla asal-asalan.

“Mungkin Lo orangnya Kay?” Lagi-lagi Kayla terdiam, bahkan untuk menatap mata Elvano ia tidak berani.

Perlahan Elvano menggenggam tangan Kayla. Membuat Kayla menatap mata Elvano. “Gue bakalan jaga Lo Kay, gue bakalan habisin orang-orang yang jahat sama Lo.” Mata Elvano memberitahu bahwa ucapan dirinya sangat sungguh-sungguh.

“Be mine? Kayla Pratama, mau jadi satu-satunya cewe yang akan gue mimpikan, yang akan gue bonceng setiap pagi berangkat sekolah, dan pulang sekolah, cewe yang akan menguasai pikiran dan semesta hidup gue.” Ajakan Elvano berhasil membuat Kayla terdiam dan shock, Kayla tidak tau harus menjawab apa sekarang.

“Kay?” Panggil Elvano.

Kayla tersenyum ke Elvano. Ia merasa sangat beruntung bertemu dengan Elvano, ia sangat beruntung hari ini menjadi indah karena Elvano.


Kayla sedang membantu teman-teman kelasnya membersihkan kekacauan yang baru saja terjadi.

Iya itu benar-benar Kayla, bukan Queen.

Burghh

Suara pintu dibuka paksa oleh orang dari luar. Orang itu adalah Laura dan teman-temannya.

Laura berjalan dengan muka emosi menghampiri Kayla. “Lo anjing!” Bentak Laura ke Kayla.

Kayla berjalan mundur, ia takut dengan kehadiran Laura.

“Kak sakit kak,” lirih Kayla.

Laura menjambak rambut Kayla sekuat mungkin, bahkan kalo rambut Kayla tidak kuat mungkin saja sudah lepas di buatnya.

“Maksud Lo apa sih? Mau sok jadi pahlawan hah!” Lagi-lagi Laura membentak Kayla.

Teman-teman sekelas Kayla hanya menonton kejadian itu. Tidak ada satupun yang berani membantu Kayla.

Kayla berusaha sekuat mungkin untuk melepas tangan Laura dari rambutnya, namun sayang jambakan itu semakin kuat.

Kenzo dan anak-anak warriors lainnya tiba di kelas Kayla, ia melihat Laura yang sedang merundung Kayla dengan kejam.

“Laura lepas!” Kenzo berteriak menyuruh Laura untuk melepas tangannya.

“Lo diem atau kepala Kayla gue buat berdarah!” Ancam Laura.

Kayla tidak berani ngapa-ngapain sekarang, ia hanya bisa nangis. Ia teringat traumanya dulu, ia sangat tidak bisa di kenai di bagian kepala

Papa sering melukainya di bagian kepala, papa sering menarik rambut Kayla. Kayla tidak suka.

Reva yang baru saja balik dari toilet melihat keributan di kelasnya, ia juga melihat jelas Kayla yang habis-habisan di bentak oleh Laura.

Dengan cepat Reva mendorong badan laura. “Berani kok sama adek kelas?” Tanya Reva dengan tatapan mengintimidasi.

Laura tidak terima atas kehadiran Reva, ia hendak menjambak rambut Reva namun sayang. Reva terlebih dahulu memelintir tangannya.

“Asal Lo tau, Kayla gak hadir di aula karena dia di toilet, lo kalo udah salah. Salah aja, jangan nyalahin orang,” Ucap Reva dengan tegas. “Kalo murahan ya murahan aja anjing, gak usah nyakiti orang yang gak bersalah, gak cukup Lo berlindung sama bokap Lo? Mau nyakiti anak orang juga?” Sambungnya.

Laura meringis karena tangannya. “Lepas!” Pinta Laura.

Dengan cepat Reva melepasnya, namun sedikit di dorong oleh Reva, membuat Laura terhuyung ke belakang.

“Keluar, Keluar gue bilang!” Teriak Reva menyuruh Laura dan geng cabe-cabean nya keluar.

Reva menghampiri Kenzo dan anak-anak warriors yang sedari tadi hanya menonton. “Lo juga, Lo laki kan? Gak malu sama batang Lo, kenapa cuman nontonin, gak tau mau ngebantu siapa iya?” Tanya Reva dengan smirk di bibirnya.

Kenzo tidak berani menjawab bahkan ia tidak berani menatap mata Reva. “Keluar Lo, gak berguna,” Finish Reva lalu ia menghampiri Kayla yang sudah terduduk lemah.

Kayla terduduk lemah dengan tangan memeluk kakinya. “Papa, takut. Papa,” gumam Kayla, ia benar-benar kalut dalam rasa takutnya.

Haris segera menghampiri Kayla. “Hei ada kakak di sini, udah ya.” Haris memeluk adiknya ia sangat tau bahwa sang adik sangat ketakutan sekarang.

“Lo semua takut? Mau sampe kapan Lo semua takut sama si Laura hah? Sama Kenzo juga? Lo semua bodoh!” Teriak Reva lalu ia keluar dari kelasnya.


Malam sebelum aksi

“Issss kok di matiin!” Protes Kayla ketika Januar mematikan telepon dari Kenzo.

“Tidur atau kakak gamau bantu kamu?” Kayla kesal dengan Januar, ia kembali tidur di samping sang kakak.

“Padahal bukan Kayla yang minta!” Seru Kayla dengan nada kesal.

Januar terkekeh melihat tingkah sang adik. “Jadi siapa yang minta hayo?” Tanyanya.

“Queen lah,” Jawab Kayla tegas.

Januar mengacak-acak rambut sang adik merasa gemas dengan tingkah Kayla. “Memang Queen bukan kamu hm?”

Kayla menghela nafas. “Iya sih tapi ihhhhhhhh,” jawab Kayla memprotes.

“Tidur atau kakak suruh kak jef sama kak daf balik?” Ancam Januar walaupun itu candaan, namun Kayla sedikit takut.

Detik kemudian Kayla memejamkan matanya. “Loh udah tidur?” Tanya Januar keheranan.

Kayla mengangguk. “Udah,” Jawabnya dengan polos.


Paginya

Kayla keluar dari rumahnya menuju gerbang depan di ikuti oleh Jeffery.

“Adek, jangan lari-lari nanti jatuh,” Kata Jeffery sedikit teriak.

Kayla tidak menghiraukan ucapan kakaknya ia terus berlari hingga sampai di depan rumah mereka.

Rumah keluarga Kayla memang bisa di bilang sangat besar, jarak dari gerbang utama menuju ke rumahnya aja bisa dibilang sangat jauh. Biasanya mereka akan menggunakan mobil golf, namun hari ini Kayla sangat bersemangat untuk berjalan sendiri.

“Buka gerbang,” ucap Kayla seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“Pagi non Kayla,” sapa salah satu bodyguard yang ada di sana.

“Pagi pak, ayo buka gerbangnya!” Perintah Kayla dengan semangat.

Jeffery hanya terkekeh melihat tingkah sang adik. Ia memberi kode ke para bodyguard di sana untuk membukakan gerbangnya.

Perlahan gerbang besar rumah itu terbuka. Kayla melihat Elvano yang sudah menunggu dirinya di luar. Tidak sendirian, ternyata Kenzo benar-benar ingin menjemput Kayla.

“Wah, ada 2 nih yang jemput adek, adek mau sama siapa?” Tanya Jeffery.

Kayla menghampiri Kenzo lalu menyapanya. “Morning ezo, Kayla berangkat sama kak El ya! Ezo sama kak Haris aja, kata kak Haris motor dia rusak, bye!” Kayla berjalan menuju Elvano, tidak lupa mereka berdua pamit ke Jeffery sebelum benar-benar berangkat.

“Cinta itu memang penuh pengorbanan ya bro,” canda Jeffery.

Kenzo hanya tersenyum canggung, lalu ia berpamitan ke Jeffrey.

Jeffery sedikit bingung. “Bukannya Haris mau berangkat bareng?” Monolgnya.

“Saya gak suka cewe manja Naura!” Suara teriakan seorang lelaki sangat keras memenuhi rumah ini.

Plakk

Satu tamparan melayang tepat di pipi wanita yang bernama Naura ini. Ia memegang pipinya, walaupun ia setiap hari menerima tamparan dari sang suami namun kali ini sangat sakit.

“Ledoardo, ada anak kita. Gak enak,” ucapnya dengan tenang walaupun air mata membasahi pipinya.

Pria yang bernama ledoardo itu tersenyum miring. “Anak? Saya tidak pernah menganggap Jauzan itu anak saya! Anak bodoh!” Jawabnya dengan tegas.

Benar saja di sana ada Jauzan, alias Kenzo Jauzan yang baru berumur 5 tahun itu, mendengar semua percakapan kedua orangtuanya.

Ia menutup kedua telinganya menggunakan tangan. Ia melihat ke arah orang tuanya, ia melihat sang ayah sedikit demi sedikit mendekat ke arahnya.

“Jangan-jangan, jangan pukul saya lagi. Sakit!” Teriak Kenzo.

Kenzo terbangun dari tidurnya, ternyata yang ia lihat tadi adalah mimpi. Tidak, bukan mimpi, hanya saja kejadian masa lalu yang menghantui tidurnya lagi.

Ia meraba sekitar bantal tidurnya, mencari keberadaan Handphone. Setelah dapat ia mencari sebuah kontak yang di namakan 119💗.


“Halo ezo,” sapa sang penelepon yang di namakan oleh Kenzo 119💗.

Kenzo bernafas lega ketika mendengar suara gadis itu. Benar, suara gadis yang bernama Kayla, ia baru saja menelepon Kayla. “Maaf Kay,” Ucapnya lirih.

“Ezo kenapa? Ezo gak bisa tidur?” Tanya Kayla bertubi-tubi.

Kenzo mengehela nafasnya kasar, lalu ia menyandarkan badannya di kepala kasur. “Maaf Kay, gue bodoh Kay.” Kenzo menangis, ia tidak mengerti kenapa ia sangat sakit ketika mengucapkan kata maaf itu.

Kenzo dapat mendengar Kayla menghela nafas. “It's okay ezo, sekarang bo-” perkataan Kayla belum selesai, seperti ada pergerakan yang menarik Handphone Kayla.

“Kay? Kenapa kay?” Tanya Kenzo khawatir.

“Adik saya udah waktunya tidur, kamu jangan ganggu waktu istirahat adik saya.” Telepon di tutup secara sepihak, ternyata Handphone Kayla di ambil oleh Januar.

Kenzo tersenyum simpul, lalu ia mengusap wajahnya kasar. “Bodoh Lo Ken,” rutuknya kepada dirinya sendiri.


“Saya gak suka cewe manja Naura!” Suara teriakan seorang lelaki sangat keras memenuhi rumah ini.

Plakk

Satu tamparan melayang tepat di pipi wanita yang bernama Naura ini. Ia memegang pipinya, walaupun ia setiap hari menerima tamparan dari sang suami namun kali ini sangat sakit.

“Ledoardo, ada anak kita. Gak enak,” ucapnya dengan tenang walaupun air mata membasahi pipinya.

Pria yang bernama ledoardo itu tersenyum miring. “Anak? Saya tidak pernah menganggap Jauzan itu anak saya! Anak bodoh!” Jawabnya dengan tegas.

Benar saja di sana ada Jauzan, alias Kenzo Jauzan yang baru berumur 5 tahun itu, mendengar semua percakapan kedua orangtuanya.

Ia menutup kedua telinganya menggunakan tangan. Ia melihat ke arah orang tuanya, ia melihat sang ayah sedikit demi sedikit mendekat ke arahnya.

“Jangan-jangan, jangan pukul saya lagi. Sakit!” Teriak Kenzo.

Kenzo terbangun dari tidurnya, ternyata yang ia lihat tadi adalah mimpi. Tidak, bukan mimpi, hanya saja kejadian masa lalu yang menghantui tidurnya lagi.

Ia meraba sekitar bantal tidurnya, mencari keberadaan Handphone. Setelah dapat ia mencari sebuah kontak yang di namakan 119💗.


“Halo ezo,” sapa sang penelepon yang di namakan oleh Kenzo 119💗.

Kenzo bernafas lega ketika mendengar suara gadis itu. Benar, suara gadis yang bernama Kayla, ia baru saja menelepon Kayla. “Maaf Kay,” Ucapnya lirih.

“Ezo kenapa? Ezo gak bisa tidur?” Tanya Kayla bertubi-tubi.

Kenzo mengehela nafasnya kasar, lalu ia menyandarkan badannya di kepala kasur. “Maaf Kay, gue bodoh Kay.” Kenzo menangis, ia tidak mengerti kenapa ia sangat sakit ketika mengucapkan kata maaf itu.

Kenzo dapat mendengar Kayla menghela nafas. “It's okay ezo, sekarang bo-” perkataan Kayla belum selesai, seperti ada pergerakan yang menarik Handphone Kayla.

“Kay? Kenapa kay?” Tanya Kenzo khawatir.

“Adik saya udah waktunya tidur, kamu jangan ganggu waktu istirahat adik saya.” Telepon di tutup secara sepihak, ternyata Handphone Kayla di ambil oleh Januar.

Kenzo tersenyum simpul, lalu ia mengusap wajahnya kasar. “Bodoh Lo Ken,” rutuknya kepada dirinya sendiri.


Queen sudah sampai di mana anak warriors dan firework akan bertanding di track balapan. Ya benar bukan Kayla, namun Queen. Tapi Queen berusaha bersikap seperti Kayla agar tidak ada yang curiga. Sebenarnya itu sudah dia lakukan sedari tadi di sekolah, dan tidak ada yang menyadarinya.

“Hai Yasmin,” sapa queen dengan ramah seperti Kayla biasanya menyapa seseorang.

“Hai, ayo kita ke sana, bentar lagi bakalan di mulai,” Ajak Yasmin lalu di iyakan oleh Reva dan juga Queen.


Waktu berjalan dengan begitu cepat, pertandingan sudah di mulai. Anak warriors tidak semuanya turun pada pertandingan itu, hanya Kenzo, Elvano dan juga Raka.

Pertandingan sudah memasuki putaran terakhir, Hasmin memimpin pertandingan dengan memposisikan dirinya di peringkat pertama, di susul oleh Kenzo dan Elvano di peringkat dua dan tiga.

“Hasmin semangat! Kak Elvano semangat!” Teriak Queen menarik perhatian banyak orang.

“Sebenernya lo dukung siapa sih? Mereka berdua di kubu yang berbeda loh?” Tanya Yasmin keheranan.

“Siapapun itu yang penting bukan kak Kenzo, pasti Kayla dukung!” Jawab Queen dengan tegas.


Pertandingan berakhir, posisi pertama di tempati oleh Kenzo, dan di susul oleh Hasmin di posisi kedua dan Elvano di posisi ketiga.

Queen, Yasmin, Reva menuju ke belakang untuk menghampiri Hasmin. Namun Queen meminta izin untuk ke kumpulan Warriors, dan di setujui oleh Reva dan Yasmin.

Queen memasuki ruangan di mana anak-anak warriors telah berkumpul bersorak gembira atas kemenangan Kenzo.

Mereka terdiam sejenak ketika Queen masuk menghampiri mereka. Senyum Kenzo tidak dapat di tahan, ia tersenyum lebar ketika melihat Queen masuk ke dalam. Mungkin dia mengira bahwa itu Kayla, gadis yang sangat ia sayangi. Sayang sekali dia tidak tau bahwa yang sekarang di hadapan dia adalah Queen, pribadi Kayla yang lain, yang sangat ingin mencakar-cakar mukanya sekarang juga.

“Kak El, it's okay, juara tiga juga gak buruk!” Seru Queen dengan nada bicara ceria seperti Kayla.

Kenzo menarik kembali senyumannya ketika melihat Queen yang ternyata menghampiri Elvano.

Elvano tersenyum. “Iya Kay, makasih ya udah di semangati.” Elvano tersenyum lalu menyuruh Queen untuk duduk di sampingnya.

“Pulang bareng gue ya?” Ajak Elvano.

Queen mengangguk setuju, lalu ia melirik sekilas ke arah Kenzo yang sedang menekuk mukanya.


Setelah perjalanan 17 Jam menuju Spanyol, akhirnya Januar telah tiba di sebuah pelabuhan yang ada di negara itu.

Ia berjalan menuju dermaga di mana kapal berlabuh. Sesaat sampai dermaga mata Januar tertuju pada satu yacht lumayan besar di sana. Tidak ada lagi kapal selain kapal itu, dengan cepat ia melangkah masuk ke dalam kapal tersebut.

“look who's here,” Ucap seseorang yang sudah bersumpah darah dengan posisi berlutut menghadap Januar yang baru saja masuk ke kapal tersebut.

“Shut your mouth christian!” Perintah Yuda, namun Christan sama sekali tidak peduli dengan perintah Yuda.

“De'Luca Junior Still alive!” Serunya dengan kekehan.

Daffa sudah siap menembak kepala Christian dari belakang, namun ia menurunkan kembali pistolnya melihat kode dari Januar.

“Hai Christan, lama tidak berjumpa,” Sapa Januar basa-basi.

Chirstian terkekeh. “Sepertinya tuan ledoardo akan senang dengan berita yang akan ku sampaikan nanti,” Ucap Christan dengan bangga.

Januar terkekeh mendengar hal tersebut. “Pisau,” Kata Januar seraya menjulurkan tangannya meminta pisau.

Jeffery menyerahkan sebuah pisau ke tangan Januar. “Tarik,” perintah Januar untuk menarik katrol yang mengikat tangan Christian.

Dalam sekejap Christian sudah tergantung dengan badan yang sudah naked, dan banyak bekas cambukan di badannya.

Januar duduk di depan kaki sebelah kanan Christian. “Saya harap kamu bisa jalan setelah ini, dan sampaikan berita ini dengan bangga terhadap tuan mu,” kata Januar dengan nada yang sangat rendah.

Sreett

Dengan sekali goresan ia menarik pisau tersebut dari pangkal paha Christian sampai ke telapak kaki depan Christian, membuat kakinya mengeluarkan banyak darah.

“Arghhh, Fuck you !” Jerit Christian kesakitan.

Januar terkekeh, begitupula para araster Zone yang lainnya. Bahkan Marva tertawa terbahak-bahak melihat Christian kesakitan.

“Apa kalian sudah cukup?” Tanya Januar kepada mereka.

Mereka semua mengangguk. “Lebih dari cukup,” Jawab Yuda dengan smirk khas di bibirnya.

“Bawa itu kemari,” Suruh Januar. Dengan cepat beberapa bodyguard yang ada disana membawakan sebuah tempat duduk yang terbuat dari kayu dan menaruh di bawah kaki Christian.

Tidak cukup itu saja, dua bodyguard mereka yang lainnya membawakan dua box di tangan mereka masing-masing.

Januar berdiri lalu menatap Christian sejenak. “Just kill me De'luca Junior!” Pinta Christian dengan nada yang tersengal-sengal ketakutan.

Januar tersenyum dan menatap Christian dengan seksama. “Saya akan memberikan kamu sedikit hadiah Christian untuk kerja keras kamu selama ini,” Sahut Januar di tanggapi tawa oleh mereka yang ada di ruangan tersebut.

“Fuck you all!” Umpatnya lagi.

Januar terkekeh. “Urus lebihnya, saya mau mayatnya di kembalikan ke atasannya, lalu bersihkan Yacht saya,” Perintah Januar lalu keluar dari ruangan tersebut.

Dengan satu lirikan dari Tristan para bodyguard memahami kode tersebut. Dengan cepat mereka menurunkan sebuah box besar dan panjang transparan menutupi tubuh Christian, seakan-akan box itu adalah tameng antara dirinya dan para araster Zone di sana.

“Sudah tuan,” lapor bodyguard tersebut.

Tristan mengeluarkan sebuah toples yang berisikan anak-anak kelabang dengan jumlah yang sangat banyak di sana.

“Say hi ke anak-anak yang lucu ini Christian,” Kata Tristan sambil menunjukan toples yang ada di tangannya.

“No, please kill me, jangan siksa saya!” Jerit Christian memberontak.

“Okay, kami akan membunuhmu dengan cepat,” sahut Tristan lalu mengode ke saudaranya yang lain untuk sedikit menjauh dari sana.

Dengan cepat mereka melangkah mundur secara bersamaan. Tristan melempar toples yang ada di tangannya itu ke dalam box transparan yang ada Chirstian di dalamnya.

Toples tersebut pecah mengenai lantai, membuat anak-anak kelabang tersebut keluar dari toples dan menaiki box tersebut sedikit demi sedikit.

“Are you kidding me?” Tanya Chritian yang masih meremehkan keadaan.

Tristan terkekeh. “Of course no,” Jawabnya dengan tegas.

“Lihat ke atas Christian,” ucap Yuda.

Christian menatap ke atas. Di atasnya sudah ada box transparan berisikan kelabang, bukan anak kelabang dan juga kalajengking disana.

“Nikmati hadiah dari kami,” Ucap Daffa ke Christian.

“Fuck you!” Umpat Christian lagi.

Dwussss

Dengan sekejap serangga-serangga tersebut menyerbu dan memenuhi badan Christian. Bahkan anak-anak kelabang tadi sudah memasuki hidung dan juga segala lubang yang ada di tubuh Christian.

Mereka semua beranjak keluar dari ruangan tersebut, tidak ingin melihat hal itu lagi, karena sudah di pastikan Christian akan mati dalam sekejap, dan itu tidak asik bagi mereka.

“Good Job all,” puji Januar yang sedang menunggu mereka semua di luar.


Elvano tidak pernah berbohong dia benar-benar menjemput Kayla ke kelasnya. Kini mereka berdua berjalan menuju ke kantin lagi.

“Kak el, di sana banyak orang-orang gak? ” Tanya Kayla.

Elvano mengangguk. “Rame kan lagi pada rapat gurunya jadi rame,” Jawab Elvano tidak lupa senyuman di bibirnya.

Kayla memberikan senyuman kembali untuk elvano. Tidak terasa mereka sampai ke kantin. Di sana sudah ada anak warriors dan juga tidak lupa Laura.

“Hai kakak-kakak semua!” Sapa Kayla dengan ceria seperti biasa.

“Hai Kayla, cabut juga nih?” Tanya Aksa. Kayla menatap ke Elvano sambil mengerucutkan bibirnya.

“Guru rapat bukan cabut,” Jawab Elvano membuat Kayla tersenyum.

Kayla bergabung dengan mereka di kantin. Posisi duduk mereka, di bangku 1 ada Johan paling ujung kanan, ada Aksa lalu Kayla dan ada Elvano di ujung kiri. Sedangkan di depan mereka ada Haris di depan Elvano, Kenzo di depan Kayla, Laura di depan Aksa dan Raka di depan Johan.

Obrolan keluar dari mulut mereka semua, semua topik pembicaraan di bicarakan, namun tidak dengan Kenzo. Dia sedari tadi sibuk menatap Kayla yang sedang asyik dengan Elvano.

Kayla mengambil sebuah botol minuman di depannya, ia mencoba membukanya namun ia kesusahan. Kenzo hendak mengulurkan tangannya seraya berkata. “Sini gu-” Kenzo hendak menawarkan bantuan ke Kayla.

“Kak El, botolnya keras bantu buka,” pinta Kayla dengan manja.

Elvano tersenyum lalu mengambil botol yang ada di tangan Kayla dan membukanya lalu menyerahkan kembali ke Kayla.

Kenzo merasa sangat marah dengan keadaan sekarang, mungkin ia bisa di bilang cemburu? Biasanya Kayla akan manja pada dirinya, namun kini dia melihat gadis yang ia sayang bermanja-manja dengan sahabatnya sendiri.

Laura yang sedari tadi menatap Kenzo yang fokus ke Kayla juga merasa kesal, kenapa juga ia harus memikirkan Kayla?

“Ken, balik yuk,” ajak Laura sambil berbisik. Namun tidak ada jawaban dari Kenzo, ia masih fokus menatap Kayla yang asyik dengan Elvano.