Panglimakun

Jeno pov

Gue berada di sebuah perpustakaan, namun perpustakaan ini gue sewa untuk diri gue sendiri. Gue ingin keheningan dan kenyamanan.

Anehnya gue malah mendatangi perpustakaan, gue teringat suatu hal. 'lo tau gak Jen? Baca buku atau lihat buku itu bisa bikin setres hilang loh.' gue teringat apa yang di katakan Lucy.

Lucy?, Gue terkekeh pelan. “Apa kabar Lo luc? Lagi sekarat? Atau udah mati? Gue berharap Lo mati, mati bunuh diri dengan kepala yang pecah,” monolog gue sambil tertawa.

Gue mengambil sebuah buku dari rak buku yang ada di sini, lalu duduk di lantai. Gue hanya menatap buku itu, tidak membacanya. Gue bukan orang yang rajin membaca, bahkan gue bisa dibilang benci membaca.

“Semoga kita gak ketemu besok ya? Lo puas-puasin aja di neraka,” ucapku berharap.


Author POV

Ketika Jeno sedang melamun dan membolak-balik halaman buku yang ia pegang, tiba-tiba sebuah telepon masuk ke handphonenya, membuat lamunan ia pecah.

“Halo?” Sapanya.

”.......”

“Oh? Cepet juga, gue kesana, jangan di ganggu,” Ucap Jeno kepada sang penelepon.

Ketika sambungan telepon terputus, Jeno segera bangkit dan meninggalkan perpustakaan tersebut.

Winter kini berada di rooftop dimana biasa Lucy berada menenangkan dirinya sendiri.

Winter menatap bintang, bintang yang bersinar terang dibawah langit hitam yang gelap. Bulir air mata jatuh di pipinya, ia mengembangkan senyum di bibirnya.

“Bahkan gue gak pernah sesedih ini ketika gue kehilangan tim dulu, tapi kenapa gue merasa kehilangan Lo banget Lucy,” Monolog winter sambil memukul dadanya yang terasa sesak.

Ia membuka sebuah surat, surat yang ia dapat dari Johnny. Surat itu ia satukan dalam sebuah amplop, berisikan Surat, Foto, dan kertas terakhir dari Lucy yang bertuliskan terimakasih dari darahnya.

Ia menekuk lututnya, lalu memeluk lututnya sendiri. Menangis menyesal sedalam mungkin. “maaf!” Teriak Winter.

Jaemin yang baru saja sampai di tempat dimana winter berada, ia duduk di samping winter. Matanya tertuju pada sebuah amplop yang winter pegang.

Tanpa permisi Jaemin mengambil amplop tersebut, ia membukanya lalu membaca isi surat tersebut.

Muka Jaemin terlihat shock setelah membaca surat tersebut ia menoleh ke arah winter dimana keadaan winter yang sangat kacau, air mata memenuhi wajahnya.

Ia menarik winter kedalam pelukannya, menenangkan winter walaupun usaha itu malah membuat winter menangis semakin menjadi-jadi.

“Ini beneran?” Tanya Jaemin mengenai surat dan foto yang ia lihat.

Winter mengangguk di dalam pelukan Jaemin. Winter menarik tubuhnya menjauh Jaemin, lalu ia berdiri dan berteriak. “Lucy!! Awasi kita dari sana ya, sekali lagi maaf!” Jerit winter.

Ruang tengah terasa sepi, padahal Agent Irregular sudah berkumpul disana. Semua diam, tidak tau harus berbuat apa.

Semua mengkhawatirkan keadaan, mereka tidak tau harus bagaimana. Leader mereka, orang yang selalu ada di samping mereka kini satu hilang dan satu pergi untuk selamanya.

Mata winter tertuju pada sebuah pisau yang ada di meja di tengah-tengah sofa tempat mereka duduk. Ia segera beranjak dan mengambil pisau tersebut.

Jaemin yang sedari tadi melihat gerak-gerik winter, ia dengan sikap menahan winter yang berusaha menusuk dirinya sendiri.

“Awas Jae, gue mau nyusul Lucy, gue mau minta maaf sama mereka!” Jerit Winter, Jaemin tidak menghiraukan jeritan winter, ia memeluk Winter berusaha menenangkan rekannya sekaligus adik baginya.

Haechan dan Renjun hanya melihat aksi winter, mereka juta putus asa, frustasi.

“Udah ya? Kita mulai dari awal ya? Ada gue ada Haechan ada Renjun disini,” Ucap Jaemin menenangkan winter.

Winter mengangguk dengan air mata yang mengalir deras, dan suara tangisan sesegukan.

Aku sudah sampai di kantor sejak tadi, sekarang sedang menunggu kedatangan Pak Johnny.

Tak lama kemudian aku melihat kedatangan Pak Johnny, dengan segera aku bangkit dari kursi dan menyapa pak Johnny.

“Selamat pagi pak,” sapa ku seraya membungkuk.

Pak Johnny membalas sapaan ku dengan senyum manis mengembang di bibirnya. “Selamat pagi Raania, sudah Office tour kan?” Tanyanya.

Aku mengangguk. “Sudah pak tadi sama Dika, saya juga udah di kasih tau pekerjaan saya apa saja. Saya akan berkerja semaksimal mungkin!” Ucap ku dengan penuh semangat.

Pak Johnny sedikit terkekeh dengan ucapan diriku yang penuh semangat. “Terimakasih Raania, selamat bekerja,” kata pak Johnny lalu melangkahkan kakinya memasuki ruangan.

Aku tersenyum malu, entah kenapa muka ku terasa panas, aku berusaha mengipas muka ku dengan tangan. “Ayo Ran profesional!” Monologku.

Tanpa aku sadari Pak Johnny melihat tingkah aku dari jendela ruangannya.

“Lucu,” gumamnya.

Aku sudah sampai di kantor sejak tadi, sekarang sedang menunggu kedatangan Pak Johnny.

Tak lama kemudian aku melihat kedatangan Pak Johnny, dengan segera aku bangkit dari kursi dan menyapa pak Johnny.

“Selamat pagi pak,” sapa ku seraya membungkuk.

Pak Johnny membalas sapaan ku dengan senyum manis mengembang di bibirnya. “Selamat pagi Raania, sudah Office tour kan?” Tanyanya.

Aku mengangguk. “Sudah pak tadi sama Dika, saya juga udah di kasih tau pekerjaan saya apa saja. Saya akan berkerja semaksimal mungkin!” Ucap ku dengan penuh semangat.

Pak Johnny sedikit terkekeh dengan ucapan diriku yang penuh semangat. “Terimakasih Raania, selamat bekerja,” kata pak Johnny lalu melangkahkan kakinya memasuki ruangan.

Aku tersenyum malu, entah kenapa muka ku terasa panas, aku berusaha mengipas muka ku dengan tangan. “Ayo Ran profesional!” Monologku.

Tanpa aku sadari Pak Johnny melihat tingkah aku dari jendela ruangannya.

“Lucu,” gumamnya.

Agent Irregular lainnya baru saja sampai dimana Lucy di siksa habis-habisan, mereka mendapatkan informasi dari Taeyong, dan menyuruh menyelamatkan Lucy segera.

Renjun, Jaemin, Haechan dan juga Winter kini berada di depan pintu ruangan tersebut. Mereka terdiam sejenak ketika mendengar suara tembakan yang berasal dari dalam ruangan.

Kaki winter melemah, dia bahkan sampai kehilangan keseimbangan diri ketika mendengar suara tembakan itu. “Gak mungkin,” Gumam Winter sambil menutup mulutnya menggunakan kedua tangan.

Haechan membuka pintu ruangan tersebut, lalu mereka bertiga memasuki ruangan disusul oleh winter di belakangnya.

Semua terkaget melihat apa yang ada di ruangan tersebut. Jaemin terduduk lemas, Renjun yang tidak bernafas sama sekali melihat semua ini, Haechan sudah tidak bisa menahan tangisnya, begitu pula dengan winter, terduduk lemas tepat di depan jasad Lucy.

Yang mereka lihat adalah seorang wanita mirip seperti Lucy, badan, pakaian, dan juga aksesoris. Mirip? Iya mirip, karena Agent Irregular tidak dapat memastikan apakah yang mereka lihat adalah Lucy.

Jasad Lucy di temukan tanpa kepala, isi kepala yang berserakan, darah dimana-mana. Mereka yakin bahwa Lucy menembak dirinya sendiri ketika melihat sebuah pistol tergelatak disana.

Winter menghampiri jasad Lucy, ia memeluk badan Lucy, menangis tersedu-sedu. “Lucy maafin gue Lucy, semua gara-gara gue,” sesal winter.

Haechan tidak dapat menahan rasa sakit di dadanya, tangisannya semakin pecah, Renjun yang bisa mengendalikan diri ia berusaha menenangkan Haechan.

Begitupun dengan Jaemin ia bertugas menenangkan winter, yang sedari tadi menyesali perbuatannya di depan jasad Lucy.

Manik mata Jaemin tertarik pada sebuah kertas yang ada pada genggaman tangan jasad Lucy. Ia segera mengambil dan membuka. Kertas tersebut.

Jaemin meneteskan air mata ketika melihat isi dari kertas itu.

Thank you -Lucy

Ruangan tersebut penuh dengan isakan Agent Irregular yang masih bertahan, sampai beberapa saat kemudian datang beberapa orang suruhan Johnny dan mengambil jasad Lucy.

“Noooooooo,” teriak winter berusaha menahan, namun sia-sia. Kini jasad Lucy telah dibawa oleh orang suruhan Johnny.

Lucy yang tergeletak lemas ia berusaha sekuat tenaga untuk duduk, namun nihil dia tidak mempunyai tenaga, darah tidak berhenti keluar dari segala sisi tubuhnya.

Lucy menyeret tubuhnya mendekati tas yang ia bawa, ia ingin meredakan rasa sakit dan rasa sesak akibat trauma yang kembali datang. “Eugghhhh,” lenguh Lucy sekuat tenaga ia meraih tas nya.

Usahanya tidak sia-sia, ia mengeluarkan semua isi tasnya, melihat permen yang ia beli dengan Johnny membuat hatinya tersayat lebih sakit, ia mengambil permen tersebut namun tergelincir karena tangan Lucy tidak kuat untuk menahan.

Permen tersebut jatuh ke lantai mengenai darah yang membanjiri lantai. Namun sekuat tenaga Lucy meraih satu permen tersebut dan memasukkan ke dalam mulut, walaupun aneh rasanya tapi rasa sesak di dada Lucy sedikit berkurang.

Lucy menangis tersedu-sedu, ia tidak tau untuk melakukan apa sekarang. Ia hanya harus menunggu Malaikat menjemputnya sekarang.

“Sorry Jen....” Lirihnya.

Mengingat nama Jeno, Lucy melihat sekitar mencari keberadaan handphonenya. Setelah mendapatkan handphone tersebut, ia langsung mencari nama Jeno. Walaupun beberapa kali tangannya terjatuh karena lemah, namun Lucy terus berusaha.

“Jen...” Sapa Lucy setelah Jeno mengangkat telponnya.

“Kenapa Lo telpon gue? Disuruh? Mau nangkep gue? Orang lemah kayak Lo semua berani lawan BIN?” Tanya Jeno bertubi-tubi dengan nada yang sedikit emosi.

Lucy yang mendengar hak tersebut justru terlihat kaget, ia sama sekali tidak ingin melakukan hal itu ke Jeno.

“Help me...” Mohon Lucy dengan suara tangisannya.

“Gak usah ngedrama.”

“Jen...”

“Setelah Lo jual nama gue ke Johnny, sekarang gue ketahuan, Lo mau buat gue mati hah?” Bentak Jeno.

“M—maksud Lo?” Tanya Lucy kebingungan.

“Ck..” decaknya, “gak usah sok belagu, winter bilang ke gue kalo jalan sama Johnny kan? Apa yang dia kasih? “Her dick hah?” Sarkas Jeno.


Perkataan Jeno membuat Lucy menangis lebih keras, dadanya semakin sesak, bahkan permen tidak bisa memulihkan. Perkataan Jeno lebih sakit daripada cambukan yang atasan Choi berikan kepadanya.

“G—gue gak per—”

“Lo sama aja kayak pelacur kayak ibu Lo dulu Lucy, jalang, murahan Lo tau itu? Gak usah telpon gue lagi sekarang kita musuh, gue bakalan bunuh Lo suatu saat nanti,” ancam Jeno memotong perkataan Lucy.

Setelah itu sambungan telepon mereka terputus, Lucy menjatuhkan handphone dan tangannya ke lantai.

Apa lagi setelah ini? Apa yang akan Lucy terima? Masa lalu suram membuat masa depannya begini. Lucy meraih sebuah pistol yang ada di sampingnya.

Ia menarik pelatuk pistol tersebut, lalu mempointkan tepat di dalam mulutnya.

“Selamat datang neraka,” lirih Lucy seraya memejamkan matanya.

Dorr....

Winter adalah orang yang menyetrum Lucy, winter yang menjebak Lucy, winter yang memata-matai Lucy selama ini.

Hati Lucy terasa di belah ketika melihat orang yang di tunjuk oleh atasan Choi adalah winter.

Atasan Choi lagi-lagi mendekati bibirnya ke telinga Lucy. “Bagaimana jika trauma lama saya bangkitkan kembali? Kita lakukan hal yang sama?” Tanyanya dengan nada ancaman.

Dada Lucy terasa sesak, ingatan masa lalu, trauma masa lalu kembali mendatangi pikirannya. Ia sangat ketakutan, namun tidak ada yang bisa membantunya sekarang.

Lucy memberanikan diri untuk menatap mata atasan Choi, walaupun dengan tatapan sayu dan lemah Lucy berusaha untuk mempertajam tatapannya. “Fuck you,” umpat Lucy seraya meludah ke muka atasan Choi.

Kesal atas perbuatan Lucy, atasan Choi menampar wajah Lucy dengan sangat keras, membuat darah mengalir deras dari hidung Lucy.

Pasrah dengan apa yang ia terima, Lucy kembali mendongak dan menatap mata atasan Choi yang terlihat kesal. “Just.... Just fucking kill me!!!” Pasrah Lucy dengan teriakan kesal, ketawa dan tangisan menjadi satu. “Please......” Mohon Lucy.

Atasan Choi terkekeh, lalu ia melihat ke arah bodyguard dan winter beserta Johnny yang ada disana. “Please she said, y'all,” sarkas Atasan Choi membuat beberapa bodyguard yang ada di sana tertawa, kecuali Johnny dan winter yang hanya menunduk.

“Okey,” tuturnya lalu ia mengulurkan tangan ke salah satu bodyguardnya, bodyguard tersebut memberikan sebuah pistol, dengan cepat atasan Choi mempoint pistol itu tepat di depan kepala Lucy.

Dengan dada yang terasa sangat sesak, Lucy pasrah dengan keadaan. Ia memejamkan matanya, jika memang hari ini nyawanya di ambil maka dari itu akhir penderitaan Lucy ada di sini.

Atasan Choi menarik pelatuk pistol tersebut. Johnny hendak menghampiri atasan Choi, namun ia takut sangat takut.

Lucy membuka matanya, lalu ia menatap mata winter walaupun winter berusaha menghindar. “Thank you.....” Gumam Lucy bahkan hampir tidak terdengar.

Brughhh

Suara dobrakan pintu yang di buat oleh Taeyong membuat seisi ruangan kaget. “S—saya tau, Jeno, Jeno yang berkhianat dia BIN,” ucap Taeyong dengan nafas tersengal-sengal.

“Fuck...” Umpat atasan Choi, lalu ia menurunkan pistol yang mempoint ke kepala Lucy. “Lepas ikatannya,” perintah atasan Choi.

Bodyguard tersebut dengan cepat melepas rantai yang mengikat tangan Lucy, membuat Lucy jatuh tergeletak lemas di lantai.

“Kumpulin semua Agent Regular di ruang rapat,” kata Atasan Choi kepada Johnny. “Dan kamu ikut,” tunjuk atasan Choi ke winter.

Atasan Choi hendak melangkahkan kakinya keluar, disusul oleh beberapa bodyguardnya. Johnny hendak menghampiri Lucy namun sia-sia.

“Jangan ada yang membantu dia, biarkan dia mati kehabisan darah,” ancam atasan Choi, lalu semua orang keluar dari ruangan tersebut kecuali Lucy yang menahan semua sakit.

Lucy membuka sedikit matanya, dengan perlahan ia membukanya, karena ia merasakan sangat sakit.

Kini Lucy menyadari bahwa tubuhnya sedang di ikat, dan benar saja tangan Lucy di ikat pada rantai yang dimana rantai tersebut tersambung pada sebuah katrol.

Melihat Lucy yang sudah tersadar, Seorang pria berbadan besar, yang di kenal sebagai atasan Choi menyuruh anak buahnya menarik katrolnya keatas. Membuat badan Lucy tergantung.

Keadaan Lucy sangat-sangat memperhatikan, banyak darah yang menetes dari tubuhnya. Sakit? No, sangat sakit, itu yang ia rasakan. Bahkan menangis pun tidak bisa memulihkannya.

“Turunkan,” Perintah atasan Choi.

Bodyguard yang memegang kendali katrol tersebut, menurunkan Lucy dengan kasar, membuat Lucy jatuh terduduk lemas, dengan tangan di atas yang masih terikat.

Plakk

Satu cambukan mengenai punggung Lucy. Membuat Lucy meringis kesakitan untuk yang kesekian kalinya.

Atasan Choi berlutut di depan Lucy, atasan Choi mengangkat dagu Lucy menggunakan pisau yang ia pegang.

“Bagaimana rasanya Lucy? Luka lama kembali? Siapa yang berkhianat?” Tanya atasan Choi dengan nada sangat tajam.

Lucy menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak berniat menjawab, dia tidak akan mengadu bahwa Jeno lah yang berkhianat, dia tidak mau Jeno kenapa-kenapa lebih baik dia yang tersiksa.

Srreeekkk

Satu goresan panjang berhasil di ukir oleh pisau yang ada di tangan atasan Choi.

“Arrghhhh,” ringis Lucy kesakitan. Kini lantai ruangan tersebut akan di banjiri oleh darah Lucy sebentar lagi.

Lucy berusaha menegakkan kepalanya, ia melihat kedepan, disana ada Johnny dan juga Winter. Melihat adanya winter, Lucy sedikit lega, winter dalam keadaan baik-baik saja.

Lucy menatap mata winter, dengan tatapan melas Lucy memohon. “Help.....” Lirih Lucy, dengan nada kecil.

Atasan Choi melihat Lucy dengan muka mengejek, lalu ia mendekat bibirnya ke telinga Lucy. “Tidak akan ada yang membantu kamu, kamu tau siapa yang menyetrum kamu?” Bisik atasan Choi.

Lucy mengikuti kemana tangan atasan Choi menunjuk seseorang. “Dia,” Lanjut atasan Choi dengan posisi yang sama.

Air mata yang sedari tadi Lucy tahan, kini semakin deras membasahi pipinya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ini akan terjadi.

Aku keluar dari ruangan dokter Kun dengan tangan yang memegang dua obat.

“Kanan malam, kiri siang, kiri siang, kanan siang eh?” Monologku. “Ini jadinya kiri atau kanan yang siang?” Tanyaku pada diri sendiri.

Karena tidak mau salah, akhirnya aku memutuskan untuk putar balik ke arah ruangan dokter Kun.

Namun pada saat aku berputar balik, pandangan ku bertemu dengan seseorang yang sangat familiar, ia dia Jeno aku gak salah lihat.

Namun ada apa dia di rumah sakit? Dan siapa cewe yang sedang ia rangkul sekarang?

Netra aku dan Jeno bertemu, dengan cepat aku memalingkan wajahku, dan berjalan menuju ruangan dokter Kun, dimana aku harus lebih mendekat dengan posisi Jeno sekarang.

“Kiran—” Jeno hendak menyapa aku , namun aku tidak menghiraukan, aku dengan segeea menghampiri dokter Kun yang berada di belakang Jeno.

Dokter Kun yang melihat kedatangan ku, dia sedikit kaget. “Ada apa Kirana?” Tanyanya.

Aku menunjukkan dua botol obat yang aku bawa tadi. “Yang mana siang, yang mana malam?”

Dokter Kun menghela nafasnya. “Ini siang, ini malam, kan ada tulisany Kirana,” Geram Dokter Kun.

“Jelek,” ejekku lalu segera melangkahkan kaki menjauh dari dokter Kun. Tentu saja setelah berpamitan.

Aku melangkahkan kaki dengan cepat, tujuanku agar bisa terhindar dari Jeno. Namun sayang tangan ku berhasil di tahan oleh Jeno.

“Sorry,” ucapnya, aku segera melepaskan tangan Jeno yang menggenggam tanganku.

Ketika aku berusaha sekencang mungkin menjauh dari jeno, tiba-tiba dadaku terasa sesak, pandanganku buyar. Dan detik kemudian.

Dug....

Aku terjatuh pingsan, samar-samar aku melihat beberapa orang membantuku begitu juga dengan dokter Kun. Namun tidak dengan Jeno, ia melihat jelas aku terjatuh, tapi ia pergi bersama cewe yang ada disampingnya dengan buru-buru.


“Kak Jaemin bangun,” ucap cewe tersebut. Jeno baru saja hendak melangkahkan kakinya membantu Kirana. Namun ketika ia mendengar kata Jaemin, ia segera mengurungkan niatnya.